BAB 14

1844 Kata
“Aku ingin kamu mencoba semua makanan ini?” Aku meminta dua orang yang menyiapkan makanan ini untuk mencicipinya. Aku tidak mau di dalam makanan itu, mereka letakan obat tidur lagi. “Kalau aku mencoba semua makanan ini, putri baru mau makan?” tanya Merku. “Tapi....” Uhi terlihat ingin mencegah yang akan dilakukan oleh Merku. “Iya. Kalau sudah dicoba semua, aku baru makan,” jawabku dengan tegas. “Baiklah.” Merku melakukannya dengan sangat tenang. Dia mengambil semua makanan itu ke dalam piringnya. Kemudian, dia mencoba semua makanan itu sampai semua makanan yang di piring itu habis. Aku tidak melihat sesuatu yang aneh pada diri Merku setelah melahap habis makanan tersebut. Apakah aku sudah salah sangka terhadap mereka? “Sekarang, putri sudah mau makan kan?” tanya Merku. “Mmmm... baiklah.” Tidak ada alasan lagi, untuk aku menolak itu. “Sebenarnya, putri kenapa sampai menolak untuk makan. Bahkan sampai harus dicoba dulu. Putri tidak pernah seperti ini sebelumnya?” “Deg.” Aku menahan napasku saat mendengar apa yang Merku tanyakan. “Sebenarnya, aku cuma penasaran aja. Apakah di dalam makanan ini ada obat tidurnya atau tidak.” Aku mengatakan dengan sesungguhnya, apa yang ada di benakku. “Jadi, putri mengira kami memasukan obat tidur ke dalam makanan ini?” Uhi tidak terima aku menuduhnya seperti itu. “Bukannya tadi kamu sempat melarang Merku untuk mencicipi makanan itu. Soalnya, kamu tahu di dalamnya ada obat kan?” Aku mencoba memukul mundur perkataan Uhi. “Bu... bukan be... gitu.” Lagi-lagi, dia terlihat gugup saat menjawabnya. “Uhi hanya merasa kalau perbuatan aku ini tidak sopan, putri. Bukankah begitu Uhi?” Merku menolong Uhi yang masih tidak bisa menjawab pertanyaan aku tadi. “I... iya. Aku cuma berpikiran kalau mencoba makanan buat putri itu, tidak sopan.” Uhi menahan rasa gugupnya. “Oooo... begitu,” kataku datar. “Kenapa putri bisa beranggapan kalau di makanan ini ada obat tidurnya?” Merku mencoba memancing diriku untuk mengatakan yang sebenarnya. “Ya soalnya, kemarin aku merasa tidur seharian di kamar ini. Dan itu setelah meminum air yang kalian berikan,” jawabku. “Kalau kemarin, aku memang memasukan obat tidur ke dalam minuman putri.” Merku mengatakannya dalam keadaan tenang. “Merku....” Uhi terlihat terkejut saat Merku mengatakan yang sebenarnya. Tetapi, Merku tetap tidak terpengaruh dengan sikap panik Uhi. Aku juga tidak menyangka, Merku akan mengatakan kebenarannya. Memang, dia tidak bisa ditebak sama sekali. “Kenapa kamu melakukan itu?” tanyaku dengan tatapan tidak senang. “Aku melakukannya karena disuruh sama Ratu,” jawab Merku. “Merku...” Kali ini, nada suara Uhi lebih tinggi dari yang tadi. Dia mencoba melarang Merku untuk mengatakan tentang kejadian kemarin. “Kenapa Ratu melakukan itu?” Aku menanyakan hal yang sama lagi. “Karena Ratu ingin putri tidak terlalu stres,” jawabnya. “Stres? Stres kenapa?” tanyaku. Aku tidak merasa stres sama sekali, kemarin. Mengapa Merku bilang supaya aku tidak merasakan stres. Apa yang sebenarnya bisa membuat aku seperti itu. Aku rasa kemarin tidak ada kejadian yang terlalu menegangkan. “Kemarin, putri Jenihelt mencoba melukai putri Moyline lagi. Sebelum sebelumnya, putri Moyline pasti akan mengalami stres yang berkepanjangan jika tidak segera dibuat tenang,” jelas Merku. “Ooooo... itu,” gumamku. Aku memang ingat tentang kejadian Jenihelt yang aneh. Tetapi, aku tidak merasa bahwa itu dapat membuat aku stres. Aku menanggapi kejadian itu biasa saja. Malah, aku merasa kagum dengan kekuatan yang dimiliki oleh Jenihelt. Aku juga penasaran dengan semua kekuatan yang dia miliki. Bukannya iri dan ingin memilikinya. Aku hanya kagum saja dengan sesuatu yang baru aku lihat. “Putri emangnya enggak takut karena kejadian kemarin?” Kali ini, Uhi yang bertanya kepada diriku. Dia terlihat bingung dengan ekspresi ku yang biasa biasa saja. “Mmmm... enggak,” jawabku dengan santai. Spontan, Uhi dan Merku jadi saling bertatapan satu dengan yang lainnya. Apa aku sudah salah mengatakan, aku tidak takut dengan kekuatan Jenihelt kemarin. Apalagi, Jenihelt memperlihatkan dirinya untuk kedua kalinya. Dan aku tetap tidak merasa, bahwa Jenihelt itu sebuah ancaman. Aku hanya merasa aneh dengan perempuan itu yang sifatnya sangat berbeda dengan yang ada di dalam mimpiku. Aku sangat yakin, itu memang dia. “Ya udah. Kalian enggak usah ambil pusing. Aku ingin mengenal dekat Jenihelt. Karena itu, aku tidak boleh takut sama dia,” kataku. “Mengenal dekat? Putri yakin?” tanya Uhi. “Ya tentu saja,” jawabku. “Tapi...” “Sudahlah Uhi. Mungkin memang sudah saatnya Putri Moyline dan Putri Jenihelt saling mengenal satu dengan yang lain. Selama ini, mereka kan memang saling berjauhan.” Merku langsung memotong ucapan Uhi. “Tapi yang membuat mereka jauh itu kan, Jenihelt sendiri,” kata Uhi yang terdengar tidak senang terhadap Jenihelt. “Putri.” Merku menyuruh Uhi untuk sopan memanggil Jenihelt dengan sebutan Putri. “Ya. Putri Jenihelt.” Uhi sangat terpaksa mengatakannya. “Kalian kenapa enggak suka banget sama Jenihelt?” tanyaku penasaran. “Gimana bisa suka. Dia itu sangat menyebalkan. Dia....” Uhi tidak melanjutkannya. Karena, Merku langsung mencubit tangan Uhi. Dia sepertinya menahan Uhi untuk mengatakan kelakukan Jenihelt yang sebenarnya. “Apa sih,” kata Uhi kesal sambil mengusap usap tangan yang dicubit oleh Merku. “Kalau kamu ingatkan, nanti Putri Moyline berubah pikiran lagi. Mau sampai kapan dia tidak menunjukkan kemampuannya,” bisik Merku. Namun, aku masih bisa mendengarnya. “Oh iya iya...” Uhi pun setuju dengan pendapat Merku itu. Dia tadi menyinggung tentang kekuatan. Apa aku juga memiliki kekuatan seperti Jenihelt? Tetapi, tiba-tiba aku teringat dengan yang dikatakan oleh pohon raksasa itu. Dia bilang, aku tidak memiliki kekuatan seperti yang dimiliki Jenihelt. Namun, mengapa Uhi dan Merku malah mengatakan hal yang sebaliknya. Ada apa sebenarnya ini? Siapa sebenarnya Moyline ini? “Putri lagi mikirin apa?” tanya Merku yang sadar aku sedang melamun. “Mmmm... enggak ada,” jawabku. “Tuh kan. Kamu sih, Hi.” Merku sepertinya menyalahkan Uhi dengan perubahan sikap aku yang tiba-tiba. “Enggak usah dipikirkan putri. Anda harus mulai belajar mendekati Jenihelt. Sama seperti yang anda katakan tadi. Putri jangan menghindar dari putri Jenihelt terus,” bujuk Uhi. “Iya, putri. Makanya, sekarang putri mending makan dulu. Biar tenaga putri kembali pulih,” sambung Merku. “Mmmmm...” Aku hanya bisa diam mengikuti ajakan mereka. “Uhi... cepat kamu ambilin piring dan sendok yang baru,” suruh Merku sambil merapihkan tatanan makanan yang ada di atas meja. Entah apa yang dilakukan Uhi. Aku tidak jelas memperhatikannya. Yang pasti, dia tidak keluar dari kamar ini. Dia hanya pergi ke bagian pojok kamar ini. Dan dia kembali ke sini, sudah membawa piring dan sendok yang lain. Padahal, aku sudah pernah memeriksa bagian pojok itu. Di sana tidak ada apa pun. Bahkan lemari juga tidak ada. Aku hanya melihat batang pohon yang menembus di dinding kamar ini. “Ini piring dan sendoknya,” kata Uhi sambil bergegas meletakkannya di atas meja. Uhi dan Merku terlihat sibuk menyiapkan makanan untuk diriku. Memang ini sudah sangat siang untuk sarapan. Merku juga menyiapkan air minum terlebih dahulu, agar aku meminumnya sebelum makan. Antara ragu dan tidak, aku pun menerima gelas yang diberikannya. Aku juga meneguk minuman itu. Anehnya, dalam seketika aku merasakan segar. Entah, air apa yang sudah diberikan oleh Merku. Air ini sama seperti air yang pernah Ratu berikan kepada diriku. “Sudah... sudah... aku bisa makan sendiri.” Aku langsung melarang Merku yang melayaniku secara berlebihan. “Tapi...” Dia tetap ingin melakukannya. Merku sangat ingin melihat aku menghabiskan semua makanan ini. “Iya... aku akan habiskan makanannya. Kamu tenang aja,” kataku. Aku berharap, Merku berhenti dengan semua yang sedang dia lakukan. “Putri enggak mau disuapin?” tanya Merku. “A... aku enggak biasa seperti ini.” Aku mencoba menolaknya. “Mmmm... iya sih.” Dia seperti mengingat kebiasaan diriku. Jadi memang sebenarnya, mereka tidak pernah melayani diriku seperti sekarang ini? Aku jadi semakin yakin, jika mereka berdua memang ular berkepala dua. Aku tidak boleh lengah begitu saja. Aku harus bisa merubah semuanya, agar aku bisa menguasai keadaan di sini. Aku tidak mau mereka berbuat sesuka hati mereka. Seperti yang mereka lakukan kemarin. “Udah, mending kalian tinggalkan aku sendiri. Aku enggak nyaman, kalau makan harus dilayani seperti ini. Apalagi, setiap menyuap diperhatikan,” kataku menyuruh mereka berdua untuk keluar dari kamar ini. “Ya udah, baiklah putri.” Merku langsung menuruti keinginanku itu. “Tapi putri harus habiskan makanannya ya?” Uhi ingin memastikan diriku agar tidak menyisakan makanan yang ada. “Iya.” Cara cepat agar mereka segera pergi dari sini adalah menuruti keinginannya. “Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu,” kata Merku. Dan mereka pun keluar dari kamar ini setelah aku menggerakkan tanganku. Aku terus memperhatikan pintu kamar ini. Aku ingin memastikan mereka sudah tidak ada di belakang pintu itu. Dan ternyata, mereka memang langsung pergi dari depan kamarku. Mereka tidak mengawasi aku untuk menghabiskan makanan makanan ini. Setelah aku lihat, makanan ini tidak ada yang aneh. Merku juga tidak tertidur setelah memakan semua ini. Padahal, dia cukup lama ada di kamar ini. Dan tidak ada tanda tanda, bahwa dia sudah memakan obat tidur. “Ya udah, dari pada dibuang buang ini makanannya. Mendingan aku makan aja. Sayang,” kataku sambil memperhatikan setiap makanan yang sangat mengiurkan itu. Walau bentuknya cukup aneh, tetapi sepertinya semua makanan ini sangat enak. Buktinya, tadi Merku memakannya dengan sangat lahap. Aku pun mulai mencicipi makanan yang baru aku lihat ini. Aku tidak tahu nama nama makanan yang aku makan. Dari bentuk dan cara mengolahnya, tidak ada satu pun yang aku kenal. Bahkan, bahan yang mereka gunakan juga aku tidak pernah lihat. “Mmmm... enak,” gumamku saat mencoba makanan yang berbentuk cabe besar. Namun, dia tidak berwarna merah atau hijau. Melainkan dia berwarna ungu kebiru-biruan. Aku sempat berpikir ini adalah makanan beracun. Tetapi begitu mencoba rasanya yang enak, aku langsung merubah anggapanku tadi. Aku tetap dapat merasakan bumbu bumbu dasar yang mereka gunakan, masih sama dengan yang biasa aku makan. Ada rasa bawang merah dan juga lada di makanan ini. Itu artinya, tidak semua jenis makanan yang ada di sini aneh. Aku benar benar harus belajar banyak untuk bisa tinggal di sini. Awalnya aku masih ragu, apakah benar ini dunia peri. Tetapi, setelah aku melihat berbagai keanehan yang ada di sini, aku sedikit meyakininya. Walau belum seratus persen percaya dengan semua ini. Atau bisa saja, semua ini memanglah rekayasa dari seseorang yang sangat jenius. Sehingga dia bisa menciptakan berbagai keanehan yang ada di sini. “Aku harus bisa mencari tahu tentang semua ini,” kataku penasaran. Aku pun melanjutkan memakan semua hidangan yang aneh aneh ini. Dan rata rata, rasa masakan ini memang enak enak. Walau tetap ada dari makanan ini yang rasanya aneh juga. Setelah aku memperhatikan, hampir semua makanan ini berbahan dasar seperti buah dan sayur. Meski begitu, ada beberapa makanan juga yang rasanya mirip seperti daging. Walau sebenarnya, itu adalah buah. Namun, aku tetap menikmati semua ini. Aku tidak berpikir, bahwa yang aku sedang memakan makanan yang mungkin saja sudah tercampur sesuatu. Aku seperti terhipnotis untuk melahap habis semua makanan ini. Entah apa yang akan terjadi dengan diriku ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN