Rimbun pepohonan membuat danau yang terletak tidak jauh dari pusat kota itu menjadi begitu sejuk. Airnya tenang dengan menampilkan pantulan cahaya.
Tepat di pinggir danau itu, seorang perempuan tengah duduk dengan pandangan kosong dan airmata yang perlahan mengalir, seolah membiarkan sang danau untuk menjadi saksi bisu akan apa yang tengah melukai hatinya saat ini.
“Ailee..” Panggil Delio saat tiba di danau.
Sebelum pulang sekolah, Ailee menghubungi Delio agar bertemu di tepi danau. Danau yang sebelumnya menjadi tempat favoritenya bersama Dirga. Namun kali ini dia datang sendiri, meski akhirnya di susul oleh Delio.
“Hey.. kamu kenapa??” Dengan cepat Delio menyeka airmata Ailee yang jelas terlihat mengalir di pipinya.
“Kak.. Dirga bukan punyaku lagi..” Jawab Ailee dengan tersikuk-sikuk. Jelas sekali bagaimana ia sedang terluka sekarang.
Delio hanya terdiam. Dia tahu, cepat atau lambat Ailee akan tahu ini.
“Aku harus bagaimana sekarang??” Tanya Ailee dengan airmatanya yang semakin deras.
Delio menarik Ailee kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan hati perempuan yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, meski status hubungan mereka saat ini adalah sebagai tunangan.
“Aku kan sudah memperingatkanmu Ailee. Aku sudah bilang, kalau kamu harus memberitahu Dirga yang sebenarnya agar hal seperti ini tidak terjadi”
Ailee tidak menjawab dan hanya terus menangis terisak-isak. Sementara Delio masih terus mencoba menenangkannya.
“Kak, bagaimana kalau aku bilang saja semuanya sama Dirga. Aku bilang tentang semua rencanaku dan bagaimana hubungan kita yang sebenarnya. Mungkin saja Dirga bisa kembali suka sama aku seperti dulu..”
“Gak..” Potong Delio dengan suaranya yang tegas, membuat Ailee sedikit terkejut. “Kamu gak boleh bilang semuanya sama Dirga, setelah perasaannya seperti ini”
“Ta-tapi kak..”
“Ailee, aku kan sudah memperingatkanmu. Tidak satu kali aku mengingatkan kalau perasaan Dirga bisa saja berubah. Dan sekarang.. Apa yang aku bilang benar kan?. Kalau kamu memang ingin bilang sama Dirga, kenapa tidak dari kemarin-kemarin?”
Airmata Ailee kembali mengalir, rasa sakit semakin menjadi-jadi setelah mendengar perkataan Delio dan mulai merasakan penyesalan.
“Bukannya aku gak mau bilang sama Dirga tentang ini lebih awal kak, kakak kan tahu kalau aku gak mau Dirga jadi marah sama Ayah. Kakak sendiri tahu bagaimana Dirga itu, bagaimana kalau dia datang ke Ayah? Itu akan membuat Ayah semakin gak ngerestui aku sama Dirga kak”
“Tapi Ailee, perasaan Dirga sekarang sudah sama orang lain. Kamu egois kalau mau mengatakan yang sebenarnya saat perasaan Dirga sudah gak sama kamu lagi”
“Gak, aku yakin Dirga masih suka sama aku kak. Sekarang Dirga suka sama orang lain itu karena dia gak tahu perasaan aku yang sebenarnya, dan gak tahu perihal apa yang terjadi antara hubungan kita”
“Aku gak ngebolehin kamu buat bilang semuanya sama Dirga”
“Kak.. Kakak bilang, kakak ngedukung aku sama Dirga, kakak ngerestuin aku sama Dirga. Selama ini, aku cuman bergantung sama pertolongan kakak” Kata Ailee sembari menangis sesegukan.
“Aku juga sudah bilang Ailee, kalau aku membantumu karena aku tahu Dirga suka sama kamu. Jadi saat perasaan Dirga sudah berubah, aku tidak lagi bisa membantumu seperti sebelumnya. Kamu tahu kan, kalau aku mengikuti rencanamu hanya karena aku mau Dirga bahagia. Aku melakukan semuanya demi Dirga”
Ailee terdiam sejenak dengan sesegukan akibat menangis sedari tadi.
“Jadi sekarang aku harus bagaiamana kak? Aku akan kehilangan Dirga kalau gak jujur tentang ini semua”
“Kamu egois kalau baru sekarang mau mengatakannya, Ailee. Kamu pikir perasaan Dirga akan seperti apa saat dia tahu?. Kamu mempermainkan perasaannya kalau caramu seperti ini”
Ailee tidak lagi berkata-kata. Dia tidak menyalahkan perkataan Delio, karena benar faktanya seperti itu. Dia juga tidak menyalahkan Delio yang seolah berbalik menyerangnya, padahal sebelumnya berada pada kubu yang sama dengannya. Ailee tahu jelas, bahwa apa yang Delio lakukan, semata-mata hanya untuk membahagiakan Dirga. Dulu Delio setuju mengikuti rencananya karena dia tahu bahwa adik satu-satunya itu sangat cinta pada dirinya, jadi saat perasaan Dirga berubah, maka haluan Delio pun akan berubah.
“Ailee, apa yang Dirga rasakan pada orang yang dia suka, adalah perasaannya yang murni. Kamu tidak seharusnya ngebuat Dirga bingung sama perasaannya sekarang. Apa yang terjadi sama perasaan Dirga saat ini, semuanya juga karena kamu”
Ailee terdiam sejenak, dia tidak tahu harus mengatakan apa, karena yang ada di pikirannya sekarang, hanyalah bagaimana caranya agar Dirga kembali mencintainya dan tidak menghadirkan perempuan lain selain dirinya, seperti itu.
Airmatanya masih mengalir, namun Ailee sedari tadi sesegukan mengangkat kepalanya dengan pelan menatap Delio.
“Kak, udah aku putuskan untuk tetap bilang sama Dirga. Aku mau bilang semuanya, tentang perasaanku, tentang rencanaku, dan bagaimana aku yang masih sangat mencintainya. Aku mau Dirga balik sama aku”
“Ailee..”
“Kak, bagaimana kalau semisalnya Eliza itu hanya pelampiasan dari perasaan Dirga yang gak bisa lagi dia salurkan ke aku. Sebelum dia bilang cinta sama Eliza, aku akan bilang semuanya sama Dirga. Jadi, Dirga bisa memperjelas perasaannya”
Delio hanya terdiam mendengar perkataan Ailee. ‘Egois’ satu kata itu menggambarkan Ailee di pandangannya. Namun dia juga tidak serta merta menyalahkan Ailee, karena dia tahu bagaimana perempuan itu sangat mencintai adiknya.
“Ailee, saat Dirga tahu perihal Ayahmu yang menyuruh untuk memilihku, apa kamu pikir dia hanya akan datang marah-marah ke Ayahmu karena tidak memberimu hak untuk memilih pilihanmu?”
Ailee mengangguk.
“Apa kamu tidak berpikir, bagaimana kalau seandainya Dirga malah rela melepasmu karena berpikir bahwa Ayahmu tidak menyukainya?. Kamu mengenal Dirga dengan baik, sama halnya dengan aku. Kamu hanya memandang satu sisi dari Dirga tentang dia yang tidak suka keadilan, tapi kamu tidak memandang sisi lain dari Dirga, bahwa dia tidak suka membuat hubungan oranglain menjadi pecah karena dirinya. Bisa saja Dirga merelakanmu, demi menjaga hubungan baikmu dengan Ayahmu”
Seperti sedang disajikan fakta baru, Ailee tercengang dengan apa yang Delio katakan. Dia yang sangat mengenal Dirga, tidak pernah berpikir bahwa Dirga bisa saja berpikiran seperti itu.
“Saat Dirga merelakanmu, itu akan semakin membuat perasaanmu terluka, Ailee. Dan apa yang bisa kamu lakukan saat itu? Bahkan kamu seharusnya bisa bersyukur jika Dirga hanya merelakanmu. Bagaimana kalau seandainya Dirga membencimu karena merasa telah di permainkan sama kamu?”
Ailee mengalihkan pandangannya dari Delio.
“Perasaan yang Dirga miliki pada Eliza sekarang, bukanlah pelampiasan. Itu murni perasaan yang dia miliki karena tinggal bersama dengan Eliza. Perasaan yang dia miliki pada Eliza sekarang, juga bentuk dari usahanya untuk melupakanmu, sebagai perempuan yang sudah tidak bisa di jangkaunya”
Ailee tertunduk, dan kembali menangis sejadi-jadinya.
“Bukannya aku gak mau bilang hal seperti ini sama kamu lebih awal. Aku cuman berusaha mendukungmu untuk mengalahkan ego Ayahmu dan menjadi sukses, sehingga bisa bersama Dirga dengan perasaan yang lebih membahagiakan. Hanya saja, aku sudah memperingatkanmu perihal perasaan Dirga, tapi kamu tetap pada pikiranmu dan yakin Dirga akan terus mencintaimu saja”
“Te-terus aku harus bagaimana sekarang kak?? Aku gak tahu bagaimana memperbaiki perasaanku?” Tanya Ailee dengan airmatanya yang semakin deras mengalir.
Delio kembali memeluk Ailee, mencoba menenangkannya.
“Nanti aku pikirkan, dan mencari jalan keluarnya”
Hari beranjak sore, namun tangis Ailee yang belum juga selesai membuat Delio harus tetap berada di tepi Danau menemaninya dan menenangkannya.