Gerakan tanganku yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulut tiba-tiba terhenti saat aku melihat dua sosok familiar baru saja memasuki areal restorant. Aku memaku di tempat menyaksikan kak Axel yang menggandeng mesra tangan Maya dan mereka tampak mencari meja kosong untuk mereka singgahi. Bulir-bulir keringat dingin sudah bermunculan di dahiku, bahkan aku merasakan seluruh permukaan kulitku berkeringat. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tanganku, yang tanpa ku sadari bergetar di atas meja. Niko, pria itu tersenyum lembut menenangkan. Aku melihat Mata tersenyum lebar, wajahnya terlihat bahagia, begitu juga dengan kak Axel. Sekuat tenaga aku menahan agar air mataku tidak jatuh, menangis sekarang adalah salah satu tindakan bodoh yang membuat orang-orang disini mempertanyakannya. Tapi

