"Gimana lutut, Lo?" Tanya Lusi untuk kesekian kakinya saat dia sudah mengetahui keadaanku.
"Enggak Lusi," Aku menjawabnya dengan jengkel. Setelah kejadian jatuh ku tadi. Lusi terus-terusan menanyai keadaan ku. Apa kaki ku masih sakit? Apa masih perih? Memarnya bagaimana?
Ish, padahal itu cuma luka kecil, walaupun aku juga sedikit mengalami keseleo di pergelangan kaki. Dan berkat pak Agus satpam kampus kami yang memiliki bakat memijit, kakiku pun pulih, setelah hampir meremukkan Lusi yang setia menemani di samping ku. Karena jujur saja, pijatan Pak Agus memang benar-benar ampuh, namu sekaligus...
Menyakitkan!
"Oh... yaudah," dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur di dekatku.
"Gue bingung sama, Lo," celetuk Lusi.
"Bingung kenapa?" Aku mengambil es teh yang baru kami beli tadi, lebih tepatnya Lusi yang membelikannya untuk ku. Cuaca hari ini sangat panas, dan aku meneguk es teh itu hingga setengah gelas.
"Kenapa tiba-tiba bisa jatuh?" Lusi menoleh ke arahku dengan kedua alis tebalnya yang hampir menyatu di tengah-tengah, sama sepertiku.
"Kesandung batu," jawabku sembari menggerak-gerakkan kakiku yang keseleo. Rasanya masih sakit,tapi setidaknya aku masih bisa berjalan. Walaupun jalan pincsng-pincang seperti itu sama sekali tidak keren. Dan mungkin besok jika uangku sudah banyak, aku akan memberikan pak Agus Hadiah karena telah mengobati kaki ku. Mungkin sebuah baju kemeja, atau sepasang sepatu.
Sepertinya itu ide yang cocok.
"Gue serius nanya, Lo jatuh bener-bener gara-gara kesandung? Padahal kan di taman enggak ada batu gede-gede amat sampai bisa bikin Lo jatuh!"
"Lo kenapa sih bawel banget! Gue jadi bete kan?" Aku memutar bola mata dan mendengus kesal. Karena Lusi menanyakan hal itu untuk kesekian kalinya.
"Kan gue penasaran!" Lusi terdiam, matanya menatapku, wajahnya tampak berpikir, sampai akhirnya senyum miring menyebalkan itu muncul di bibirnya.
"Gara-gara kak Axel, ya?" Lusi menatap mataku dalam, mencoba menggali dari tebakannya yang bagiku malah terdengar seperti pernyataan. Aku benar-benar tidak tahan di tatap seperti itu. Jadi dengan cepat ku palingkan wajahku ke arah lain.
"Enggak lah, Lusi. Kenapa coba gue jatuh cuma gara-gara dia!"
"Gue tahu kok, Vay,"
"Tahu apa?" Aku menatapnya horor, "sok tahu!" Sergahku kemudian dan dia hanya tertawa cengengesan setelahnya.
Tapi sejenak kemudian wajahnya kembali menatap ku iba.
"Karena dia manggil nama Lo, kan?" Lanjutnya membuatku menegang di tempat.
Entah mengapa, tiba-tiba saja dadaku bergemuruh, dan bola mataku memanas. Aku menundukkan pandangan ku, aku tidak ingin Lusi melihatnya.
"Emang kenapa kalau dia manggil nama gue? Lo manggil nama gue juga gue biasa aja," jawabku berlagak santai, aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami.
Aku tidak ingin menghubungkan masalah kecil dengan hal-hal yang susah payah ku buang.
Jangan lemah, Vay....
"Oh, okey...."
Setelahnya Lusi kembali terdiam dan tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Kesunyian menyelimuti kami berdua. Hanya terdengar musik yang di putar dari ponsel ku.
Lagu Alay... astaga!
Lusi menyalakan aplikasi film di ponselnya, dia mengunyah Snack-nya sembari menikmati tayangan yang di sajikan. Sedangkan mataku menatap ke langit-langit kamar, aku tahu raga ku di sini, tapi entah jiwa ku sedang ada dimana.
Drrt drrt drrt
Ponselku terdengar bergetar.
"Ada telepon tuh, angkat gih!" Kata Lusi yang membuat ku langsung tersentak, lamunan ku buyar dan aku buru-buru menjejakkan diri ku ke dunia nyata.
Sebaris nomer tidak ku kenal terpampang di layar. Tanpa berpikir panjang aku segera mengangkatnya.
"Halo... siapa ya?" Sapaku setelah menggeser tombol hijau di layar.
Sedangkan di seberang sana bisa ku dengar tawa cekikikan.
"Hai ... bisa bicara dengan Vaya Adelia? Ini temannya, Maya Ariesta." Aku memekik kegirangan setelah salah satu sahabat SMA ku selain Lusi menelpon ku. Dia sudah la sekali tidak ada kabar setelah kami lulus sekolah.
Lusi yang tadi sedang asik menonton film menatap ku bingung karena berteriak seheboh itu.
"Kenapa Lo baru nelpon, huh?!" Dengan sengaja aku membuat nada bicara ku ketus.
"Hehe, maaf, maaf, soalnya gue sibuk disini."
"Heleh... sok sibuk, paling juga sibuk pacaran, ya kan?"
"Iya, sibuk pacaran, pacaran sama buku!" Kami berdua pun tertawa. Aku benar-benar merindukan sepupuku ini.
"Maya, gimana kabar Lo sekeluarga?" Tanyaku.
"Baik, Lo sendiri gimana, Vay? Orang tua Lo, adik Lo?"
Aku terdiam cukup lama, tidak menjawab.
"Vay...."
Suara Maya membuyarkan lamunanku.
"Gue tinggal sendiri sekarang, ngekost, enggak tinggal sama mereka lagi." Jawabku sedikit lesu. Aku malas jika harus banyak menjelaskan. Sebentar lagi pasti Maya akan bertanya....
Kenapa?
"Kenapa?"
Benar kan? Tepat seperti dugaan ku.
"Enggak apa-apa, gue lagi pingin mandiri aja," jawabku singkat, aku harap Maya tidak lanjut bertanya lagi. Aku malas jika harus di tanya prihal keluarga ku, meskipun sahabat ku sendiri yang bertanya. Bagiku... masalahku cukup Tuhan dan aku saja yang tahu masalah ku.
"Oh..." Aku bernapas lega saat Mata tak mengajukan pertanyaan lagi tentang keluargaku. Sepertinya dia peka, dia tahu aku tertutup soal itu.
"Oh iya, seminggu lagi aku bakalan pindah lagi ke Jakarta." Pekiknya mencoba mengalihkan pembicaraan kami.
"Wah... asik!! BTW tugas bokap Lo di Kalimantan udah selesai?"
"Udah, makanya kita mau balik lagi ke Jakarta."
"Oh bagus deh, nanti kita bisa jalan-jalan bareng kayak dulu lagi, bareng Lusi juga."
"Eh... iya, gue titip salam dong buat Lusi, gimana kabar tuh anak, masih jomblo enggak dia?"
"Wah, masih dong. Lusi kan sahabat gue yang enggak laku-laku sampai sekarang, haha!"
"Gue denger loh, Vay!" Sahut Lusi sembari melirik sewot ke arah ku.
"Lah... itu kedengeran suaranya tuh bocah?"
"Haha iya, emang dia lagi ada di sini main, di samping gue."
"Oh... udah dulu ya, Vay. Segini dulu ngobrolnya, nanti kita sambung lagi. Gue di panggil nyokap buat anterin Adek gue ke taman bermain."
"Oh... oke, Maya... bye!"
"Bye juga Vay sayang!"
Ah elah... geli gue dengernya... haha
Tapi Maya memang orang yang lembut, yang tidak pelit menunjukkan kasih sayangnya pada siapapun. Sangat berbeda dengan ku, yang terlihat dingin dan cuek. Walaupun sebenarnya kadang aku sangat peduli pada seseorang yang ku sayang.
Peduli sekali malah!
Aku menutup panggilan telepon dari Maya tepat di saat Lusi menghabiskan satu film yang tadi di putarnya.
"Dari Maya, ya?" Tanyanya yang ku jawab dengan anggukan singkat.
"Dia bilang apa?"
"Em... Maya bilang dia bakal balik ke Jakarta lagi, Minggu depan dia balik ke sini," aku mencomot snack kentang yang hampir masuk ke mulut Lusi.
"Dih, nyebelin!" Lalu melengos dan segera menjauh dariku, dan aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
Aku mengikutinya dan ikut mengintip ke layar ponselnya, "nonton film apa sih? Serius amat."
"Enggak tahu, tapi tadi ada peri-peri gitu, sama ada naga, tapi naganya pincang gitu."
Sontak aku tertawa, "Apaan sih Lo. Garing banget. Yang ada tuh naga terbang, mana ada naga pincang?" Protes ku.
"Kalau enggak percaya tonton sendiri aja, deh." Jawabnya serius. Aku pikir dia tadi sedang bercanda.
Oh... okey!
Aku mencoba membenarkan posisi dudukku, dan mulai ikut menyimak film yang Lusi coba putar ulang.
Bersambung