Delio duduk termangu dengan pandangan kosong lurus menatap danau di depannya. Sesekali ia berpikir, bahwa mungkin saja ia sedang bermimpi sekarang, namun tiap kali ia merasakan sakit di tangannya yang ia gores dengan benda tajam tadi, ia kembali sadar bahwa ini adalah sebuah kenyataan, bukan mimpi seperti yang ia harapkan. Delio kini tidak lagi mengingat akan kuliah pagi yang tadinya begitu itu buru dengan waktu. Pikirannya kini teralihkan seluruhnya dengan apa yang baru saja dia dengar tadi. Kenyataan pahit yang membuat Delio lupa akan apa yang seharusnya ia lakukan saat ini. Airmatanya kembali mengalir, meski sudah berulang-ulang kali ia menyekanya. Delio tidak bisa menahan perasaan sakitnya, sehingga hanya melampiaskannya dengan menangis. Sekejap ia termenung dengan air matanya

