Chapter 2

2522 Kata
Chapter 2 Trust you? I do. All the time.   “Kaki lo kenapa?” tuntut Dio ketika melihat memar di kaki Yura. Cewek itu meringis. “Nabrak meja.” Dio menghela napas berat. Ia menatap Rey dan Aira, menuntut penjelasan. “Gue nggak pa-pa, kok,” Yura berkata cepat. “Rey sama Aira juga nggak tau kalo kemaren gue nabrak meja. Baru tadi pagi mereka taunya.” Dio kembali menghela napas berat, tapi tak mengatakan apa pun lagi. Dio tidak akan membuang waktu untuk mengingatkan Yura untuk berhati-hati, karena ia sudah terlalu sering mengatakan itu dan sama sekali tak ada perubahan. Terkadang, tubuh Yura memang seolah bukan tubuhnya sendiri. Yura hanya sedikit terlalu ceroboh. Tingkat kecerobohannya benar-benar di atas rata-rata. “Gue bakal lebih ati-ati lagi,” tambah Yura. Dio tidak terlalu banyak berharap dengan itu. “Eh, weekend main bareng, yuk? Sekalian kalian bisa double date,” usul Aira tiba-tiba seraya menunjuk Yura, Dio, Ken dan Arisa. Ken menatap Arisa, meminta persetujuan, dan menyetujui ajakan Aira begitu Arisa mengangguk. Sementara Dio, tanpa perlu bertanya pada Yura, sudah menjawab, “Gue nggak bisa. Yura harus istirahat.” Aira menatap Yura yang duduk di sebelah Dio, tampak ragu. “Tapi Yura … kayaknya pengen tuh,” sebutnya. Dio menoleh ke arah Yura dan cewek itu langsung menggeleng cepat. “Kalo lo nggak mau juga nggak pa-pa, kok,” ucapnya. Dio menyipitkan mata. “Lo pengen pergi?” tebaknya. Yura meringis. “Kalo lo sibuk … gimana kalo gue pergi sendiri aja ama anak-anak?” tanyanya hati-hati. Dio mendengus tak percaya. Teman-teman mereka akan terlalu sibuk bersenang-senang untuk mengurus Yura. Dan Dio tahu Yura pasti akan membuat dirinya terluka, dengan cara apa pun, tanpa ada yang mengawasinya. Terakhir kali Yura pergi ke mall hanya dengan Aira dan Rey, ia menumpahkan minuman ke pakaiannya sendiri karena terlalu banyaknya orang di mall. “Lo udah kecapekan gara-gara belajar sepanjang minggu. Lo istirahat aja di rumah,” ucap Dio. “Tapi, gue kan, juga pengen refreshing,” gumam Yura pelan sembari memalingkan wajah dari Dio. Dan Yura selalu kesal jika Dio mengatakan bahwa dia masih merengek, tapi lihat bagaimana dia merengek. Dio mendengus tak percaya melihat bagaimana Yura bahkan memutar badan dari Dio. “Oke, oke, kita pergi,” Dio mengalah, membuat Yura kembali menatapnya dan tersenyum lebar. “Thanks,” ucapnya riang. Dio menatap Aira. “Kita mau ke mana?” “Surprise,” balas Aira. Dio menyipitkan mata curiga. “Kalo lo bawa kita ke tempat aneh …” “Nggak, lah …” tukas Aira. “Weekend besok kita bakal seneng-seneng,” janjinya. Entah kenapa, Dio mendapat perasaan tidak enak tentang ini. *** “Lo bilang … karena gue udah punya cowok … gue bakal baik-baik aja …” Yura masih sesenggukan. Dio sempat melirik kesal ke arah Aira yang meringis penuh sesal. Ia tahu hal seperti ini akan terjadi. Semuanya tidak akan sekacau ini jika Aira tidak memaksa Yura mencoba salah satu wahana yang selalu dihindarinya setiap kali mereka pergi ke taman hiburan. Kali ini, akhirnya Aira berhasil membujuk Yura dan membuat cewek itu mencoba roller coaster, dan berakhir dengan Yura menangis dan muntah-muntah setelahnya. “Makanya, gue udah bilang kan, jangan dengerin Aira,” desah Dio seraya mengusap air mata Yura. Yura menatap Dio, lalu kembali menangis. “Tapi kan, ada elo …” Dio menatap Yura lembut. “Iya, ada gue. Makanya, jangan nangis lagi, oke?” Yura mulai menghentikan tangisannya meski ia masih sesenggukan. “Mau beli es krim coklat favorit lo?” Dio membujuk. Yura mengangguk antusias. Perlahan, cewek itu mulai tenang. “Abis itu, kita jalan-jalan ke seaworld aja, ya?” pinta Yura. Dio tersenyum dan mengangguk. Cewek ini pasti ingin segera melupakan kenangan mengerikan barusan. Dan ini membuat Dio semakin mengkhawatirkannya. Yura sangat takut dengan ketinggian. Yura bahkan cukup takut saat harus menaiki tangga sekolah ketika mereka mendapat kelas di lantai dua di tahun pertama sekolah mereka. Dio khawatir, setelah kejadian ini, ketakutan Yura justru semakin parah. Ia juga khawatir, ia tidak akan bisa berhenti mengkhawatirkan Yura. Rasanya, Dio tak bisa melewatkan satu detik pun tanpa mengkhawatirkan cewek itu. *** Dio benar-benar puas ketika akhirnya mereka keluar dari wahana rumah hantu. Sementara Yura tampak terhibur, Aira sudah pucat dan nyaris pingsan. Bahkan di dalam tadi, Yura masih sempat-sempatnya menakut-nakuti Aira hingga cewek itu menangis ketakutan. Melihat ekspresi Aira saat ini, Dio memutuskan untuk memaafkan Aira setelah apa yang dia lakukan pada Yura. Lagipula, karena tadi Rey tidak ikut ke dalam karena sedang membeli makanan dan minuman untuk mereka bersama Ken dan Arisa, Aira benar-benar sendiri di dalam tadi. Biasanya, ia tidak akan setakut ini karena ada Rey. Namun tampaknya, hari ini memang bukan hari keberuntungan Aira. “Awas aja lo, Ra,” ancam Aira begitu ia sudah tenang dari ketakutannya, berkat bantuan dan keberadaan Rey, tentu saja. “Besok-besok gue bawa lo naik kereta gantung.” Seketika, Yura tampak panik. Dio meraih bahu Yura dan menarik cewek itu mendekat. “Coba aja. Liat aja apa lo masih bisa ngomong gitu abis gue tantangin lo uji nyali di sekolah,” Dio membalas Aira. Aira menatap Dio sengit. “Tau gini, nggak bakal gue bolehin deh, elo yang jadi cowoknya Yura.” Dio tersenyum geli. “Tapi Dio ama Yura tuh, mau pacaran atau nggak, nggak ada yang berubah,” celetuk Ken. “Iya,” Rey setuju. “Kayaknya Yura beneran nggak bakalan bisa deh, tanpa Dio.” “Nggak, kok,” sergah Yura. “Gue juga bakal baik-baik aja meski tanpa ngerepotin Dio. Iya, kan?” Yura menatap Dio, meminta dukungan. Dio berusaha tersenyum menanggapinya, meski dalam hati, entah kenapa ia tidak terlalu suka mendengar itu. “Tenang aja, pasti ada saatnya di mana akhirnya gue bisa jaga diri sendiri tanpa perlu ngerepotin elo,” lanjut Yura sungguh-sungguh. Dio mengangguk kaku. Ia bahkan tidak yakin ia bisa berhenti mengkhawatirkan Yura bahkan meski saat itu tiba. *** “Di rumah sendiri? Yura?” Dio tak bisa menyembunyikan keterkejutan mendengar kata-kata Aira di telepon. “Nyokapnya?” “Di kafe, katanya. Nyokapnya buka kafe baru beberapa bulan lalu. Dan kayaknya … mulai itu dia sendirian mulu di rumah,” lanjut Aira. “Gue tadi cuma mampir bentar karena kebetulan lewat dan abis itu gue langsung balik. Gue ada acara di rumah,” sambungnya cemas. Dio mendesah berat. “Gue ke sana sekarang,” putusnya sebelum menutup telepon. Dio menyambar jaket dan dompet sebelum melesat meninggalkan kamar. Ia menyempatkan pamit pada mamanya sebelum berlari keluar menuju rumah Yura. Rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Karena itulah, ia selalu berangkat bersama dengan Yura. Hanya saja, berbeda dengan Aira dan Rey yang sudah saling mengenal sejak mereka TK, Dio bertemu dengan Yura pertama kalinya saat SMP. Alasan Dio bisa dekat dengan Yura saat ini adalah karena ia tak bisa meninggalkan Yura sendiri tanpa khawatir. Tidak hanya takut ketinggian, Yura juga takut sendirian. Ia benci sendirian. Saat ia masih kecil, ia pernah ditinggal di rumah sendiri karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Papa Yura bekerja di luar kota dan hanya pulang setiap dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali, sementara mamanya sibuk mengurus kafe. Saat itulah, ia jatuh dari tangga. Sejak saat itu, Yura takut ketinggian, ia benci tangga, dan ia tidak bisa sendirian. Dan Dio tak mengerti bagaimana orang tua Yura bisa melupakan hal sepenting itu. *** Yura tampak terkejut ketika melihat Dio yang terengah kehabisan napas di depan pintu rumahnya. “Lo … ngapain di sini?” gagap Yura. “Aira nelpon gue. Lo di rumah sendirian? Nyokap lo di mana? Bokap lo nggak pulang?” rentet Dio. Yura mengerjapkan mata. “Papa mungkin baru bisa pulang bulan depan, dan Mama … buka kafe lagi. Karena itu …” “Kenapa lo nggak bilang ke gue?!” bentak Dio. Yura sampai tersentak kaget karena tiba-tiba Dio membentaknya. Dio mendesah lelah seraya maju dan memeluk Yura. “Sori, gue nggak maksud bikin lo kaget atau takut,” sesalnya. Yura mengangguk dalam peluknya. Begitu Dio melepaskannya, Yura menatap Dio lekat. “Lo juga masih inget?” tanyanya. Dio mendengus tak percaya. “Lo nangis ketakutan di sekolah sendirian sampai sore gara-gara belum dijemput. Lo sampai nggak berani turun lewat tangga sendiri.” Yura tersenyum malu. Saat itu, di tengah ketakutannya, Dio masuk ke kelas, tampak terkejut, dan juga cemas. Tak peduli berapa kali pun Dio bertanya, Yura tak bisa menghentikan tangisnya. Sampai Dio memeluknya, mengusap lembut kepalanya, menenangkannya. “Kenapa lo nggak ngomong ke gue, Ra? Seenggaknya ke Aira, lah,” Dio berkata.  “Gue nggak mau ngerepotin elo, Dio. Masa weekend juga gue mau ngerepotin elo terus,” aku Yura. Yura bahkan mengabaikan permintaan mamanya untuk meminta teman-temannya menemani mereka karena alasan itu juga. “Dan lagi, kalo gue ngomong ke Aira, toh akhirnya bakal kayak gini juga,” balasnya seraya mengedikkan kepala ke arah Dio. “Lo ke sini tadi lari?” tanya Yura, mengingat bagaimana Dio terengah kehabisan napas saat tiba tadi. Anggukan Dio membuat Yura semakin merasa bersalah. “Kita mau berdiri di sini sampai kapan, nih?” Pertanyaan Dio itu membuat Yura tersadar bahwa mereka masih berdiri di depan pintu. Yura tak mengatakan apa pun ketika memberi jalan pada Dio untuk masuk. “Lo mau minum apa?” tanyanya seraya hendak berlalu ke dapur. “Ra,” panggil Dio seraya menahan lengan Yura. Yura berbalik. “Lo nggak pa-pa?” Dio bertanya, kecemasan terdengar jelas dalam suaranya. Yura tersenyum. “Nggak pa-pa, kok,” jawabnya. “Udah empat bulan sih, jadi gue mulai terbiasa. Kalo gue pake buat belajar, gue jadi lupa kalo gue sendirian. Jadi … nggak pa-pa.” “Terus aja bohong,” dengus Dio. Yura merengut. “Abis gimana dong? Gue juga nggak mau ngerepotin elo terus, kan,” ia membela diri. Dio menarik Yura mendekat. “Gue nggak pernah ngomong gitu, kan?” Yura menatap Dio yang sudah tersenyum padanya. Ketika tangan Dio mendarat di puncak kepalanya, mengusap lembut, ketakutan Yura lenyap. Hanya sebentar … sebentar lagi saja, Yura berjanji pada dirinya sendiri. Ia sudah menahan ketakutannya selama beberapa bulan terakhir. Ia berusaha menjadi lebih kuat demi mama dan papanya, juga teman-temannya. Namun, dengan Dio berdiri di depannya saat ini, sebentar saja, Yura ingin menjadi egois. Sebentar saja, ia tidak ingin merasa ketakutan lagi. Sebentar saja …. *** “Nayura!” Teriakan Aira membuat Yura sontak bersembunyi di balik punggung Dio. “Ai, ntar aja deh,” lerai Dio. “Diliatin yang lain, tuh.” Aira masih tampak kesal, tapi ia mengalah dan mendahului mereka meninggalkan pelataran parkir. “Gue bilang juga apa,” celetuk Yura. “Harusnya tadi gue bolos aja.” Dio mendengus geli seraya menarik Yura meninggalkan pelataran parkir, menyusul Aira yang sudah bersama Rey, Ken dan Arisa di pintu keluar pelataran parkir. “Ntar kalo Aira …” “Nggak akan,” Dio memotong. “Lo udah nggak percaya ama gue?” Yura tersenyum mendengarnya. Sekali lagi, ia membiarkan dirinya bersandar pada Dio. Ia hanya tak bisa mengelak dari tawaran Dio. Lagi. *** “Yura cuma nggak mau kita khawatir, jadi jangan terlalu keras ama dia,” Dio berkata pada Aira yang masih menatap Yura tajam. “Lagian, kemaren kan, gue juga udah nemenin dia. Besok-besok juga dia bilang, dia bakal manggil gue kalo dia sendirian di rumah.” Yura mengangguk menegaskan pernyataan Dio. “Lo …” Aira menuding wajah Yura. “Gue janji,” Yura memotong. “Gue bakal nelpon Dio kalo ada apa-apa. Jangan marah lagi, hm?” pintanya. Aira mendesis kesal, tapi ia tidak lagi mengomel. “Ya udah, gue balik kelas dulu, ya?” pamit Dio kemudian. “Eh?” Yura kontan menahan lengan Dio. Ia melirik Aira panik. Aira mendengus geli. “Sekarang lo ngumpet terus di belakang Dio?” Yura memberengut. “Lo balik aja ke kelas lo, Yura biar gue yang urus,” Aira berkata pada Dio. Yura mencengkeram lengan Dio semakin erat mendengarnya. Dio tertawa kecil seraya melepaskan pegangan Yura. “Nggak pa-pa, Ra. Dia nggak bakal ngomel-ngomel dan marahin lo lagi. Kecuali dia mau rahasia masa SMP-nya kesebar di sekolah,” ucapnya geli. Aira mendesis pada Dio. “Awas aja kalo lo sampai nyebarin gosip macem-macem. Gue siksa nih, Yura lo,” ancamnya. Dio tersenyum. “Gue titip Yura, ya?” ucapnya seraya menepuk lembut kepala Yura sebelum meninggalkan kelas Yura. Yura menatap punggung Dio hingga sosoknya menghilang di koridor. “Nayura,” panggil Aira tajam. Yura berbalik ke bangku belakangnya, menatap Aira hati-hati. “Wah … gue jadi khawatir, nih. Apa yang bakal lo lakuin kalo nggak ada Dio, hm?” Aira tersenyum geli. Yura menggigit bibir. Ia sendiri juga tidak tahu apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Ia … akankah baik-baik saja tanpa Dio? *** Yura berjinjit, berusaha mengambil buku di bagian paling atas rak perpustakaan. Yura mulai melompat ketika usahanya tak juga berhasil. Yura terpaksa menghentikan usahanya ketika tangan lain meraih buku yang diincarnya. Yura memutar tubuh untuk melihat si pemilik tangan. “Sori, tapi gue butuh buku itu,” Yura berkata pada sosok tinggi di hadapannya. “Jadi … Alfon?” Yura kaget mendapati bahwa saingannya adalah Alfon. Alfon tersenyum seraya menyerahkan buku itu pada Yura. “Nggak perlu pake cara ribet buat ngucapin makasih,” ucapnya geli. Yura tersenyum malu. “Thanks,” ucapnya. “Tumben lo sendirian? Pengawal-pengawal lo?” Cara Alfon menanyakan Aira dan Rey membuat Yura meringis. “Mereka sahabat-sahabat gue, bukan pengawal,” koreksi Yura. “Gue minta mereka ke kantin duluan soalnya gue perlu buku ini,” lanjutnya seraya mengangkat buku di tangannya. “Kalo cowok lo?” Alfon mengangkat alis. Yura bahkan belum sempat menjawab ketika suara lain menjawab dingin, “Gue di sini.” Yura menoleh dan mendapati Dio yang berjalan menghampiri mereka. “Jadi, jauh-jauh lo dari cewek gue.” Dio menarik Yura ke arahnya. “Kalo lo sekasar itu sama cewek lo, jangan salahin dia kalo ntar dia lebih milih cowok yang lebih baik,” balas Alfon santai. “Lo urusin aja urusan lo sendiri,” kata Dio tajam pada Alfon. Alfon mengedikkan bahu, lalu menatap Yura, tersenyum. “Kalo lo butuh apa-apa, lo bisa panggil gue,” ucapnya sebelum berlalu meninggalkan mereka. Lagi-lagi, Yura belum sempat menjawab ketika Dio membalas dengan keras, “Dia udah punya cowok! Jadi, kalo dia butuh sesuatu, dia bakal manggil gue, dan bukan elo!” “Let’s see,” balas Alfon, masih sesantai sebelumnya. Dio sudah berbalik hendak mengejar Alfon dan Yura buru-buru memeluk lengannya. “Dia cuma bercanda,” Yura memberikan pembelaan. “Lo …” “Please.” Yura menatap Dio dengan tatapan memelas terbaiknya. “Sekarang semua ngeliatin kita, tuh.” Yura mengedik ke belakang Dio. Dio menoleh ke belakang dan di ujung rak sana, beberapa murid yang juga ada di perpustakaan tampak tertarik memperhatikan mereka. Dio menghela napas berat. “Sori,” ucapnya penuh sesal. Ia tak mengatakan apa pun lagi saat membawa Yura meninggalkan perpustakaan. Yura menatap punggung Dio muram. Apa Dio juga sadar apa yang baru saja dia lakukan? Dia mengakui tentang hubungan mereka di depan banyak orang ketika itu hanyalah permainan. Dalam tiga minggu, hubungan mereka akan berakhir. Entah kenapa Yura merasa, itu juga tidak akan berakhir dengan damai. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN