Pagi pun mulai tiba, Ema masih dengan rasa ngantuknya terbangun dan berjalan dengan langkah kaki yang masih loyo nya bersiap-siap untuk pergi bekerja. Selama 2 hari izin tidak bekerja, kerjaan Ema hanya makan tidur. Tapi kesenangan itu hanya bertahan sebentar. Ema akan memulai kehidupannya yang dipenuhi dengan tugas kantor yang harus di selesaikan, di tambah lagi hari ini adalah hari dimana Ema dan Indra pindah.
"Mau kemana?"
"Mau kerja" ucap Ema singkat. Mulai sekarang Ema sudah tidak mau lagi melakukan hal-hal untuk membuat Indra menyukainya. Ema sangat menyesal telah melakukan hal vulgar seperti itu. 'Cuek aja deh, bodo amat sama langgeng. Kalau dia ngga suka aku ya udah, tinggal ubah prinsipku aja. Semoga mama sama papa ngerti' batin ema sambil tersenyum tipis.
"Terus gimana sama pindahannya? Aku ngga mau ya bawain semua barang kamu" ucap Indra sambil menatap ema yang sedang menghadap ke cermin, Indra menatap Ema dari atas hingga bawah. 'Outfit nya berubah, jadi keliatan beda' batin Indra.
"Ya udah, kamu duluan aja yang pindahin barangnya. Aku pas pulang kerja aja"
"Kalau ditanya bunda gimana?" ema yang bingung dengan ucapan Indra berbalik badan dan menatap Indra sambil mengerutkan keningnya. Indra yang mengerti maksud dari ekspresi Ema langsung melanjutkan ucapannya. "Iya..nanti kalau bunda nanya kenapa ngga kamu aja yang bawain barang istri kamu. Terus aku harus jawab apa"
"Bilang aja, ada yang perlu di periksa lagi barang yang mau di bawa. Gampangkan?" Ema langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar. "Aku kerja dulu. Bye" tanpa menunggu jawaban dari Indra, Ema dengan cepat menghilang dari pandangan Indra.
"Kok aku jadi kesel banget liat dia jutek gitu" ucap Indra sambil mengusap wajahnya hingga ke area rambut dari atas hingga belakang rambut sampai menuju tengkuk lehernya. "Harusnya lega dong dia jutek gitu. Jadi ngga usah nahan geli ngeliat dia manja sama m***m kayak kemarin" ucap Indra sambil menghela nafasnya.
"Bunda, Ema mau berangkat kerja dulu ya" Ema mencium punggung tangan Yuyun.
"Udah mulai kerja nak?"
"Udah bun. Oia, ayah mana bun?" tanya Ema. Semenjak menikah, Ema memanggil Pikri dengan sebutan ayah.
"Ooo udah berangkat kerja barusan, sekalian nganterin Farhan ke sekolah"
"Boc..eh maksudnya Farhan. Dia berangkat sekolah di anter sama ayah bun?"
"Engga, baru kali ini aja. Bunda juga heran, biasanya dia selalu nolak di antar ayahnya, padahal jalur mereka sama. Dia bilang, hari ini ngga ada tenaga buat gerakin motor, bahkan sebenarnya jalan aja terasa berat. Lebay banget kan anak satu itu" ucap Yuyun dengan kepala yang digeleng-gelengkan. Ema hanya bisa tersenyum, Ema menebak itu hasil dari kejadian kemarin. Walaupun masih gantung apa itu benar atau tidaknya.
'Gara-gara aku nikah sama abangnya pasti. Hemm..yah Namanya juga anak muda, paling Cuma Bentar doang sakit hatinya. Nantinya juga kalau ketemu cewek yang setipe dia. Terus happy lagi dan bisa ngelupain aku. Lagian aneh banget, baru aja ketemu udah suka aja' batin Ema. "Bun, Ema berangkat ya"
"Ngga mau sarapan dulu?"
"Ngga usah bun. Sarapan di kantor aja. Assalamu’alaikum"
"Wa’alaikumussalam” Ema berjalan keluar dan mendekati motornya. Ketika sudah menaiki motornya, Ema menyadari dirinya sedang memakai rok span yang pendeknya di atas lutut, menampakkan kaki pendek mungilnya. Tapi bukan terkesan imut, justru terkesan seksi. Karena setiap Ema bekerja dia selalu memakai pakaian yang ketat, atau bisa dikatakan yang pas dengan tubuhnya. Jadi bentuk badannya terekspos itu membuat Ema terlihat sangat seksi. "Susah nih kalau pakai motor. Aku pesen taksi aja deh. Sebenarnya deket sih, tapi mager banget kalau mau ambil celana panjang ke dalam. Nanti ketemu lagi sama si dia" Ema langsung memesan taksi online dan menunggunya di depan halaman. Tak menunggu waktu lama, taksi tersebut datang. Ema masuk ke dalam mobil dan memberitahu alamat tujuannya kepada supir taksi itu. Sepanjang perjalanan supir tersebut selalu melirik kearah kaca spion, melihat tubuh ema yang sangat membuat para lelaki sampai menelan ludah. Tapi ema sangat tidak peduli dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya. Bisa dibilang tidak peka. Apa itu ada hubungannya dengan kisah asmara yang tak pernah ada di hidup Ema? Ya, salah satunya itu.
'Tumben, grup divisiku sepi. Biasanya pagi-pagi udah rame aja' batin Ema sambil mengecek pesan grup w******p yang ada di handphonenya.
"Neng udah sampai" ucap supir itu membuat Ema menghentikan aktivitasnya.
"Ini pak uangnya. Makasih ya pak"
"Iya sama-sama neng cantik" Ema keluar dari mobil tanpa mau menggubris ucapan bapak supir itu. Ketika sampai di kantor, ekspresi dan tingkah ema benar-benar berubah. Ema menjadi seorang wanita yang tegas dan tanpa ekspresi. Ema memasuki ruangannya dan di sambut oleh teman-temannya yang satu divisi, bahkan divisi yang lain pun berada di ruangan itu.
"Selamat datang Cindy" ucap orang-rang yang ada di sana. Ema hanya menjawab dengan senyuman yang elegan tapi masih tampak sisi imut dan seksinya. Membuat para lelaki terpana dengan wanita yang mereka sebut cindy itu. Kenapa Ema di panggil Cindy? Nama lengkap Ema adalah Cindy Emalia. Ketika diluar rumah, Ema akan di panggil Cindy. Sedangkan di rumah, nama Ema adalah sebutan yang biasanya digunakan.
"Halo besty gue yang paling-paling cantik, tapi masih cantikan gue. Gimana 2 hari liburnya? Pasti enak banget" ucap Shelly sahabat Ema. Mereka sudah berteman dari zaman smp dan Sma. Bahkan kuliah pun mereka tetap barengan. Dan di takdirkan untuk bersama lagi di dunia kerja.
"Ngga usah banyak tanya deh. 2 hari gue terasa berat banget tau ngga"
"Aduh aduh, berat kenapa nih. Lu pasti stress ya? Tapi kok ngga keliatan kerutannya"
"Malah ngomongin kerutan. Udah ah, males aku bahas nya" ucap Ema yang mulai focus membuka komputernya dan mengecek apakah ada tugas yang di tinggalkan didalam divicenya.
"Eh selama lu libur 2 hari. Ruangan ini tuh sunyi dan sepi. Karna tak ada pengunjung dari divisi lain. dan lu liat sekarang, ruangan ini udah kayak pasar tau, mereka pada menantikan wanita yang sedang libur 2 hari itu"
"Lebay banget. Ngga usah kepedean"
"Lah, kenapa gue yang jadi kepedean. Yang di lirik elu tau. Ishh pantes aja lu jomblo mulu, inget umur woi. Udah perawan tua lu, cepetan dapetin cowok sana"
"Jodoh udah di atur Allah. Santai aja kali"
"Kalau jodoh lu datengnya pas umurlu 40 tahun gimana?"
"Ya udah, berarti aku dapet lakiknya umur segitu. Kenapa ribet banget sih, yang jomblo kan aku kok kamu yang kerempongan"
"Ini itu bukti cinta gue ke elu Cin. Mau gue masukin elu ke kencan buta ngga?"
"Enggah, ogah banget. Ga mau"
"Ih jangan ogah-ogah mulu, heran deh. Susah banget di suruh kencan buta aja. Elu itu cukup datang ke pertemuan itu, kalau dapet cowok yang cocok yah Tinggal di lanjut hubungannya. Kalau ngga cocok, ya udah selesai. Gitu doang woi. Ngga ribet kan?"
"Ribet banget, ogah" ketika Shelly ingin melanjutkan obrolah, dengan cepat ema menghentikan obrolan tersebut. "Ssst diem. Aku udah dapet tugas nih. Sono pergi ke tempat asal"
"Ishh ngusir lu ya" Ema tak menggubris Shelly dan membiarkan sahabatnya itu pergi menuju meja kerjanya. Para divisi lain yang masih berada di sana pun perlahan menghilang dan memulai pekerjaan mereka. "Oia, gue mau ngasih tau satu lagi" Shelly kembali mendekati meja kerja Ema.
"Apaan" ucap Ema dengan mata yang fokus ke layar komputer.
"Ketua divisi kita sama kepala divisi udah diganti tuh"
"Ha? Kok aku ngga tau"
"Ya iyalah, di kasih infonya pas di kantor"
"Pantes, kirain di grup"
"Lu tau ngga?" tanya Shelly.
"Engga"
"Ya iyalah belum gue kasih tau" ucap Shelly lalu mendekati telinga ema dan berbisik. "Gue denger dua-duanya laki-laki tau"
"Terus?"
"Ya, lu pepet lah. Siapa tau jodoh"
"Ngga, makasih"
“Awas aja lu kalau kepincut sama mereka. Denger-denger kata pihak atasan. Mereka itu masih muda-muda, wuuh semuda apa ya kira-kira"
"Udah-udah, sana balik kerja. Aku jadi susah fokus kalau ada kamu"
"Iya deh, besty gue yang gila kerja" Shelly pun kembali lagi kemeja kerjanya. Ema pun bisa melanjutkan kerjanya tanpa gangguan dari sosok besty cerewetnya itu.