"Ya ampun...seger banget. Mata jadi plong lagi" ucap Ema yang sedang menggosok rambutnya. Ema berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepinya sambil menatap ke pintu kamar yang tertutup. "Kirain bakal balik lagi. Hmm ya aneh juga sih kalau dia balik lagi cuman gara-gara pengen tidur. Paling nyari tempat lain buat istirahat" baru saja di bicarakan, Indra pun membuka pintu dan memasuki kamar. 'Nah orangnya baru muncul. Baru aja diomongin' batin Ema sambil menatap Indra.
"Ngga usah ngeliatin terus, kalau suka baru tau rasa kamu" Ema hanya menghela nafas melihat Indra berjalan memasuki kamar mandi.
'Setelah aku pikir-pikir lagi. Kayaknya belum saatnya aku ngebuka sepenuhnya perasaan ku buat dia. Ujung-ujungnya bakalan sakit hati mulu. Untung aja baru kebuka, biar aku pending dulu rasa sukaku ke dia. Aku pengen dia duluan yang suka ke aku, baru aku bisa mulai terbuka dengan perasaan ku. Gimana caranya ya supaya dia kepincut' batin Indra. "Kasih pelet?" Ucap Ema. 'Hahaha ngakak banget' batin Ema sambil menahan tawanya.
Tak lama kemudian, Indra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Indra melihat Ema terus menerus melihatnya.
"Ngapain sih liat-liat, risih"
"Emang kenapa? Terserah aku dong, kan aku mau liat suami aku habis mandi" ucap Ema sambil tersenyum.
"Apaan sih..ngga usah senyum-senyum. Ngga ngaruh tau ngga"
"Ya kalau kamu risih ngga usah liatin aku juga. Kan aku yang pengen ngeliat kamu"
"Tapi aku risih di liatin terus" Ema beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati Indra.
"Ngapain dekat-dekat" Indra perlahan berjalan mundur hingga bagian belakangnya mengenai dinding. "Ngga usah aneh-aneh ya" Indra memperingati Ema untuk tidak melakukan hal yang dipikirkan Ema.
"Kenapa? Kita kan udah sah. Harusnya kalau sedekat ini ngga papa dong. Justru kalau lebih nempel lagi, lebih bagus kan" Jarak Ema dan Indra hanya beberapa centi saja.
"Dengar ya. Aku udah bilang sebelumnya, kamu pasti masih ingat. Aku ngga ada niatan mau nyentuh kamu"
"Tapi aku niat banget pengen nyentuh kamu" ucap Ema sambil tersenyum. 'Aku akan buat dia terbiasa dengan kehadiranku. Bukannya cinta itu datang karna terbiasa kan' batin Ema.
"Dasar cewek aneh. Sana minggir"
"Iya aku bakalan minggir" sebelum Ema menyingkir dari hadapan Indra, Ema dengan cepat menarik tengkuk leher Indra agar tertunduk dan Ema langsung mengecup singkat pipi Indra. Indra pun langsung melebarkan matanya, karna terkejut melihat apa yang di lakukan oleh Ema. "Aku keluar duluan ya. Jangan lupa nyusul loh" ucap Ema tersenyum. Indra masih berdiam diri dengan melihat Ema menghilang dari ruangan itu.
"Gila..dasar cewek murahan. Jangan pikir dia bisa cium-cium, terus aku diam aja? Aku bakalan buat kamu ngga betah jadi istri aku Ema" ucap Indra memandang pintu kamar dengan tatapan tidak senang.
....
"Aduh...menantu bunda. Sini nak" panggil Yuyun kepada Ema.
"Udah selesai ya Bun acaranya?"
"Udah nak. Barusan pada pulang ibu-ibu sama bapak-bapaknya" Ema hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Suami kamu mana?"
'Langsung di panggil suami dong sama bunda' batin Ema sambil tersenyum tipis. "Di kamar Bun, katanya nanti mau nyusul" ucap Ema.
"Nak, Indra itu anak yang baik. Bismillah, dia ngga bakalan nyakitin kamu nak"
"Iya bun. Aku tau kok, tadi juga Indra cium pipi aku" ucap Ema sambil tersenyum.
"Beneran nak? Bagus dong kalau gitu. Bunda jadi seneng dengernya"
"Oia, kok cuma sendiri di sini Bun. Yang lain pada kemana?"
"Papa kamu sama suami bunda lagi ngurusin buku nikah kamu sama Indra. Mungkin besok udah bisa di ambil"
"Kalau mama Bun?"
"Mama kamu di luar lagi angkat telfon. Tadi bunda sama mama kamu mesen kue, tapi tukang antarnya malah ke sasar. Jadi mama kamu lagi stay di luar" ucap Yuyun sambil mengganti channel tv. "Eh nak keluar juga kamu, sini duduk" Indra berjalan mendekati Yuyun dan duduk di samping bundanya. "Loh kok duduk di sini, duduk di samping istri kamu dong"
"Ngga ada bedanya Bun"
"Biar Ema aja yang pindah Bun" Ema berdiri dan duduk di samping Indra. Ema sebisa mungkin duduk menempel dan menyentuh tangan Indra.
'Gila nih cewek' batin Indra.
"Nah gitu dong. Kamu jangan malu-malu Indra, giliran berduaan aja kamu langsung sat set" ucap Yuyun. Indra bingung apa yang dimaksud oleh bundanya itu, Indra pun menatap Ema untuk meminta penjelasan. Ema hanya bisa tersenyum menatap Indra.
'Dasar ngga jelas banget nih cewek. Pasti ngomong yang aneh-aneh nih ke bunda' batin Indra sambil berusaha melepaskan tangan Ema.
"Sayang, kamu mau meluk aku ya? Ngga usah malu-malu gitu ih, pake senggol-senggol ngasih kode lagi" Indra menatap tajam Ema tak menyangka dengan ucapan yang di keluarkan oleh Ema.
"Nak, kamu ini diam-diam pengen juga ya" ucap Yuyun sambil tersenyum. "Ditahan ya nak, kita makan kue dulu. Habis itu kamu sama Ema boleh balik lagi ke kamar, biar bisa bebas. Bunda maklumin kok"
"Iya Bun, Indra emang gitu. Di kamar agresif banget, tapi di luar malu-malu. Iyakan sayang" Indra semakin menatap tajam Ema.
"Awas aja ya kamu nanti" ucap Indra tanpa suara hanya membuka mulutnya tetapi masih bisa di pahami oleh Ema.
"Iya sayang, sabar ya. Kita makan kue dulu, kamu ih ngga sabaran banget" Indra pasrah dan hanya bisa menghela nafasnya.
'Beneran gila nih cewek, stres aku lama-lama' batin Indra, langsung menatap layar tv dan tidak peduli lagi apa yang akan di ucapkan oleh Ema. 'Apa ini maksudnya pura-pura? Tapi kan ngga gini juga, risih sumpah' batin Indra.
"Kuenya udah sampai" rium datang ke ruang tamu dan meletakkan kue-kue itu di atas meja. "Eh pengantin baru udah di sini. Pas banget, kuenya udah datang nih"
"Wah kuenya udah sampai" Garly datang bersama Pikri setelah menyelesaikan pengisian dokumen buku nikah Ema dan Indra.
"Yuhu ada kue" Farhan datang menyusul ke ruang tamu. Farhan melihat kedekatan Ema dan abangnya. 'Loh katanya Lo ngga tertarik bang, tapi kok nempel banget gitu' batin Farhan sambil duduk di samping Pikri.
"Wah, udah ngumpul semua nih. Yuk makan" ucap Yuyun. Mereka pun mulai memakan kue dan berbincang-bincang. Mereka tertawa bersama, seperti kejadian beberapa jam yang lalu tidak pernah terjadi. Setelah selesai memakan kue, Ema menarik tangan Indra untuk berdiri. Indra terkejut dan bingung rencana apa lagi yang akan dibuat oleh Ema. Mereka yang masih duduk langsung menatap Ema dan Indra.
"Ema sama Indra mau ke kamar dulu ya. Dari tadi Indra nyenggol-nyenggol Ema terus"
'Nyenggol?! Dari mana?! Mau cewek ini apa sih, gila banget!' batin Indra sambil menatap heran Ema. Farhan yang melihat kedekatan mereka sedikit tidak percaya dengan janji yang diucapkan Indra kepada Farhan ketika di kamar tadi.
'Ini beneran mau pisah apa langgeng?' Batin Farhan tak suka.
"Ya ampun, iya nak masuk gih ke kamar" ucap Rium yang di jawab anggukan oleh para orang tua, selain Farhan. Ia hanya terus menatap Ema dengan tatapan yang sendu.