Diawal hari, matahari begitu sombong memamerkan teriknya yang menyengat, namun entah mengapa saat hari semakin siang, matahari malah menjadi malu-malu dan hanya bersembunyi dibalik awan.
Hari ini adalah hari pertama Dirga bersekolah kembali setelah tiga hari sebelumnya harus absen dikarenakan kesehatannya yang terganggu akibat kecelakaan. Hari ini juga merupakan hari pertama bagi Eliza bersekolah. Eliza tidak mengingat, apakah sebelumnya dia bersekolah disekolah umum atau kejuruan, yang dia lakukan sekarang hanya berusaha memulai hidup barunya yang sudah disiapkan Samuel untuknya.
Kehadiran Eliza yang mengekor dibelakang Dirga sepanjang pagi membuat deretan pengagum Dirga tidak dapat berhenti bertanya-tanya akan sosoknya yang tiba-tiba muncul dan jelas pertanyaan 'Siapa dia' yang ditujukan untuk Eliza juga tidak luput dari teman-teman Dirga.
Dirga memutuskan untuk tidak mengungkap jati diri Eliza sebagai orang asing yang kini hidup bersamanya. "Dia orang yang dikenal Ayahku" Jawaban Dirga dari pertanyaan semua orang tentang siapa Eliza. Dirga juga tidak menutupi bahwa dirinya dan Eliza sekarang hidup bersama di atap yang sama.
Beberapa teman perempuan di kelasnya mendekati Eliza. Eliza menjadi lebih mudah mendapatkan teman sehingga cukup di pagi hari saja dia mengekor dibelakang Dirga. Jam istirahat dan setelahnya, Eliza sudah memiliki teman yang bisa menemaninya berkeliling sekolah untuk mengenal lebih dekat tempat yang akan dia habiskan waktunya untuk menempuh pendidikan.
Semuanya terlihat ramah dan menyenangkan, hanya saja Eliza masih merasakan perasaan tidak nyaman dengan tatapan Ailee. Eliza tahu, ada tatapan tidak senang yang diarahkan untuknya dari Ailee. Apa salahku? Apa aku pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak suka. Kami baru bertemu kemarin. Apa aku mengenalnya sebelum lupa ingatan?
*****
Ttok ttok ttok...
Ketukan jari Dirga di meja Eliza membuat perhatian Eliza yang tengah merapikan barang-barangnya sebelum pulang sekolah teralihkan.
"Kenapa?" Eliza mendongkak agar bisa berbicara sembari menatap Dirga
"Kamu ada kegiatan lain sepulang sekolah?"
Eliza menggeleng.
Memangnya aku bisa melakukan kegiatan apa? Aku yang tidak tahu apa-apa ini bisa berbuat apa?
"Yasudah, sepulang sekolah kita berbelanja.."
"Belanja?"
"Kita mau makan apa malam ini? Bukannya kamu yang bilang kalau persediaan dapurku tidak ada??"
"Ah iya aku lupa.."
"Yasudah, cepat bergegas..."
Eliza bergegas merapikan barang-barangnya, dan beranjak berjalan beriringan dengan Dirga keluar kelas.
Sepanjang perjalanan, Dirga hanya duduk sambil menatap keluar jendela memandangi riuhnya kota. Headset yang terpasang ditelinganya seolah memberi peringatan pada Eliza untuk tidak mengajaknya mengobrol selagi dalam bus. Eliza sendiri paham bagaimana Dirga kesulitan saat ini, Dirga yang dulunya kemana-kemana menggunakan mobil pribadinya sekarang mau tidak mau harus menggunakan bus demi menjaga dan membuatnya tetap merasa nyaman.
Meski rasa kesal masih saja tidak lepas dari perasaan Eliz, namun rasa bersalah juga terus menghampirinya menyadari dia yang menjadi beban bagi Dirga dan tidak ada pilihan lain baginya selain menurut pada keadaan.
Entah karena masih jam kerja bagi orang dewasa atau karena cuaca yang cukup mendung membuat supermarket terlihat sepi.
Eliza berdiri di depan rak yang menyediakan beberapa jenis sossis sembari memandangi satu persatu yang tersedia disana.
"Liat apa?" Pertanyaan Dirga membuatnya terkejut.
"Ah.. Gak.." Jawab Eliza tersenyum.
Apa sebelumnya aku itu suka Sossis, ngeliatnya dari balik kaca saja serasa ngiler.
"Kamu mau?" Tawar Dirga.
Eliza menggeleng. Eliza tahu, makanan seperti sossis tidak akan dikonsumsi oleh Dirga. Dirga sendiri sudah menjelaskan sebelumnya jika dia tidak senang dengan makanan olahan seperti itu.
"Sudah belanjanya?" Sembari melirik keranjang belanjaan yang nyaris penuh digenggaman Dirga.
"Belum.."
"Keranjangmu sudah hampir full.." Eliza keheranan. Untuk ukuran hidup berdua, menurutnya belanjaan Dirga sudah lebih dari cukup.
"Kita butuh lebih, kita tidak bisa setiap hari berbelanja.."
Ah benar juga.
"Kamu, apa gak ada sesuatu yang mau kamu beli?"
Sekali lagi Eliza menggeleng.
"Kenapa? Tidak punya uang? Ayah tidak memberimu kartu??"
"Ah bukan bukan.. Aku punya.."
"Terus? Takut uangnya habis??"
"Gak juga.. Kamu sudah beli sebanyak ini un..."
"Ini kan aku beli untukku sendiri..."
Haah.. Kenapa aku tidak sadar kalau anak ini peduli padaku karena terpaksa. Untuk kelanjutan hidupku, sudah jelas dia tidak akan peduli.
"Yasudah, aku belanja dulu.." Eliza mendengus kesal.
"Tidak.. Aku belinya untuk berdua, kalau tidak ada lagi ayo ke kasir.." Dirga berjalan menyunggingkan bibirnya memperlihatkan smirik yang membuat Eliza semakin kesal melihatnya.
Dia mempermainkanku.
Eliza kembali mengekori Dirga dan wajah yang terus mengejek dari belakang.
"Ah..." Dirga spontan berbalik, memberikan Eliza keranjang bawaannya.
"Apa lagi?"
"Aku lupa sesuatu, kamu duluan saja kekasir.."
"Kenapa??"
"Karena aku harus beli sesuatu yang aku lupa"
"Aku tunggu disini saja.." Eliza menolak beranjak sendiri lebih dulu.
"Ck.. Duluan saja, nanti aku menyusul.."
Dirga berlari kecil masuk kedalam kerumunan kecil orang-orang yang sedang berbelanja meninggalkan Eliza. Eliza memasang wajah cemberut.
"Kurang apa lagi sih? Satu keranjang penuh dan dia masih butuh sesuatu lagi??" Gerutu Eliza sembari berjalan menuju kasir.
Langkah-langkah kecil dan tertatih-tatih membawa keranjang belanjaan yang penuh dan lumayan berat baginya.
"Huuhh.." Smirik Eliza, memperlihatkan ekspresinya yang kesal. "Dasarr Dirga..." Eliza berbalik, mencari sosok tinggi yang tidak dijangkau penglihatannya. "Dia pasti malas ngantri kan, makanya nyuruh aku duluan yang kesini.." Eliza begitu kesal menerima kenyataan dimana dia berada dideretan antrian yang tak terhitung itu.