Daddy's Daughter

957 Kata
JENNY  Sekarang kandunganku menginjak usia 8 bulan akhir, kondisi bayiku sehat. Nathan yang selalu menemaniku kontrol, karena itu aku merasa tidak pernah sendiri. Aku tetap melaksanakan rutinitasku seperti biasa dan Nathan memutuskan untuk tinggal di apartmentku karena dia khawatir jika aku tiba-tiba melahirkan. Punggungku dan selangkanganku sering nyeri dan bayiku sangat aktif, terkadang membuatku tidak bisa tidur seperti saat ini ditambah aku sering buang air kecil tengah malam. Aku memutuskan pergi ke dapur sekedar untuk berjalan sambil mengusap perutku "sayang tidur yuk, sudah jam 10 malam. mommy letih" "Kenapa" Nathan tiba-tiba muncul entah dari mana "Biasa baby masih bergerak terus" ucapku "Sudah jam 10 malam, coba baring-baring Jen. Mau aku temenin?" aku menganggukkan kepala Disaat seperti ini lah aku beruntung memiliki Nathan, kadang aku terfikir untuk menceritakan yang sesungguhnya pada Nathan jika dalam waktu dekat Lytha tak juga ditemukan. "Berbaringlah" ucap Nathan saat kami sudah ada dikamarku. Aku memposisikan tubuhku menghadap Nathan. Nathan menaruh bantal di kaki dan perutku agar tidurku lebih nyaman. Nathan ikut berbaring sambil mengusap-usap punggungku. Semakin lama mataku mulai terpejam.   NATHAN Aku melihat Jenny mulai pulas tertidur. Saat aku ingin kembali ke kamarku kulihat Jenny berusaha menarik napas panjang. Dia seperti kesulitan bernafas dan itu biasa terjadi pada ibu hamil, aku mengetahui ini dari buku yang aku baca. Kulihat tangannya mengusap-usap perutnya sambil bergumam "sayang, mommy lelah", dahinya berkerut seperti menahan sakit. Aku mengarahkan tanganku mengelus perutnya "baby, tidur ya. mommy letih seharian bekerja" aku terus mengusap-usap perut Jenny sampai kulihat kerutan didahinya berkurang menandakan dia mulai nyaman. Saat aku menghentikan usapanku Jenny kembali meringis dalam tidurnya. Sepertinya bayi ini ingin terus ku usap. Aku memutuskan tidur dikamar Jenny dengan posisi menghadap punggung Jenny dengan tanganku menyentuh perut Jenny dari belakang. ---- Pagi hari aku bangun lebih dulu, Jenny masih tertidur pulas namun mataku terpaku pada baju tidur Jenny yang tersingkap sehingga menampilkan perut buncitnya. Melihat secara langsung seperti ini membuatku bergidik ngeri perutnya seperti balon yang akan meletus. Pusarnya juga menonjol sangat lucu. Entah kenapa aku ingin menyentuhnya, aku tidak dapat menahan diri. Saat aku menyentuh perut itu secara langsung tanpa penghalang aku meremang bagai tersengat listrik. Kupandangi perut itu kemudian tiba-tiba telapak kaki tercetak diperut Jenny. Aku terperangah menatap keajaiban itu. Mungkin bayi di dalam perut Jenny juga sudah bangun. Entah kenapa aku tersenyum dan mengarahkan kembali tanganku ke perut Jenny "Good Morning Princess" sapaku pada sang bayi yang sudah kami ketahui jenis kelaminnya. Pada akhirnya aku tidak bisa menahan keinginanku "cup...cup" aku mengecup perut Jenny pada bagian dimana cetakan kaki itu timbul "Lets start the day with mommy and daddy" Daddy? aku tertegun dengan kata-kataku sendiri yang keluar tiba-tiba. Mungkin karena kami sering bersama, seperti ada ikatan batin. But for sure aku menyayangi bayi ini.  Mungkin benar kata orang, ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan makanya bayi diperut Jenny langsung nendang-nendang waktu merasakan sentuhan ayahnya - Author JENNY "NATHAAAAAAN SAKIIIITTTT" aku berteriak sekencang-kencangnya mencubit lengan Nathan. Berani-beraninya dia mencubit pipiku. Aku sedikit sesak napas karena berteriak dan tentu saja Nathan merasa bersalah. "Iya...iya maaf, abisnya gembul banget sih jadi pengen nyubit bawaannya" membela diri sambil mengusap pipiku yang pasti memerah akibat cubitan gemasnya. "Cepet minta maaf sama baby, jadi kaget dia karena aku teriak-teriak" kataku sambil menunjuk perutku Nathan berlutut dengan satu kakinya yah seperti posisi melamar kekasih. Dia mengusap perutku kemudian menengadahkan kepalanya menatapku. "Apa?" kataku "Jen, aku kan mau ke Singapore selama beberapa hari. Aku sudah hire asisten rumah tangga untuk menemanimu" "Lalu" aku masih belum menemukan kolerasi ucapannya dengan sikapnya yang seperti menginginkan sesuatu namun takut mengatakannya "hmmm, aku boleh usap perut kamu ga?" tanyanya "Bukannya sudah sering, usap aja aku ga larang kok" ini Nathan aneh banget pertanyaannya "Tapi aku mau usapnya langsung, tanpa penghalang. Boleh ya..." Nathan seperti anak yang sedang merengek minta dibelikan mainan Sebenarnya bagiku biasa saja karena sewaktu kami di Australia Nathan sudah sering melihatku berbikini ria, tapi mungkin Nathan enggan karena tidak lazim untuk budaya timur jika Nathan yang bukan suamiku meminta hal itu padaku. Tapi aku akan melakukan sesuai kata hatiku. "Boleh, jangan lama-lama" demi kebahagiaan bayiku yang belum tahu apa-apa ini.  Aku duduk di sofa, untungnya hari ini aku memakai baju hamil ala Kate Middleton dan sudah memakai short pants ibu hamil jadi semuanya mudah. Aku mengangkat blouse yang kukenakan menampilkan perut buncitku. "Pusar kamu lucu Jen, bisa menonjol begitu" ucapnya sambil menatap pusarku.  "Ih malah ketawain pusar aku, jadi nyesel kabulin permintaan kamu" benar-benar Nathan bikin aku sensi "Yee,,,jangan gitu dong, aku kan pengen nyapa baby" Nathan berjalan ke arahku dan berlutut. Benar saja bayi ini tak bisa dibohongi sekali usap langsung kegirangan, tahu aja daddynya. Gerakannya makin intens membuat perutku nyeri "awww, sayang pelan-pelan geraknya" aku meringis pelan "Eh...sakit ya Jen" kata Nathan dengan wajah khawatirnya "ehhmm...Iya soalnya gerakannya intens banget, tau aja dia kalo kamu dad....eh maksud aku tau aja kalo kamu mau pergi jadi dia gerak terus" hampir aku keceplosan Dia mengusap perutku "jangan kenceng-kenceng geraknya, mommy kesakitan. Nanti kan kita ketemu lagi" katanya "Lihat deh Jen diperut kamu ada bekas seperti cetakan kaki dan tangan gitu" aku hanya tersenyum sambil menahan nyeri di perutku melihat tingkah Nathan "Princess, daddy mau pergi beberapa hari, kamu jangan nakal ya didalam sini. Kasihan mommy, kamu nakalnya kalau daddy sudah kembali ya" Daddy, hatiku menghangat saat Nathan mengucapkan kata itu namun seketika rasa bersalah itu muncul lagi karna aku sudah membohongi Nathan. Apakah aku harus memberitahunya. Tiba-tiba aku merinding menyadarkanku dari lamunan saat kurasakan benda kenyal hangat menyentuh perutku "cup...cup...cup" aku sedikit meremang ternyata Nathan sedang mengecup gemas perutku  "daddy pergi dulu ya" Nathan bangkit kemudian mengecup keningku "aku pergi ya FAT...TY"  "NATHAAANNN kamu ngatain aku apa" teriakku sedangkan Nathan sudah berlalu menuju bandara menggunakan taksi. Duh makin gemes aja. Jangan lupa Follow, loves and comment ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN