Kejadian

769 Kata
Matahari menerobos masuk melalui celah-celah kamar Dirga. Hari ini adalah hari pertama dia kembali bersekolah setelah hekang sejenak pasca kecelakaan yang menimpanya. Awalnya tidak ada yang berubah, semua seperti biasanya sampai akhirnya. "HHHUUUAAAAA..." Teriakan Eliza yang disusul Dirga memecah keheningan dan membuat suasana seketika menjadi riuh. Apa yang terjadi??  *** Waktu masih menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit, Eliza sudah terbangun dan bingung ingin melakukan apa. Entah karena sebelumnya Eliza selalu bangun lebih awal atau karena suasana baru dirumah Dirga yang membuat tidurnya harus selesai walau pagi masih begitu gelap. Eliza tidak tahu apa yang harus dia lakukan sepagi ini. Dia sudah menyelesaikan segala perlengkapan sekolahnya semalam sebelum tertidur. Rasa kesalnya pada Dirga membuatnya memilih menyiapkan perlengkapan sekolah untuk mengalihkan perhatiannya. "Bagaimana bisa dia menganggapku anak kecil. Ck, bukan ukuran tubuhku yang kecil, dia saja yang terlalu besar dan tinggi seperti jerapah" Gerutu Eliza semalam sembari menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Eliza beranjak dari tempat tidur, meski dia tidak senang dengan Dirga tapi dia masih sadar diri bahwa sekarang dia tinggal bersama, dan Dirga sebagai pemilik rumah. "Setidaknya aku harus bersih-bersih atau menyiapkan sarapan untuk kami pagi ini" Pikirnya. Eliza menyentuh beberapa perabot dirumah Dirga, alih-alih niat membersihkan Eliza malah dibuat terheran-heran dengan keadaan rumah Dirga yang tetap bersih bebas dari debu. Eliza tidak melihat ada orang lain dirumah Dirga seperti seorang pembantu rumah tangga misalnya, itu membuatnya menjadi bingung sendiri mengapa rumah ini tetap bersih sedang dia tahu, Dirga sendiri tidak berada di rumahnya selama tiga hari terakhir ini. Eliza mengurungkan niatnya untuk membersihkan dan beralih menuju dapur. Tidak banyak bahan makanan yang bisa diolah, mungkin karena sebelumnya rumah Dirga dalam keadaan kosong sehingga tidak ada persediaan bahan makanan lebih dirumahnya, semalam saja pak Samuel hanya menelfon dilevery order untuk makan malam mereka. "Dirga sarapan ala Indonesia atau barat ya??" Gumam Eliza sambil memandangi beras dan roti bergantian. Karena persediaan stok makanan yang tidak banyak membuat Eliza tidak bisa memasak lebih beragam untuk sarapan mereka pagi ini. Eliza hanya menyiapkan nasi goreng juga omelet dan  menyiapkan roti beserta selai dan juga s**u. "Biar Dirga yang memilih dia akan memakan apa pagi ini" Pikir Eliza. **** Cahaya mentari pagi perlahan-perlahan menerobos masuk kedalam kamar Dirga melalui jendela yang lupa dia tutup semalam. Begitu banyak beban pikiran yang mengganggu Dirga, membuatnya sulit tertidur dan memilih menghabiskan waktu membersihkan rumahnya untuk mengabaikan pikiran-pikiran yang tidak jelas itu. Alhasil karena kelelahan, Dirga sampai lupa menutup dan mengecek ulang keadaan pintu ataupun jendela rumahnya sebelum tertidur selepas dia membersihkan tubuhnya. "Hm.. Bau apa ini?? Harum.." Meski matanya masih terpejam, bau enak sebuah masakan sudah tertangkap oleh indra penciumannya. "Siapa yang masak pagi-pagi begini??" Matanya masih sangat berat dan rasa kantuk masih saja menggodanya untuk tetap berbaring. Dirga melawan kuatnya gravitasi tempat tidur dan segera beranjak, kuatnya daya tarik tempat tidur untuk melampiaskan rasa ngantuknya seperti terkalahkan oleh aroma makanan yang membuat perutnya auto lapar seketika. "Apa Nara tidak jadi pergi semalam??" Gumam Dirga mengira-ngira sambil berjalan keluar kamar. Semalam Ayah dan Ibu tirinya pamit. Rencana awal Samuel dan Nara untuk menginap dirumah Dirga dibatalkan. Samuel sudah merasa lebih lega untuk meninggalkan Dirga dan Eliza berdua mengingat Dirga sudah menyatakan dirinya siap untuk menjaga Eliza meski melalui tipuan darinya. Dirga yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya terus-terusan berjalan ke arah aroma yang sangat mengundang selera sambil mengucek-ngucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih saja belum bisa ia atasi. "Nara kamu tidak jadi pulang semalam??" Dirga berjalan ke arah dapur sedikit sempoyongan dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. "Ah tidak, Mami sudah pergi.." Eliza menjawab pertanyaan Dirga yang sepertinya belum sepenuhnya sadar kalau Nara sudah tidak dirumahnya lagi. Eliza dengan pelan-pelan menyiapkan piring dan sendok untuk sarapan pagi ini "Aku mendapat pesan dari Mami kalau dia pergi ke.. HUAAAAAA......" Eliza spontan berteriak dan berbalik sembari menutup matanya. "HUAAAAA....." Dirga reflesks ikut berteriak. Matanya yang sedari tadi sayu karena masih menahan ngantuk seketika terbelalak karena terkejut dengan teriakan Eliza. Astaga.. Aku mengingat semua yang terjadi semalam, tapi kenapa aku melupakan kalau bocah kecil ini tinggal bersamaku sekarang.. "Kamu ini kenapa berteriak kencang sekali, membuatku kaget saja..." Tegur Dirga sedikit kesal sambil berjalan menuju meja dimana segelas air tergeletak disana. "Kamu yang ke-kenapa????" Eliza dengan nada suaranya yang semakin meninggi dan gugup terus-terus membelakangi Dirga sembari menutup matanya. "Kenapa keluar kamar tidak pake baju dan celana yang pantasss....." Dia bilang apa barusan??? Kesadarannya yang melayang-layang berusaha dia tangkap kembali dan mengumpulkannya untuk memahami perkataan Eliza. Tunggu... Matanya semakin terbelalak, menatap kebawah dan... "Kenapa kamu gak ngomong dari tadi...." Dirga berusaha menutupi dirinya dengan telapak tangan yang tidak seberapa luasnya itu dibandingkan tubuhnya yang terpampang nyata tanpa penutup
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN