Setelah menyetujui untuk menjadi ayah dari bayi yang sedang dikandung oleh Raisa, kini Samuel berusaha untuk berbicara pada Raisa yang sudah beberapa hari ini hanya menangis tanpa mengatakan apapun. Samuel bahkan berhasil membujuk Raisa yang mengurung diri berhari-hari dalam kamar, untuk beranjak dan memberishkan diri, hingga makan dengan baik meski harus ia suapi. “Untuk apa kamu datang kemari?” Tanya Raisa. Ini adalah kalimat pertama yang Raisa katakan selama beberapa hari terakhir ini. Samuel tersenyum dengan manis, suara yang sudah sangat lama tidak ia dengar itu, kini kembali menyentuh indra pendengarnya. Samuel senang, Raisa akhirnya membuka suara setelah terdiam cukup lama. “Aku datang untuk menemanimu” Perlahan, mata Raisa kembali berkaca-kaca, dengan air mata yang

