enam Gadis Bermata Rabun yang Berdusta

1647 Kata
Lewat setengah sebelas, Galang Jingga Hutama kembali ke rumah mengendarai mobil miliknya yang bercat hitam. Lampu depan belum dinyalakan dan menyadarinya, ia jadi sedikit was-was. Apakah Seruni meninggalkan rumah? Nyaris seharian dia pergi dan ketika sadar, sudah hampir tengah malam. Lusiana masih merajuk dan ia tidak bisa begitu saja pamit seperti yang sudah-sudah. Perlahan, Jingga memutar kenop pintu yang sudah ia buka kuncinya. Terdengar suara pelan yang berasal dari pengeras suara televisi layar datar berukuran lima puluh lima inci yang terpasang di dinding ruang keluarga miliknya. Di depannya, tampak Seruni duduk di sofa seraya memeluk bantal. Ketika Jingga mendekat, dilihatnya wanita itu memejamkan mata dan membiarkan televisi yang menonton dirinya. Kaki Seruni menjuntai sekitar sepuluh senti di atas lantai. Sofa yang dibeli oleh Jingga, adalah pilihan Lusiana, merupakan sofa santai berukuran besar, mirip kasur. Sofa tersebut dapat membuat siapa pun yang mendudukinya merasa ngantuk saking terasa amat nyaman. Wanita itu juga, menggunakan tangan kanannya sebagai penyangga dagu. Ia terpejam berbantalkan bantalan sofa dan entah berapa lama telah ia habiskan hingga saat ini dirinya terlelap ke alam mimpi. Jingga lalu meraih remot TV, mengecilkan volume kemudian mematikan benda tersebut sebelum mengembalikan remot ke tempatnya. Ia berpikir selama beberapa detik baru kemudian memutuskan untuk mendekati wanita yang kemarin pagi ia nikahi. Entah sudah berapa lama mereka tidak saling bicara, terakhir keduanya bertemu pada satu pernikahan teman SMA satu atau dua tahun lalu dan Jingga ingat, Seruni yang telah menutupi tubuhnya dengan jilbab, diantar oleh Zam yang berdiri di samping wanita itu bagai tukang pukul garang yang siap menghantam siapa saja yang nekat mendekati adiknya. Saking protektifnya pria tersebut, mulanya Jingga merasa, Zam adalah suami Seruni, sampai Lusiana bercerita bahwa Zam adalah kakak tiri wanita kurus kering itu. Jingga kagum akan pengetahuan yang dikuasain oleh Lusiana, walau kemudian, dia tahu bahwa kekasihnya itu mendapatkan informasi dari media sosial, bahwa meski tidak berteman dengan Seruni di akun f*******: dan i********:, dia bisa melihat wanita itu lewat akun media sosial milik Zam. Pria itu suka membidik wajah adik tirinya dan memposting Seruni tanpa sepengetahuan yang punya wajah. Dia nyaris tidak mengenali wanita ini lagi. Seruni yang dia ingat tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri. Bajunya amat kotor, dengan risleting di bagian belakang rok dijahit menggunakan benang warna mencolok tak senada dengan warna bahan, kancing pengait rok di bagian belakang juga kadang dijepit seadanya dengan peniti. Dia juga ingat, Seruni jarang keramas, mengikat rambut dengan karet gelang, dan yang paling parah, selain koreng-koreng di kaki dan ujung jari yang Jingga tahu adalah penyakit yang bersumber dari kutu air _tidak ia tahu bahwa Seruni jadi begitu karena air rendaman detergen yang kena kulit tangan Seruni kala membantu sang ibu jadi buruh cuci_ adalah aroma mulut Seruni yang amat tidak enak hingga membuat perutnya mual. Seruni adalah kebalikan dari Lusiana yang cantik dan selalu wangi, sehingga ketika memandanginya sedang tertidur seperti saat ini, Jingga seolah sedang melihat orang lain. Setelah bertahun-tahun, melihat mantan tetangganya telah berubah jadi wanita yang tanpa ragu menutup tubuhnya, membuat Jingga entah kenapa, jadi sedikit penasaran. Seruni mengerang lemah dalam tidurnya, hingga menyebabkan suaminya yang sebelum ini hendak memeriksa keadaan wanita itu, kemudian memilih mundur. Jingga lalu beranjak menuju kamar tidurnya yang berada tepat di sebelah kamar yang kini menjadi kamar istrinya. Dalam perjalanan menuju kamar, matanya tidak sengaja bertumbukan dengan foto yang sebelum ini menjadi pusat perhatian Seruni sebelum ia jatuh tertidur. Foto yang membuat Jingga tersenyum menyadari betapa cantik dan sempurnanya calon istri yang amat dia cintai itu. Seperti kebetulan, ponselnya bergetar hingga membuat Jingga kemudian memasuki kamarnya sendiri tanpa menoleh lagi pada sang nyonya yang terlelap karena menunggunya selama berjam-jam. Uci kembali membutuhkannya malam ini dan seperti yang sudah-sudah, ia tidak pernah mau membuat wanita itu menangis kembali. **** Seruni terbangun menjelang beduk Subuh dan kala dua kelopak matanya membuka, ia memandangi ruang asing tempatnya saat ini berada dengan mata terpicing. Apakah saat ini dia telah berada di kamar tidur? Siapa yang membawanya ke sana? Tidak mungkin dia berjalan sendiri. Lalu, seolah sadar, Seruni buru-buru duduk. Apakah Jingga yang membawanya ke kamar? Seketika tubuhnya menggigil dan ia memeluk lengannya sendiri, seolah kedinginan karena membayangkan tubuhnya di sentuh oleh pria itu. Napasnya naik turun tidak beraturan dan peluh mulai membasahi pelipis meski saat ini dia tahu, pendingin ruangan sedang menyala. Jingga telah mematikan lampu kamar dan membiarkan lampu baca kecil yang membantu penglihatan Seruni, mengingatkannya bahwa hal yang sama pernah terjadi kala mereka berada di hotel. Apakah pria itu tahu kalau dia tidak pernah bisa terlelap apabila suasana terlalu gelap? Tidak ada yang memberi tahu Jingga dan mustahil dia mau repot-repot bertanya pada Zam. Toh, kemarin siang, Zam masih ingin meninju kepala suaminya itu jika saja Seruni tidak melotot kepadanya. "Dia kurang ajar, sudah tahu ada bini, malah datang ke sini, bawa pacarnya, nganter koper lo. Padahal, biarin aja koper itu busuk di bagasi mobil, ga bakal tu barang bikin sempit, kecuali mereka berdua emang ngapa-ngapain di dalam mobil, sampe ngerasa satu koper segede upil aja menuh-menuhin." "Sabar, Bang." Perlahan, Seruni berusaha bangkit dari ranjang. Betapa aneh dia rasakan kala kakinya bukan menyentuh lantai granit dingin dalam kamar melainkan sepasang sendal, tepat di bawah kakinya, seolah Jingga telah mengira-ngira, jika ia turun dari tempat tidur, posisi itulah yang akan disentuh oleh kaki sang istri. Mengetahuinya, sudut-sudut hati Seruni kembali berdenyut nyeri. Hal yang sama kerap terjadi di masa lalu, mulai dari sabun sulfur, sebuah rok baru yang entah dari mana datangnya, tapi dia tahu berasal dari pria itu, bukan yang lain, yang kemudian jadi alasan Seruni untuk mengirim balasan sebagai ucapan terima kasih yang lalu diaku-aku oleh Lusiana. Seruni menghela napas, merasa bingung karena beberapa kejadian di masa lalu seolah dipejalkan kembali dalam kepalanya, padahal tahu, apabila kenangan-kenangan itu mampir, mau tidak mau ia harus kembali mengingat bapak. "Buk, kata mamaknya Susi, kalau ada lelaki nikah lagi, artinya bini pertama nggak becus ngurus laki. Masak gitu, Buk? Ibuk kan sayang banget ama Bapak? Ibuk suka kasih Bapak duit. Tapi Bapak aneh, ya. Abis Ibu ngasih duit, malah dipukul bilang duitnya kurang. Makanya Uni bantuin Ibuk, biar duitnya tambah banyak, biar Ibuk gak dipukul Bapak lagi. Uni nggak usah jajan, Bu. Cukup minum teh manis aja. Perut Uni mual kalo makan pagi-pagi." Seruni yang berusia sepuluh tahun tidak pernah tahu bahwa biar sekuat dan segigih apa pun ibunya bekerja, ayahnya tidak pernah merasa puas, bahwa satu bulan kemudian, pria itu menikah lagi dengan janda beranak satu, yang walau hingga detik ini tidak pernah menganggapnya sebagai anak tiri, selalu membuat wanita itu ketakutan bila bertemu. Seruni ingat bahwa tombol lampu kamar berada dekat pintu masuk, sehingga ia berjalan ke sana lalu menyalakan lampu. Setelah ruangan kembali terang, pandangannya tertumbuk pada sebuah tas kecil berwarna putih polos yang tergeletak di atas tempat tidur, di bagian ujung. Meski familiar, dia tidak merasa memiliki benda tersebut. Seruni kemudian bergerak kembali menuju ujung tempat tidur lalu memeriksa isi tas tersebut dan kembali merasa kaget karena menemukan bahwa isinya adalah mukena. Segera ia layangkan pandang ke dinding yang jadi pembatas kamar mereka dan diremasnya mukena tersebut dengan perasaan kalut. "Uni mau hadiah apa dari Aga? Mama udah siapin cincin, tapi Uni bilang nggak mau." Seminggu sebelum pernikahan, Chandrasukma datang ke ruko membawa Jingga dan menanyai gadis itu tentang mas kawin yang mulanya ditolak oleh Seruni, dengan mengatakan bahwa mobil APV dan ponsel baru sudah cukup. Setelah didesak, dia hanya mampu mengatakan minta mukena buat salat, tapi itu saja tidak cukup bagi Chandrasukma dan pada akhirnya dia meminta sepasang anting-anting polos seperti yang pernah ibunya belikan, sebelum akhirnya diambil sang ayah dan dijual ke tukang mas. Mukena ini dari Aga buat Uni, salah satu mas kawin. Bayangan sabun sulfur yang pernah ia pegang erat-erat kembali berputar jelas dan wajah tampan Jingga yang berusia tujuh belas sedang menendang-nendang kerikil nyaris membuat Seruni menangis. Tapi setelahnya, tidak ada air mata yang keluar. Perasaan ngilu tak nyaman itu pada akhirnya hanya membuatnya berhasil melukai bibirnya sendiri dan sekejap, perasaan bimbangnya lenyap. Ga, jangan plinplan, please. Kalau benci, teruslah benci Uni. Jangan kasih harapan sama sekali, jangan buat gue ngerasa lo punya perasaan, kayak dulu kita SMA. Bahwa sabun itu cuma sebuah sabun, bukan cincin berlian seperti yang lo kasih buat mengikat Uci yang paling lo sayang. Dan mukena ini, cuma bayaran dari lo buat jasa gue. Nggak lebih. Seruni berkutat dengan pikirannya selama dua menit dan terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Jingga pastila tidak ingin benda pemberiannya itu jadi mubazir hingga dia mengantarkan benda tersebut ke kamar Seruni, tidak lebih. Ia lalu memutuskan untuk bangkit dan bergerak menuju kamar mandi. Azan Subuh sebentar lagi berkumandang, dan setelahnya ia harus bersiap-siap ke ruko KiKi dan kembali menjalankan aktivitasnya seperti semula. Tidak ada Chandrasukma di rumah ini dan dia tidak butuh repot-repot berakting seperti pasangan pengantin baru di belahan dunia mana pun. Seruni membuka pintu kamar dan menemukan bahwa Jingga telah bangun dan sedang mengetik di ruang keluarga, depan televisi yang sedang menyala. Ia sepertinya telah mandi dan kala melihat istrinya, Jingga hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus mengetik. Seruni yang maklum kemudian berjalan menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari dapur. Matanya tidak sengaja tertuju pada meja makan yang telah bersih, tanpa ada piring berisi sambal telur dadar yang tadi malam telah ia siapkan. Begitu terkejutnya dia sampai pandangan kembali ia lemparkan pada sosok suaminya yang sibuk di depan layar, Dimakan sama kamu, Ga? Beneran? Nggak dibuang, kan? Pekik kecil dan suara kursi jati yang jatuh membuat Jingga mengangkat kepala dan menemukan kalau Seruni menyentuh kakinya sendiri dengan alis berkerut menahan nyeri. "Punya mata nggak, sih?" "Punya, Ga. Tapi gue rabun." Seruni membalas pendek, lalu bergegas menuju kamar mandi dan berharap bahwa pria itu tidak tahu bahwa meski kakinya terasa amat nyeri saat ini, luka-luka dalam hatinya mendadak menyembuhkan diri dengan amat cepat dan dia tidak tahu apa penyebabnya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN