"Wah... ini nih yang lagi ultah tapi malah diem-diem aja, traktirlah!" Aku memutar bola mata malas ketika tahu siapa yang tengah bicara. Aku tidak menyangka Niko akan menyusulku dan Lusi ke kantin. "Emang gue siapa Lo? Bayar sendiri lah!" Dengusku saat dia sudah duduk bergabung di meja yang kami duduki. "Tau tuh! Masa cowok minta traktir!" Tambah Lusi. "Loh... bukannya gue calon Lo ya?" Niko menjawab sembari cengengesan. Aku sontak menatap horor ke arahnya, "dih... calon apaan?" "Calon pendamping hidup Lo di masa depan," jawabnya sembari menaik-naikkan kedua alisnya jahil. Sialan, jangan sampe gue baper deh! Aku melirik ke arah Lusi, gadis dengan rambut tergerai sebahu itu tampak menahan tawanya. "Apaan sih? Kalo mau ketawa... ketawa aja, enggak usah di tahan gitu!" Dengusku kesal

