Last Chapter

986 Kata
Last Chapter Stop running away from me You know that I love you, right?   What day is it? And in what month? This clock never seemed so alive I can't keep up and I can't back down I've been losing so much time   Cause it's you and me and all of the people With nothing to do, nothing to lose And it's you and me and all of the people And I don't know why I can't keep my eyes off of you  (Lifehouse – You and Me) Arisa berkali-kali memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan Ken sepanjang lagu. Sepanjang penampilannya, Ken hanya menatap ke satu titik, dan sialnya, itu adalah Arisa. Bahkan murid-murid lain mulai ikut menoleh ke arahnya karena ulah Ken. Namun, jika Arisa meninggalkan aula sekarang, besok mungkin ada cerita baru lagi tentang Ken dan dirinya. Dan ia sudah tak tahan mendengar cerita-cerita bodoh tentang mereka. Cerita-cerita itu justru membuat Arisa semakin merasa bersalah pada Ken. Arisa menarik napas dalam. Pada akhirnya, Ken tahu tentang perasaannya. Jika tidak, dia tidak akan berkata seperti itu saat penampilan mereka beberapa minggu lalu di aula ini. Arisa sama sekali tidak menyangka, Ken akan mengatakan itu. Dia bahkan mengatakan di depan semua orang bahwa ia menyukai Arisa. Meski ia sudah meminta Arisa untuk berhenti menyembunyikan perasaannya, tapi Arisa bahkan tak sanggup membalas kata-katanya. Arisa menyadari, semakin lama terlibat dengan Ken, ia justru semakin terluka. Ia tidak ingin merasakan sakit seperti itu lagi, saat Ken meninggalkannya di stage. Ia tidak ingin merasakan sakit seperti itu, hanya dengan melihat sorot luka di mata Ken. Meski begitu, pada akhirnya ia juga mengungkapkan perasaannya pada Ken, meski Ken tidak ada di sana untuk mendengarnya. Namun tentu saja, Arisa tidak akan pernah mau mengakui perasaannya jika Ken masih ada di sana. Untungnya, tak satu pun teman-teman sekelasnya yang tahu apa maksud permainan piano Arisa di akhir penampilannya. Mereka pikir, Arisa hanya melakukan itu untuk memperbaiki drama mereka yang kacau karena confession dadakan Ken. Namun, mereka tidak tahu apa pun tentang Ken ataupun Arisa. Setelah insiden itu, Arisa tidak lagi sanggup menatap Ken. Karena ia khawatir, jika menatap cowok itu, ia akan menangis saat itu juga. Berada sejauh mungkin dari Ken adalah pilihan terbaik yang diambilnya. Ia tidak ingin terluka lagi, dan ia juga tidak ingin melihat Ken terluka lagi. Ia ingin segalanya kembali seperti semula, ketika hanya Arisa yang tahu tentang perasaannya, ketika Arisa tidak perlu terluka atau membuat Ken terluka karena menyukai cowok itu. Hanya itu yang ia inginkan. Suara tepuk tangan di seluruh aula menutup penampilan Ken, Dio dan Rey. Arisa baru saja bernapas lega karena berpikir itu sudah berakhir ketika suara Ken kembali menggema di aula. “Sorry,” Ken berkata, membuat seisi aula bingung. Namun, Arisa tahu kata itu ditujukan untuknya karena Ken menatapnya lekat. Apa yang akan ia lakukan? Panik, Arisa bergegas bangkit dari duduknya untuk meninggalkan aula, tapi kemudian, ia mendengar melodi yang tak asing. Ia berbalik dan napasnya tertahan saat Ken memainkan River Flows in You dengan petikan gitarnya. Lagi, cowok itu mengungkapkan perasaannya pada Arisa di depan semua orang. Tahukah Ken, Arisa menjauh darinya bukannya tanpa alasan? Mereka berdua akan semakin terluka jika Arisa menyatakan perasaannya. Tidak ada jaminan mereka bisa bersama selamanya, dan bahagia. Mereka justru akan menyakiti satu sama lain. Itu yang selalu Arisa lihat, dan belakangan ia rasakan. Ini bukan fairytale. Apa yang Ken harapkan? Di akhir penampilannya, Ken kembali menatap Arisa. Saat itulah, Arisa berbalik, bergegas meninggalkan aula. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? *** Ken menurunkan gitar sebelum melompat turun dari stage dan menyusul Arisa. Cewek itu tampak terkejut ketika berbalik dan mendapati Ken menangkap lengannya tepat di luar aula. “Sampai kapan lo mau ngehindarin gue?” Ken berkata. Ken merasakan sakit yang sudah semakin akrab ketika Arisa memalingkan wajah, untuk kesekian kalinya dalam satu jam terakhir. “Sori kalo gue udah nyakitin lo selama ini. Dan sori, karena gue udah egois banget. Meski gue tau gue udah nyakitin lo, gue tetap nggak bisa ngejauh dari lo,” ucap Ken. Arisa akhirnya kembali menatapnya, tampak terluka. Apa Arisa tahu, itu juga menyakiti Ken? “Jangan dilanjutin lagi, Ken,” ucap cewek itu putus asa. “Gue juga nggak mau liat lo terluka lagi. Gue tau ini juga nyakitin lo. Karena itu …” “Jangan bilang lo ngehindarin gue karena nggak mau gue terluka,” sela Ken. Arisa hendak memalingkan wajah, tapi Ken menahan dagunya. “Is that your confession, Ari-chan?” Ken tak dapat menahan senyum. “Gue serius, Ken.” Arisa menarik diri. “Gue nggak mau …” Ken tak memberikan kesempatan Arisa melanjutkan alasan tak masuk akalnya dan berkata, “I’ll be fine as long as you’re with me.” Arisa menatap Ken ragu. “Gue bakal jagain lo dan selalu ada buat lo, Arisa,” janji Ken. Ia mengulurkan tangan, menyerahkan janjinya. “Would you be my girl, Ari-chan?” Arisa menatap tangan Ken, dan Ken yakin cewek itu akan menolak. Maka ia memutuskan meraih tangan Arisa dan menggenggamnya. Arisa melotot kaget. “Kalo gue janji, gue nggak bakal ngelepasin lo dan bakal nikah sama lo pas kita udah dewasa nanti, apa lo bakal nerima gue?” tembak Ken. “Kalo nggak, lo boleh pergi. Nggak masalah. Tapi gue bakal terus ngejar elo. Sampai nanti kita kuliah, sampai nanti kita kerja. Yang mana pun pilihan lo, nggak masalah. Itu nggak bakal ngubah keputusan gue tentang elo,” lanjut Ken. “Apa lo nggak takut bakal terluka karena gue? Bahkan setelah kemaren?” sebut Arisa.  Ken tersenyum. “Nggak masalah. Selama lo ada di samping gue,” balas Ken. “Jadi, yes or no?” tuntutnya. Arisa berdehem. “Tadi lo bilang, yang mana pun nggak masalah,” ucapnya pelan. Ken tersenyum. “Ini hari pertama kita, ya?” Arisa tak menjawab, tapi juga tak menolak. Dan Ken tak butuh ribuan kata atau penjelasan lainnya. End Special thanks to: Got 7   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN