Dia yang Datang Kemudian Meninggalkan

1008 Kata
Rintik hujan menemani pemakaman Ibu Jenny. Gadis itu tampak kehilangan jiwanya. Bagai mayat hidup dia berdiri di makam ibunya. Walau banyak rekan bisnis mamanya datang mengucapkan belasungkawa namun pendengarannya serasa tertutup, dia bagai hidup di dunia lain. Jenny tidak menangis walau sesak dan kesedihan tak tertahankan. Orangtua Nathan datang untuk menemani Jenny, karena gadis itu tak mempunyai sanak saudara. Sedangkan ayah Jenny sudah meninggalkan Jenny dan ibunya sejak Jenny kecil. "Jen ayo makan dulu" ucap Mrs. Green Kalau kalian sangka jenny menolak, kalian salah. Jenny tetap makan, mandi dan melakukan semua yang diminta Mrs. Green. Namun itu terlihat lebih menyeramkan daripada seseorang yang terang-terangan menangis, menolak untuk makan maupun berteriak histeris. Jenny memendam semua kesedihannya hingga menggerogoti jiwanya. Dia hanya diam dengan tatapan kosongnya. Bahkan sejak kemarin dia belum menutup matanya yang menyebabkan lingkaran hitam di kedua matanya. Jenny bagaikan sebuah robot berjalan atau kalau kalian tau seseorang yang sedang dirasuki roh jahat dengan pandangannya yang kosong seperti itulah dia sekarang. "Jen..." suara bariton seseorang tetap tak membuatnya bergeming. Dia tetap duduk di sofa yang berada di kamar mommynya. Akhirnya lelaki itu berjongkok dihadapan Jenny. "Jen, jangan seperti ini. Mommy akan semakin sedih begitupun aku. Even she wasn't here phisically, but she remains in here" lelaki itu membawa tangan Jenny ke arah dadanya. Lelaki itu berdiri kemudian mengambil sebuah foto yang berada diatas meja. "Look this picture, dia tersenyum saat kau tersenyum. Kau tidak mau mengecewakannya kan?" lelaki itu bangkit lalu duduk disamping Jenny kemudian memeluknya. "Menangislah Jen, jangan kamu pendam sendiri. Kamu ingatkan janji kita?" lelaki itu mengusap lembut kepala Jenny "Kalau kamu seperti ini terus berarti kamu lupa janji kita dan aku benci seseorang yang tak dapat menepati janjinya" lelaki itu bangkit karena Jenny tak merespon kata-katanya "Aku pergi" lelaki itu beranjak saat tak mendapati respon dari Jenny, namun Jenny memegang ujung jari lelaki itu kemudian Jenny terisak. Lelaki itu dengan sigap kembali kehadapan Jenny kemudian memeluknya yang membuat Jenny sekarang menangis dengan kencang, membuat teriris setiap orang yang mendengarnya. Lelaki itu tetap setia sampai Jenny puas menangis dan kemudian mulai mereda. "Nath....aku udah ga punya siapa-siapa. I'm alone now" ucap jenny sambil sesenggukan. ya lelaki itu adalah Nathan. Dia terbang sesegera mungkin dari Jakarta menuju Australia. "Ssssst, you're not alone. You have me and my parents" Ucap Nathan menenangkan Jenny "Nath kenapa dunia seakan tidak adil padaku. Aku ga punya daddy sedari kecil, namun mommy membesarkan aku dengan baik membuat aku tak pernah protes akan keadaan itu. Tapi sekarang aku kehilangan mommy Nath, aku mau protes...aku mau protes..." Jenny terus menangis. Dia sedih dan marah atas keadaannya. Sedang Nathan hanya memeluk Jenny menyalurkan dukungan padanya, menyadarkan Jenny bahwa masih ada dia yang akan bersamanya. Nathan tidak menjawab pertanyaan Jenny karna dia pun tidak tahu jawabannya. Dia juga tidak mengatakan 'sabar' seperti yang kebanyakan orang lakukan, karena menurutnya itu hanya kata yang meaningless disaat seperti ini.  Pria itu menemani Jenny hingga tertidur. Memeluk gadis itu erat, dia dapat mendengar Jenny mengigau memanggil mommynya 'mom, jenny sayang mommy' masih sesenggukan dalam tidurnya. Tangan Nathan terus mengusap punggung Jenny agar dia bisa tidur lebih nyenyak melupakan sejenak kesedihannya. 