Perasaan yang tidak disadari

1587 Kata
Hari-hari berlalu, dan semakin hari Dirga semakin tidak mengerti dengan perasaannya. Jantungnya semakin sering berdetak tak karuan saat mendapatkan perlakuan dari Eliza, bahkan jika itu hanya perlakuan kecil yang sebelumnya sudah sering Eliza lakukan untuknya, seperti sekedar mengingatkan Dirga untuk tidak lupa menutup jendela kamarnya. Terkadang Dirga dengan sengaja tidak beranjak dari tempat tidurnya hanya untuk menunggu Eliza berteriak didepan kamarnya untuk membangunkannya. Ada rasa bahagia tersendiri bagi Dirga setiap Eliza berteriak memanggil namanya. Dirga yang semakin sulit mengendalikan detak jantungnya saat bersama Eliza itu, juga seiring dengan suhu pada pipinya yang selalu saja meningkat setiap berada di sekitar Eliza. Tidak jarang Eliza menegur wajah Dirga yang terlihat merah seperti udang rebus dengan penuh perhatian dan rasa khawatir, dan lagi-lagi hal itu membuat Dirga merasakan sesuatu yang membuatnya senang. Perlahan Dirga menyadari, bahwa perasaan yang dimiikinya sudah berbeda dari perasaan yang dia miliki sebelumnya pada Eliza. Meski belum memastikan bahwa itu adalah perasaan suka, namun Dirga mulai bisa meraba-raba, kalau perasaan yang dia miliki pada Eliza itu memiliki keistimewaan tersendiri. Dirga yang demikian itu terkadang bertingkah konyol atau bahkan sesekali menjadi marah tidak jelas pada Eliza, saat setiap kali ada hal yang membuatnya kembali merasakan getaran pada hatinya. Eliza yang sering sekali mendapati Dirga yang marah-marah, hanya terdiam. Entah paham pada perasaan Dirga atau karena sudah terlanjur resisten dengan Dirga yang entah mengapa beberapa minggu terakhir sangat suka marah-marah. *** Dirga duduk di salah satu meja kosong di sebuah cafe sambil menunggu Delio datang. Pagi sebelumnya, Dirga meminta Delio untuk bertemu disebuah cafe yang sudah disepakati. Dirga belum bisa terlalu mengerti tentang apa yang dia rasakan, karena ini adalah kali pertama baginya. Dirga pernah mencintai Ailee sebegitu dalamnya, namun tidak pernah melewati masa seperti yang dia rasakan pada Eliza saat ini, mengingat sedari kecil bersama Ailee dan itu membuatnya terbiasa. Dirga memanggil Delio untuk bertemu hari ini, dengan berharap Delio bisa memberinya jawaban tentang penyebab yang membuatnya merasakan perasaan aneh akhir-akhir ini tiap kali berada disekitar Eliza. Sebelumnya, semua hal akan Dirga tanyakan pada Eliza. Eliza selalu punya jawaban yang memuaskan baginya. Namun, karena kali ini pertanyaannya berhubungan dengan Eliza, membuat Dirga harus mencari oranglain yang bisa memberinya jawaban untuk menuntaskan perasaannya yang membingungkan. "Sudah lama menunggu?" Tanya Delio seketika sampai sembari duduk didepan Dirga. "Lumayan.." Jawab Dirga dengan menyodorkan segelas cappucino kesukaan Delio yang sudah dipesan Dirga sebelumnya. "Maaf maaf.." "Gak apa, aku ngerti kok kalau kakak sibuk" "Kamu juga tumben-tumbennya minta ketemu diluar seperti ini, biasanya juga kamu langsung mampir ke rumah atau nyuruh kakak yang main kerumahmu.." "Aku cuman lagi kepengen aja ketemu diluar" Delio menikmati cappucino yang mulai dingin itu. Tapi memang Delio lebih suka cappucino dingin secara alami, sehingga Dirga yang sudah tahu menahu tentang selera kakaknya itu, memesan cappucinonya lebih dulu sebelum Delio datang. "Oh ya, kamu sendiri saja? Eliza mana?" "Dirumah" "Kenapa gak diajak sekalian" "Ya karena aku maunya berduaan sama kakak saja" "Kan kasian Eliza kalau kamu tinggal sendiri di rumah" "Dia kok yang gak mau ikut" "Tumben" "Iya, karena aku gak bilang kalau mau ketemu kakak. Aku bilangnya kalau mau ketemu sama teman-temanku" "Ck kamu ini. Ya sudah biar aku telfon Eliza dan ajak dia kesini. Aku ngebayangin dia sendiri dirumah jadi kasian" Delio mengeluarkan ponselnya dari saku. "Jangan!" Cegah Dirga. Delio hanya menatap Dirga dengan kebingungan. "Aku mau bicara sesuatu sama kakak, makanya aku ngajak ketemu diluar seperti ini" Delio meletakkan ponselnya diatas meja. "Mau bicara apa??" Dirga terlihat sedikit ragu-ragu. "Kakak jangan ketawa" Satu kalimat Dirga barusan sudah mengundang tawa Delio, padahal dengan jelas itu adalah larangan bagi Delio untuk tertawa. Dirga menatap tajam kakaknya yang sedang berusaha menahan tawanya. "Oke, oke, aku gak bakal ketawa" Tawa Delio yang sebelumnya sudah lepas, berusaha dia tahan kembali. "Hem ada apa?" Ekspresi Delio seketika berubah menjadi serius. Dirga masih terlihat ragu-ragu. "Kak, akhir-akhir ini jantungku suka berdetak tidak karuan, aku juga sering mengalami demam seketika dan hanya terjadi di sekitar wajahku saja" Jelas Dirga menceritakan kondisinya tiap kali berada disekitar Eliza, dan itu nyaris terjadi tiap hari, bahkan tiap jam mengingat keduanya tinggal bersama. "Dirga, kamu sakit??" Penjelasan Dirga barusan ditangkap oleh Delio seperti sebuah penyakit yang sedang menggerogoti adik satu-satunya itu. "Sudah periksa ke dokter??" Delio sangat khawatir. Dirga menggeleng. "Kenapa gak diperiksain Dirga, bagaimana kalau itu berbahaya" "Bukan begitu kak. Awalnya aku ngiranya juga kalau aku sedang sakit. Aku sempat berfikir kalau aku mengalami gejala aritmia, tapi setelah aku search di google ternyata bukan" "Lalu? Kenapa juga pake acara search di google, bukannya langsung periksa ke dokter saja. Kamu bisa melakukan Photo x-ray, CT scan atau mungkin USG" "Kak.. Aku ini bukannya ibu hamil sampai pake acara USG segala.." "Haiss.. Inti dari pertanyaan kakak itu, kenapa kamu gak periksa ke dokter?? Ayah bisa marah kalau tahu kamu seperti ini" "Bukan begitu kak, aku kayaknya gak lagi sakit yang sampai butuh pemeriksaan dokter" "Terus??" Tanya Delio kebingungan. "Mungkin aku punya semacam trauma seperti Eliza" "Trauma? Kamu trauma apa?" "Trauma dekat-dekat sama Eliza" "Maksudmu?" Tanya Delio semakin bingung. "Jantungku berdetak kencang itu kalau sama Eliza kak, demamku yang tiba-tiba muncul sampai mukaku merah kalau lagi dekat sama Eliza saja" Delio tercengang menatap Dirga yang begitu serius menceritakan keluhannya. Anak ini ciri-ciri sedang jatuh cinta? Delio mulai menebak-nebak. "Terus?" Delio berusaha mencari tahu lebih lagi, jawaban Dirga selanjutnya bisa memberinya sebuah kesimpulan. "Ya begitu.. Pokoknya setiap ada Eliza di sekitarku, jantungku pasti berdetak gak karuan. Wajahku akan terasa panas dan aku kadang-kadang menjadi kesal" "Kamu kesal sama Eliza?" Dirga terdiam. Dia sendiri bingung, rasa kesal yang dirasakannya itu ditujukan pada Eliza atau karena alasan lain. "Mungkin..." Jawab Dirga ragu-ragu. Kamu kesal, karena kesulitan mengendalikan perasaanmu Dirga. "Kalau begitu, biar Eliza tinggal sama kakak saja. Kakak gak mau kamu terus-terusan dibuat kesal sama Eliza" "Gak.." Respon Dirga yang cepat itu semakin memperkuat hipotesis Delio bahwa yang dirasakan Dirga saat ini adalah cinta. Dirga sedang jatuh cinta, hanya saja dia tidak mengerti. "Gak? Bukannya kalau Eliza gak tinggal sama kamu, kamu bisa lebih nyaman, jadi kamu gak harus ngerasa kesal terus kan" Pancing Delio. "Bu bukannya begitu.." Terlihat Dirga yang kebingungan. "A aku juga suka kalau ada Eliza di sekitarku kak.." Delio hanya tersenyum mendengar penuturan adiknya itu. Bagaimana bisa anak ini tidak sadar kalau dia sedang jatuh cinta. **** Matahari cukup terik menyinari bumi siang ini. Delio mengendarai mobilnya yang berjenis coupe itu dengan kecepatan sedang. Sebelumnya Delio sempat bertemu dengan Dirga, dimana Dirga yang kesulitan memahami perasaannya mencoba mendapatkan arahan dari Delio dengan menceritakan semuanya pada Delio. Delio tahu, bahwa itu adalah perasaan cinta yang Dirga miliki pada Eliza, hanya saja dia tidak cukup mengerti. Delio tetap menyembunyikan kebenaran perasaan Dirga di tengah-tengah kebingungan Dirga dalam menanggapi perasaannya, Delio butuh waktu untuk memikirkan bagaimana kedepannya tentang Dirga, juga Ailee yang sampai sekarang masih berjuang keras untuk bisa bersama dengan Dirga nantinya. Delio dalam kebingungan, saat dia berada ditengah-tengah antara Dirga dan Ailee. Delio tidak ingin berpihak pada salah satu diantara mereka. Namun, keadaan yang dia temui saat ini bisa dikatakan adalah jalan buntu yang entah bagaimana dia harus menyelesaikannya. Di sisi lain, Delio sangat mendukung rencana Ailee untuk bisa bersama dengan Dirga lagi di hari kemudian. Namun, melihat Dirga yang saat ini mulai memiliki perasaan pada Eliza, membuat Delio bingung harus bagaimana. Jika dia ingin melanjutkan membantu Ailee agar bisa bersama Dirga nanti, berarti sebisanya dia menghalau perasaan Dirga pada Eliza. Tapi, Delio sendiri bukannya tidak ingin menyetujui perasaan Dirga pada Eliza. Bagi Delio, keterbukaan Dirga bersama perempuan lain selain Ailee adalah sebuah peningkatan, mengingat Dirga adalah orang yang cukup menjaga jarak dari perempuan. Dan lagi menurut Delio, apa yang Dirga rasakan saat ini bukanlah hal yang salah dan sangat wajar terjadi, mengingat Dirga yang tidak tahu menahu tentang rencana Ailee. Dipikiran Dirga saat ini adalah, Ailee tidak lagi mencintainya sehingga ia butuh seseorang membantunya untuk bisa melupakan Ailee, dan yang dia temukan itu adalah Eliza. Delio yang tujuan awalnya adalah pulang kerumah, memutar haluan menuju rumah Ailee. Tidak ada hal yang bisa Delio lakukan sekarang, setidaknya dia harus bertemu dengan Ailee dulu sebelum memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Jarak hingga rumah Ailee tidaklah jauh, sehingga tidak butuh waktu cukup lama bagi Delio untuk bisa tiba disana. "Nak Delio, mari masuk.." Senyuman Ayah Ailee yang hangat menyambut kedatangan Delio. Terlihat jelas oleh Delio bagaimana teman Ayahnya yang tak lain Ayah Ailee itu sangat senang dengan kedatangannya. "Ada janji dengan Ailee ya?" "Tidak Om, aku hanya sekedar lewat jadi sekalian mampir. Apa Ailee ada?" "Oh ada, Ailee jarang keluar rumah. Di hari libur begini, kalau kamu gak jempuut dia, dia hanya akan tinggal dirumah seharian" Delio hanya tersenyum menanggapi Ayah Ailee. Ailee yang sebelumnya di beritahu oleh asissten rumah tangga tentang kehadiran Delio, segera menghampiri Delio yang duduk sembari mendengarkan cerita Ayahnya. "Kak Delio, kenapa datang gak bilang-bilang?" "Ailee, Delio kan gak harus bilang dulu kalau mau datang kesini" Tegur Ayahnya yang menganggap sapaan Ailee kurang sopan. "Maksudku bukan seperti itu Ayah.." "Tapi itu tidak baik Ailee.." "Tidak apa Om, sebelumya aku memang selalu bilang sama Ailee kalau mau mampir, tp karena hari ini aku sekedar lewat saja jadi singgah" "Hem yasudah kalau begitu, Ayah tinggal dulu. Kalian mengobrol lah.." "Terimakasih Om" Ayah Ailee hanya tersenyum kemudian berlalu meninggal Ailee dan Delio. "Apa kamu ada kegiatan hari ini?" Tanya Delio. "Gak ada, kenapa kak?" "Bisa keluar sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu, dan kurasa gak pas untuk ngebahas itu dirumahmu. Terlebih lagi, Ayahmu sedang ada dirumah" Ailee mengerti, jika yang ingin dibahas Delio ada kaitannya dengan Dirga, melihat Delio yang berusaha menghindari Ayahnya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN