Ratu sudah pergi dari kamar ini begitu mendengar ada tamu yang datang. Begitu pun dengan Uhi dan Merku, mereka mendapatkan sebuah tugas yang lain dari Sang Ratu.
Setelah mereka pergi dari ruangan ini, tubuhku terasa sangat lemas. Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku merasa sangat mengantuk. Apakah karena minuman yang diberikan Uhi tadi, sehingga membuat aku sangat mengantuk. Tetapi buat apa Uhi memberikan aku minuman yang seperti itu. Atau, ada orang lainkah yang menginginkan aku tertidur seperti itu.
Apakah ada hubungannya dengan seseorang yang tadi mengintip di luar?
Aku tidak sanggup lagi menahan mataku yang sangat berat. Semuanya lambat laun berubah menjadi gelap. Aku tidak bisa melihat dan mendengar apa pun. Aku hanya merasakan kesunyian dalam kegelapan.
Ada apa dengan tubuhku?
***
Hari ternyata sudah sangat gelap. Aku masih berada di tempat terakhir aku tertidur. Ruangan ini masih tetap sunyi seperti tadi.
“Sepertinya, aku baik baik saja?” Aku memperhatikan tubuhku yang tidak mengalami luka apa pun.
Aku hanya sedikit merasa lelah.
“Kriyukkk...” Dan perutku sangat lapar.
Sepertinya seharian ini, aku belum makan apa pun. Atau mungkin di dunia ini, orang orangnya tidak makan. Lalu, bagaimana cara mereka untuk bertahan hidup.
“Tok... tok....” Belum saja, aku menemukan jawabannya. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Masuk,” kataku.
“Putri sudah bangun?” tanya Uhi yang masuk dengan membawakan beberapa makanan.
“Mmmm...” Aku menjawabnya dengan deheman.
“Kok, kalian bisa pas banget datangnya pas aku bangun?” tanyaku penasaran.
“Ya tentu saja, kami kan....”
“Stttt...” Merku langsung menghentikan sesuatu yang akan dikatakan oleh Uhi.
“Kami apa?” Aku memaksa Uhi untuk melanjutkan yang akan dia katakan tadi.
“Kami kan pelayan pribadi anda. Tentu saja, kami tahu,” kata Merku.
Aku sangat yakin, bukan itu yang hendak dikatakan Uhi tadi.
“Kenapa kalian baru mengantarkan makanan jam segini?” tanyaku.
“Mmmm... biasanya putri memang minta diantarkan makanan hanya malam hari saja,” kata Uhi.
“Apakah di sini, orang orangnya makan hanya sekali dalam sehari?” tanyaku lagi.
“Ya enggak, putri. Kita makan bisa kapan saja,” jelas Merku.
“Lalu, kenapa aku hanya dibawakan makanan satu kali aja?” Aku tidak paham dengan cara berpikir mereka.
“Karena, biasanya memang seperti itu.” Merku mengatakan itu adalah kebiasaan aku di sini.
Aku harus mencari tahu, apa saja kebiasaan Moyline di sini. Pasti ada yang dia lakukan, sehingga mereka hanya memberikan aku makanan di malam hari.
Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari diriku ini?
Setelah mereka meletakan semua makanan di atas meja, mereka pun pergi meninggalkan aku. Mereka seperti tidak mau ditanya lebih banyak dari diriku. Sehari ini, aku merasa bagaikan tawanan yang tidak sadarkan diri. Tetapi, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku ini.
Aku mencoba keluar dari kamar ini. Ternyata, mereka tidak mengunci kamarku. Aku melihat seluruh bagian istana gelap semua. Uhi dan Merku sudah tidak terlihat di luar. Padahal, mereka baru saja keluar dari kamar ini.
Jika diperhatikan dengan seksama, istana ini bagai istana tidak berpenghuni. Besar tetapi sunyi dengan penerangan yang tidak terlalu banyak. Apalagi, malam ini tidak ada cahaya bulan sama sekali. Semakin terasa sangat gelap.
Aku masih sangat penasaran dengan tempat ini. Tetapi, aku tidak mungkin keliling menyusuri tempat yang gelap ini. Aku tidak mengenal setiap seluk beluk istana. Aku pasti akan tersesat, jika harus memaksakan diri untuk mencari tahu tempat ini.
Akhirnya, aku putuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar. Aku pikir, lebih baik besok pagi saja aku keliling mencari tahu tempat ini. Tempat yang luas dan dingin ini pasti menyembunyikan suatu rahasia. Uhi dan Merku juga terlihat sangat mencurigakan.
Aku harus mencari tahu semuanya?
***
Pagi ini, saat cahaya matahari sudah mulai menyinari. Aku langsung keluar dari kamar ini. Aku tidak mau Uhi dan Merku datang untuk segera melarang diriku untuk keluar.
“Dingin...” Aku merasakan angin pagi ini begitu menusuk kulit.
Apalagi, baju yang aku pakai sangat tipis dan pendek. Aku tidak menemukan lemari baju untuk sekedar mencari baju yang tebal dan hangat. Karena tidak ingin membuang buang waktu, aku pun keluar dengan keadaan apa adanya.
Aku berusaha menahan rasa dingin ini dan berjalan menyusuri lorong lorong yang sepi dan gelap. Di mana semua orang orang yang tinggal di istana ini?
Aku juga tidak melihat keberadaan Ratu di istana ini. Uhi dan Merku juga tidak menunjukan jejak sama sekali. Apa orang orang yang aku lihat itu nyata atau tidak?
Di mana tempat aku berada sekarang?
Mengapa aku merasa sedikit ketakutan dengan suasana di sini. Aku merasa, hanya aku yang tinggal di istana yang luas ini.
“Aku penasaran di mana kamar Jenihelt?” tanyaku sendiri sambil melihat kanan kiri.
Semua kamar yang aku lalui tidak ada satu pun yang menyala lampunya. Aku juga tidak merasakan seseorang berada di dalam salah satu kamar yang aku lalui.
Aku coba terus menyusuri lorong istana ini. Istana ini memiliki empat tingkat ke atas. Seingat ku, kamar pertamaku tadi berada di lantai tiga. Sampai, kedua orang tadi membawa aku ke sebuah kamar di lantai dasar. Walau aku mengamati dengan kagum setiap inci istana ini. Aku mengetahui jalan untuk kembali ke kamarku semula.
Kini, aku mencoba mencari jalan yang berlawanan arah dengan jalan yang menuju kamar. Aku mencoba mengelilingi teras di lantai dasar ini. Setiap ruangan yang besar, aku membukanya. Berharap, itu adalah sebuah dapur. Namun, aku tidak menemukannya. Aku hanya menemukan sebuah ruangan yang besar tanpa apa pun di dalamnya. Hanya ada sebuah kursi kebesaran di bagian yang sangat mencolok. Jalan menuju kursi itu juga dibentangi oleh karpet merah yang indah. Karpet itu seolah melayang. Namun, saat diinjak tidak merasa jika kita sedang melayang.
“Klantong...” Aku mendengar sesuatu yang terjatuh dari sisi bagian belakang.
“Siapa itu?” Aku langsung melihat ke arah asalnya suara.
Tetapi, aku tidak melihat apa pun di sana. Aku pun melihat sebuah vas yang terbuat dari tembaga tergeletak di lantai. Tidak mungkin, benda ini bisa terjatuh begitu saja dari tempatnya. Aku melihat sebuah tempat yang sepertinya tempat vas itu berada. Aku pun meletakan benda itu kembali ke tempatnya.
Aku terus melihat kanan dan kiri. Berharap, aku bisa melihat bayangan seseorang yang tadi menjatuhkan vas ini. Namun, aku tidak melihat sesuatu pun bergerak lagi.
“Bagaimana bisa dia bergerak dengan sangat cepatnya?” Aku merasa sedikit merinding dan ketakutan.
Karena aku tidak menemukan apa pun, aku pun memilih untuk keluar dari ruangan itu. Aku tidak berlama-lama di ruangan itu. Aku kembali mencari ruangan yang besar lainnya. Sampai aku menemukan sebuah ruangan yang penuh dengan buku buku. Buku buku di sini lebih mirip dengan gulungan kertas, buku usam. Bahkan, ada beberapa buku yang terbuat dari daun. Ini tempat yang sepertinya menarik. Tetapi untuk saat ini, aku tidak mau berada di sini. Namun, aku bisa mencari tahu tentang negeri ini di sini. Tempat ini seperti bisa menjadi petunjuk diriku.
Aku harus mencari tahu lebih jauh lagi tentang istana ini. Aku juga harus mencari semua orang orang yang kemarin aku temui. Semuanya seakan menghilang ditelan bumi. Sejauh ini aku menyusuri setiap sudut istana. Aku tetap tidak menemukan seorang pun.
Di bagian bawah sini, hanya ada dua ruangan besar di bawah sini. Sisanya, hanya berupa kamar yang sama dengan tempat aku dikurung oleh Uhi dan Merku tadi. Istana ini bentuknya memutar. Jika kita berjalan dari satu tempat, kemudian mengelilinginya. Maka kita akan kembali lagi ke tempat semula.
“Di mana letak dapur?” tanyaku sambil mencari tempat yang tidak aku temui dari tadi.
Di halaman istana ini tidak ada tempat lain yang berbentuk sebuah ruangan. Sebegini luas dan besarnya istana ini, namun dia tidak memiliki satu ruangan yang bernama dapur. Lalu, bagaimana orang orang ini masak. Atau setidaknya, bagaimana orang yang tinggal di istana ini bisa mendapatkan makanan.
“Hufff…” Aku hanya bisa menarik napas panjang.
Setelah lelah berkeliling istana yang luas ini. Bahkan air untuk minum saja tidak ada. Ada pun air yang aku lihat dari tadi pagi, hanya air mancur yang berada di sebelah timur istana ini. Dan juga, air yang berada di kamar mandi. Aku tadi sempat menggunakannya untuk membasuh mukaku. Tetapi, aku belum sempat mandi dari tadi pagi. Padahal, badan ini sudah sangat lengket rasanya.
Oh ya, ada satu lagi air yang aku temui di sini. Air yang berada di dalam kasurku. Tetapi, air itu aneh. Tidak bisa di sentuh. Aku memang tidur di atasnya, tetapi tanganku juga bisa masuk ke dalam air itu. Layaknya sedang memasukkan air ke dalam kolam. Tetapi anehnya, tangan ini dan tubuh ini tidak basah sama sekali. Bahkan, baju yang aku kenakan juga tidak basah.
“Kemana lagi, aku harus mencari makanan dan minuman.” Aku sudah sangat putus asa.
“Bahkan, baju ganti saja tidak ada di dalam istana ini,” kataku sambil melihat baju yang belum aku ganti dari tadi.
Baju tidur yang tipis. Aku juga merasa sangat kedinginan karenanya.
Lalu, aku melihat lihat lagi di berbagai arah. Siapa tahu, aku bisa menemukan sesuatu yang aneh lagi. Namun, satu satunya yang aneh di sini. Hanyalah, pohon besar yang berada di tengah tengah istana ini.
Aku pun menghampiri pohon besar itu. Dan melihatnya lebih dekat. Sangat lebat dan mengeluarkan wangi yang aneh. Bercampur campur aroma keluar dari pohon itu. Tetapi, semua aroma yang aku rasakan sangat membuat aku nyaman. Saat aku sudah berada di bawah pohon itu, aku mulai merasakan sebuah kehangatan yang aneh. Karena penasaran, aku pun menyentuh batang pohon yang besar itu.
Tiba-tiba saja pohon itu mengeluarkan cahaya aneh. Tetapi, tidak terasa panas. Lalu, dari mana asalnya perasaan hangat ini. Setelah, aku melepaskan tanganku dari tubuhnya. Cahaya itu pun hilang. Namun, ada sesuatu dahan berwarna lain dari yang lain. Dahan itu tidak ada sebelumnya.
“Apa ini?” Aku penasaran. Lalu, menyentuh dahan yang aneh itu.
Dan lagi-lagi muncul sebuah cahaya aneh. Tetapi kali ini, cahaya itu bukan dari tubuh pohon ini. Tetapi dari sisi sebelah kanan pohon tersebut. Setelah cahaya itu menghilang, sama halnya seperti tadi. Tiba-tiba, aku melihat sebuah pintu yang berdiri tegak tanpa ada dinding di sekeliling pintu tersebut. Pintu itu juga dapat dilihat dari berbagai sisi.
“Pintu apa ini?”