'Jen, i hope you can through this' Nathan mengecup kening Jenny dan memeluknya sampai ia pun ikut tertidur. -----------------  Pagi ini sangat cerah tidak seperti hari kemarin. Matahari dengan senang hati menunjukkan wujudnya menyinari bumi. Mataharipun menembuskan sinarnya melewati jendela kamar sepasang sahabat yang masih tertidur lelap. "ehm...." seorang gadis menggerakkan tubuhnya akibat punggung yang tersentuh cahaya sang mentari. Gerakan gadis itu membangunkan seorang pria yang sedang memeluk dirinya. "Morning Jen" ucap sang pria "Morning Nath" ucap sang gadis Jenny dan Nathan mereka terbangun bersama dan bergerak menuju kepala ranjang untuk bersandar "Better" ucap Nathan "thanks to you" ucap Jenny "look at this, so gross" Nathan menunjuk bagian d**a kaosnya yang tampak lembab, membuat mata Jenny membola "aku kan kemarin letih menangis Nath, makanya aku ileran gitu" bentak Jenny "Alesan aja, emang kamunya aja jorok. Nangis ataupun tidur selalu mengeluarkan cairan-cairan yang menodai aku" Nathan berakting jutek pada Jenny "Ya udah sana jangan deket-deket aku" Jenny memukul-mukul Nathan dengan bantal yang ada didekatnya "tuh...tuh kan muka udah kaya nenek sihir" Jenny semakin emosi, membuatnya bangkit berdiri diatas ranjangnya menarik Nathan agar segera pergi Nathan bagai seorang anak yang diseret ibunya saat sedang asik-asiknya bermain Saat mereka sudah berada di pintu, Nathan justru menarik tangan Jenny menyeretnya ke dalam pelukannya "You're not alone, you can lay your head on me" Jenny mengeratkan pelukannya, airmatanya jatuh meresapi kata-kata Nathan yang menghangatkan hatinya yang sempat kehilangan harapan. --------- Selama seminggu Nathan menemani Jenny di Australia, Jenny pun mulai bangkit dari kesedihannya. saat ini mereka melakukan kegiatan favorit mereka ditempat favorit mereka juga "taman St. Mary". Mereka duduk sambil menikmati chips yang mereka beli di 7eleven. "Nath, bagaimana hubunganmu dengan Lytha" Jenny memulai pembicaraan "Aku dan dia baik, tapi ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu" Nathan berubah menjadi serius dan bimbang apakah ini saat yang tepat melanjutkan pembicaraannya "Tentang pertunangan kita?" Jenny menerka "Bagaimana kamu bisa tahu. Iya, aku..." Nathan ragu untuk melanjutkan bicaranya, bagaimanapun Jenny masih berduka "Batalkanlah, kau mencintai orang lain. Aku akan bicara pada Mr & Mrs Green" Jenny memaksakan senyumannya "Nath...you don't have to do this" Jenny tersenyum padaku "mungkin mommy dan orangtuamu cuma takut aku sendirian, maka mereka merencanakan ini. Batalkanlah, kita tidak saling mencintai. Kita hanya teman" lanjutnya "Kau bukan temanku, tapi you're my best friend" Nathan mengusap kepala Jenny "Apa bisa kita bicarakan dengan mereka sekarang, aku ingin segera menyelesaikan masalah ini dan kembali ke Indonesia menemui Lytha" sambung Nathan "Hem, baiklah tapi sebaiknya kau pulang dulu nanti aku menyusulmu, aku ada sedikit urusan" ucap Jenny "Thank you, aku duluan ya. Sampai ketemu dirumahku" Nathan membelai kepala Jenny dan berlalu   Membicarakannya saja kau tampak bahagia, mana mungkin aku egois dengan menahanmu disisiku. Meskipun saat ini jujur aku sangat membutuhkanmu, aku masih sakit Nath. Aku bahkan masih lelah dan berusaha bangkit kembali. Tapi aku tahu rasanya kehilangan dan tak ingin kau merasakannya juga. Lihatlah hujan turun, langitpun tau aku sedang tidak baik-baik saja Nath - Jenny
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN