Pusat pertokoan Tanah Abang mulai ramai sejak Senin pagi. Biasanya penjual-penjual yang berasal dari luar daerah akan berkunjung pada hari-hari kerja. Mereka menghindari akhir pekan dan lebih banyak terlihat di hari kerja. Pada hari itu pula, kebanyakan jasa ekspedisi menjadi amat sibuk. Termasuk jasa ekspedisi Kiriman Kilat (KiKi) milik Zamhuri Firdausy dan Seruni yang berada di bilangan Haji Mas Mansyur, tidak jauh dari gedung Tanah Abang Blok A.
Kala kakinya menginjak pelataran parkir KiKi, Zam dan salah seorang pegawai, Sarah, yang merupakan sahabat dekat Seruni menatap kedatangan wanita muda yang mereka tahu baru saja merayakan malam resepsi pernikahannya dengan amat meriah malam sebelumnya. Apalagi ketika sadar, langkah kaki Seruni agak sedikit ganjil sewaktu berjalan. Mau-tidak mau, Sarah segera ambil kesimpulan dengan semangat empat puluh lima.
"Alamak, pengantin baru jalannya kudu gitu, yak? Sisa semalem masih nyangkut kayaknya."
Sarah cekikikan masih memandangi Seruni yang mengulum senyum. Wajah bersih tanpa riasan miliknya sedikit merona dan dia duduk di kursi yang terletak di belakang konter tanpa canggung. Hanya saja, wajah Zam berubah curiga karena selama sepersekian detik, ia melihat Seruni mengerenyit tanda menahan sakit sewaktu berusaha duduk.
"Nyeri-nyeri gimana gitu, yak?" Sarah melanjutkan tanpa curiga dan menghindari banyak investigasi, Seruni hanya membalas dengan anggukan, tidak mau repot adu debat dengan seseorang yang punya banyak pengalaman dengan penghulu dan akad nikah semodel Sarah. Seruni ingat bahwa sahabatnya ini telah empat kali menikah dalam waktu enam tahun.
"Bobolnya berapa lama? Lo teriak kagak?"
Zam yang sadar bahwa wawancara rekan kerja Seruni akan makin intens, kemudian mendekat dan meminta Sarah untuk membuatkan kopi. Tidak lama setelah wanita tiga puluh tahun itu berjalan ke dapur, giliran Zam yang jadi tukang bertanya.
"Setau gue, semalem Jingga keluar. Mustahil dia bisa balik terus minta jatah, apalagi setelah kita tahu, nggak jauh dari kamar kalian, ada Lusiana yang nginep."
Wajah pria tiga puluh satu tahun itu terlihat penuh harap kala menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Seruni. Apa pun jawaban yang akan wanita itu ucapkan, perkiraan Sarah tentang malam pertama yang panas dan menggairahkan bukanlah pilihan.
"Dia balik sekitar jam dua." Seruni menjawab, mengabaikan raut kecewa di wajah Zam yang jelas-jelas tidak dia sengaja buat. Bahkan, Seruni dapat melihat buku-buku jari pria itu mengeras tapi bijaksana bagi Zam untuk menjaga emosi agar tidak marah.
"Mama lo udah baikan? Dikasih salam ama Bu Chandra, cepet sembuh, jangan banyak makan yang ada santennya." Seruni pura-pura tidak mau tahu seperti apa perasaan Zam saat ini dan lebih memilih menanyakan kabar ibu kandung pria tersebut.
"Mama baikan, nanya kapan lo mo nginep, itu juga kalo nggak trauma lagi. Terakhir datang kan lo muntah-muntah."
Seruni pura-pura memperbaiki ujung jilbab di kepala yang sebenernya baik-baik saja. Ia merasa tidak nyaman ketika kata rumah disebutkan kembali oleh Zam, terutama saat matanya harus tertumbuk pada foto-foto pria yang kini meski sudah jadi satu dengan tanah, tetap membuat jantungnya berdebar lima kali lebih cepat dari biasanya.
"Nantilah. Lo tau sekarang ekspedisi lagi rame. Banyak olshop yang demen kita bantuin pick-up. Jadi mereka ga capek-capek lagi ke sini anter barang."
Zam sempat terdiam menyadari kini Sarah tengah mengaduk kopi dari dapur. Suara denting sendok logam beradu dengan gelas kaca membuat dia berpikir selama beberapa detik baru kemudian memutuskan untuk menjawab.
"Stiker logonya mau gue pasang bentar lagi, tapi gue mikir lo mau foto-foto dulu di depan mobil baru, jatah preman karena mau nikahin anak juragan paling kaya di kampung lo dulu."
"Itu Bu Chandra yang minta tolong, Bang. Lo kan tahu gimana baiknya keluarga mereka waktu gue masih SMA. Kalo bukan karena Bu Chandra, gue udah mati kelaparan. Gue utang budi sama dia, sama keluarganya. Udah gue tolak mobil sama HP pemberiannya, nggak perlu repot-repot kasih apa-apa, cuma beliau nggak mau."
Lagi-lagi, rahang Zam mengeras. Ia tahu apa yang telah terjadi bertahun-tahun lalu. Ayah Seruni yang juga jadi ayah tirinya, tega mengurung anak gadis satu-satunya dalam rumah mereka selama berhari-hari sementara istri pertamanya, Nafisah, ibu Seruni, dipaksanya mencari nafkah walau dalam keadaan sakit-sakitan. Kebaikan hati Chandrasukma yang sadar bahwa Seruni yang selalu jadi pelampiasan amarah sang ayah, menyelamatkan gadis itu dari kematian.
"Kalo lo ga gue siksa, ibu lo gak bakal mau ngasih duit buat gue."
"Lo sendiri bilang, nggak mau ngerepotin, nggak mau dikasih mahar aneh-aneh, cuma minta anting-anting. Hari gini kok minta mahar yang kaga bisa diliat orang, lo pake jilbab juga."
Zam yang mengomel tanpa ragu, membuat Seruni yang kini sudah menyalakan komputer menaikkan alis, "Suka-suka gue sih, mau minta apaan. Lagian kalo pake cincin kawin, dia bakal malu. Bu Chandra kan suka ngajak kami pergi, dikit-dikit juga minta laporan ke mana kami pergi, lo bayangin, dia yang ganteng gitu diikutin sama manusia burik kayak gu..."
Zam meraih lengan Seruni, lalu menatapnya seakan amat marah karena wanita itu mengatai dirinya sendiri. Karena itu juga, pandangan Zam tanpa ragu terarah pada jemari saudari tirinya yang penuh luka. Ekor matanya kemudian berpindah ke arah sebuah tabung kecil di hadapannya yang berisi balpoin, penggaris, staples, spidol dan sebuah cutter warna biru tua. Tidak butuh waktu lama, diambilnya benda tersebut, mengabaikan protes Seruni.
"Lo sendiri yang bikin badan lo penuh luka. Nggak peduli udah seratus kali gue buang segala gunting, cutter, lo pasti punya seribu cara buat narok barang-barang sialan itu ke sini lagi."
Kedatangan Sarah dengan tiga cangkir berisi kopi di atas sebuah nampan melamin membuat Zam terdiam dan Seruni mengucap syukur.
"Baru sekali ini ya, gue liat ada abang segitu cemburunya sama adek ipar, lo beneran kaga ikhlas gitu, Zam, Uni kawin? Padahal lo kenal ama lakinya, kan?"
Zam menolak menjawab dan memilih mereguk kopi panas tanpa sadar bahwa asap masih mengepul. Akibatnya, ia langsung menyemburkan kembali kopi yang sudah keburu masuk mulut lalu bangkit sembari mengelap kaos seragam ekspedisi mereka yang basah.
"Masih panas lo minum." Sarah memperingatkan. Ia baru akan melaporkan pengamatannya tentang Zam yang bersikap amat aneh kala pintu ruko didorong dan dua orang wanita masuk membawa paket besar.
"Mbak paket kilatnya ada, nggak? Bisa kirim sehari sampe?" Wanita pertama, bergaun tunik warna ungu dan legging ketat warna hitam mendekat tanpa ragu, mengabaikan Zam yang masih berkutat dengan tumpahan kopi.
Seruni yang menjawab sambil memperhatikan ukuran paket yang dibawa oleh dua wanita tersebut.
"Kilat pake BeSeR, Mbak. Besok Sampe Rumah. Cuma karena mbak nganternya pagi dan abang ganteng di depan mau pick up, diusahakan sore sudah sampe. Tapi kita liat dulu tujuannya ke mana.
Wanita tersebut mengatakan kalau paketnya akan dikirim ke Sukabumi. Hanya saja, ketika ditimbang, ukurannya dan kuantitasnya yang besar membuat Seruni menyarankan untuk menggunakan kargo."
"Waduh, isinya makanan ini, kue basah. Ancur nggak kalo pake kargo? Lama, nggak? Takutnya basi. Nggak apa-apa dah kalo agak mahalan dikit, kirim pake BeSeR. Namanya lucu amat sih, Mbak. Kayak kebelet. Kiki Beser."
Wanita tersebut tertawa, begitu juga Sarah dan Seruni.
"Tanya ama mbak ini, Mbak, wong dia yang kasih nama." Sarah menjawab, kemudian memutuskan mendekat ke arah wanita tersebut dan menerima paket yang dibawanya agar bisa segera ditimbang. Butuh waktu lima menit bagi Seruni untuk menginput data hingga menempelkan stiker resi pada paket lalu memberikan salinan resi pada pelanggan barunya tersebut kemudian memutuskan untuk bangkit mendekati Zam yang kini sudah berada di luar ruko, sedang memanaskan mesin mobil.
"Lo yang anter apa Jo aja? Tadi Sarah bilang dia ama Haris anter paket dulu baru ke sini."
"Gue aja nggak apa-apa. Sekalian ntar cari sarapan. Lo belom makan, kan?"
"Udah tadi di hotel. Gue berangkat duluan, bilang ama Aga soalnya ini Senin. Paketan banyak yang sampe. Dia nggak sempet anter soalnya mo nganter Uci pulang terus langsung ke kantor." Seruni menjelaskan. Tentu saja penjelasan itu membuat Zam kembali melemparkan pandangan seolah perbuatan yang Jingga lakukan adalah hal paling menjijikkan di dunia.
"Nggak usah liat gue kayak gitu. Minimal kita dapet mobil, Bang. Hari gini nggak ada yang mau kasih bantuan tanpa jaminan. Gue bantu Bu Chandra, gue bantu Aga, kita dapet mobil, semua senang, impas, kan?"
Zam menggeleng, tepat kala klakson terdengar dua kali dari arah belakang mereka, hingga keduanya menoleh dan kepala Jingga dapat mereka lihat sedang menunggu dari balik kemudi, dengan Lusiana yang duduk di kursi penumpang, sebelah kursi Aga, memandangi Seruni yang berjalan cepat, menyembunyikan langkahnya yang pincang dari balik gamis warna cokelat s**u yang luput dari penglihatan keduanya.
Hanya Zam yang memperhatikan saudari tirinya tersebut dengan perasaan amat marah dan ia ingin sekali melempar wajah dengan tampang tak bersalah milik Jingga yang kini dia lihat sedang mengangsurkan koper kecil milik Seruni yang tadi malam dibawa oleh wanita itu ke hotel.
Kalo yang lo buat hasilnya impas, lo nggak mungkin datang ke sini dengan kaki pincang, Ni. Apa pun yang lo lakuin, itu adalah bukti, nggak ada hal impas, dan lo nggak baik-baik aja.
***