Keluarga Adit yang Penuh dengan Kehangatan

1205 Kata
            “Ehemm” Adit berdehem ketika ia baru selesai mandi dan melihat Adhim sedang berbincang dengan nyak. Adit hanya ingin memberikan kode agar Adhim jangan sampai keceplosan mengatakan hal yang tidak harusnya diberitahukan kepada nyak. Takutnya nanti malah Adit yang kena masalah karena rahasia yang sengaja di simpan justru terbongkar.             “Lu kenapa Dit? batuk?” tanya nyak ketika Adit masih asyik berdehem. Adit yang di tanya seperti itu hanya tersenyum simpul saja. Adhim sendiri masih asyik mengobrol tanpa tahu maksud deheman dari sang abang.             Adit masuk ke dalam kamar, tak lupa memberikan kode ke Adhim agar ia mengikuti Adit. Adhim pun paham dan mengekori abangnya ke kamar.             “Dhim, lu ada bahas apaan saman yak?” tanya Adit sambil memasnag wajah serius.             “Ngebahas pas nonton bola tadi aja bang, kagak ada yang lain” jawab Adhim.             “Jangan cerita-cerita ya abang punya hape baru, ntar yang ada malah rame” ujar Adit mengingatkan. Adim kemudian mengangguk tanda mengerti walaupun sbeenarnya ia juga bertanya-tanya bagaimana caranya sang abang bisa memiliki hape mahal yang harganya tentu sangat tak terjangkau itu.             Adit dan Adhim pun bergantian shalat ashar kemudian bersantai sejenak smabil menunggu bapak selesai berkebun barulah kemudian bersiap-siap untuk pergi ke musholla bersama-sama seperti biasanya untuk menunaikan shalat magrib berjamaah.             Hana beserta mama dan papa sedang bersantai di taman belakang sambil mmakan camilan dan teh hangat yang telah disiapkan. Mereka bertiga asyik bersenda gurau, emmanfaatkan waktu libur bersama. Sebab kalau hari biasa, akan sangat sulit bercengkarama seperti ini, karena amsing-masing sibuk berkegiatan. Jadilah, bila ada sedikit waktu luang, papa Hana kan menyempatkan waktu untuk sekadar bercerita bersama istri dan juga putri semata wayangnya itu.             “Pa, kita beneran jadi pindah ya nanti tu?” tanya Hana sambil mengunyah gorengan yang ada di atas meja.             “Sepertinya begitu, kenapa sayang?” tanya Papa Hana yang asyik menyeruput the hangat taanpa gula yang telah istrinya siapkan. Papa Hana memang mengurangi makanan dan minuman yang terlalu manis. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit diabetes membuat Papa Hana cukup protektif dalam memilih makanan dan minuman yang akan di konsumsi, hal itu pun didukung oleh mama Hana yang benar-benar menjaga asupan makanan yang layak dikonsumsi untuk suaminya tercinta.             Memangnya Hana nggak mau kita pindah?” tanya mama memastikan.             “Emmmm, kalo boleh milih Hana sih nggak mau pindah-pindah terus ma, pa. Tapi kalao papa memang nyuruh buat pindah, Hana mah bisa apa” jawab Hana. Rupanya Hana memang masih setengah hati untuk menerima bahwa ia harus ikut ke mana saja papa dan mamanya akan pindah nanti. Mau menolak dengan cara apapun tetap saja, Hana tak punya nyali untuk menentang apa yang papanya inginkan. Papa Hana sosok yang amat sangat tegas. Apa yang ia bicarakan adalah suatu hal yang mesti dilaksanakan. Meskipun begitu, apa yang Hana pinta, selalu diusahakan papa Hana untuk di kabulkan walaupun mama kadamg berselisih paham sebab papa Hana terlalu memanjakan anak. Maklumlah, anak satu-satunya sehingga kasih sayang tercurah seluruhnya kepada Hana seorang.             Langit sore makin merangkak naik. Adit dan Adhim menunggu adzan magrib sambil menonton acara televisi di ruang tengah. Nyak masih asyik menjahit beberapa baju pelanggan, ada yang kancingnya lepas,ada juga yang hendak di rombak total dan lain sebagainya. Dari penghasilan nyak yang tak menentu itu, lumayan membantu untuk memenuhi berbagai kebutuhan di rumah, penghasilan bapak sebagai tukang ojek juga sebenarnya akan sulit untuk bisa di sebut cukup untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga namun dengan pengelolaan keuangan yang baik dari nyak dan juga nyak ikut sedikit banyak membantu sehingga semuanya berjalan dengan lancar. Adit bersyukur terlahir dari keluarga sederhana yang memegang teguh arti kejujuran, kera keras dan pantang menyerah. Nyak dan bapak selalu mengajarkan kepada Adit dan Adhim agar menjadi sosok yang kuat, tak pantang menyerah walaupun kelak akan ada banyak cobaan dan rintangan yang menanti. Menjadikan Adit dan Adhim anak yang tidak manja, siap menjalani kerasnya kehidupan kelak.             Adzan magrib berkumandang, bapak, serta Adit dan Adhim bersiap untuk pergi ke musholla. Nyak juga sedang mempersiapkan makan malam di dapur, menu makan malam kali ini ada lalapan sayur, sambal serta ikan yang kebetulan di beli berbarengan dengan ayam yang nyak beli ketika belanja ke pasar. Lumayan uang yang harusnya untuk membeli ayam, tidak terpakai karena di beri oleh teman karib waktu sekolah dulu hingga alokasi uangnya bisa di gunakan untuk membeli ikan, sumber protein lain seperti tahu, tempe, bumbu dapur dan beberapa jenis sayuran yang tidak di tanam di pekarangan belakang rumah. Nyak mengolah setiap maskaan dengan penuh cinta sehingga masakan rumahan yang identik dengan rasa itu-itu sjaa di tangnanya menjadi makanan yang sedap di santap bersama anggota keluarga. Sebagai wanita tercantik di rumah ini, karena memang nyak memiliki dua anak lelaki dan suami yang sudah pasti laki-laki. Masakan yang nyak masak padahal masakan sederhana namun karena diolah dengan penuh cinta sehingga menghasilkan masakan yang enak dan sedap terasa. Menu sederhana sekalipun pasti akan memikat siapaun yang mencicipnya apatah lagi makanan enak yang diolah dari bahan yang berkualitas.             “Assalamualaikum” ucapan salam dari bapak dan kedua anak lelakinya hampir berbarengan.             “Waalaikumsalam” ujar nyak sambil melepaskan mukena. Nyak juga baru selesai menunaikan shalat magrib, tak lama kemudian nyak kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam, tak lupa Adit dan Adhim membnatu nyak membawa piring yang telah berisi lauk, sayur, cobe sambal dan yang lainnya. Mereka bertiga kemudian menata makanan di atas tikar yang berada di ruang tengah. Tak ada sofa mewah atau kursi tempat untuk duduk, hanya ada selembar tikar rotan dan karpet yang difungsikan bila ada tamu. Setelah makanan tertata dnegan rapi, berdoa bersama kemudian keempat orang anggota keluarga bahagia itu makan bersama, mereka makan dengan lahap sambil sesekali bercanda gurau. Semakin menambah kesan hangat dan menambah keakraban dalam keluarga ini.             Keluarga Pak Suryo juga sedang menikmati makan malam bersama, dengan menu makanan yang lezat. Ada ayam, daging, dan juga ikan. Menu makanan beragam yang terkadang tak juga bisa mereka bisa habiskan. Nmaun karena menu kesukaan yang berbeda-beda membuat mama Hana harus membuat menu maknan yang beragam. Apalagi di tambah dengan bantuan asisten rumah tangga, tentu bukan menjadi hal yang sulit bagi mama Hana untuk menyak=jikan berbagai macam jenis makanan yang tentu menggugah selera. Uang yang melimpah tentu membuat mama Hana tak keberatan untuk membeli banyak bahan makanan bahkan terkadang membeli makanan jadi dengan bantuan aplikasi. Hanya saja intensitas bertemu dan berkomunikasi dnegan penuh kehangatan sulit terjadi, apalagi bila Pak Suryo sedang sibuk dengna pekerjaan, Hana yang sibuk dnegan sekolah dan teman-teman sebayanya, atau bahkan mama Hana yang sibuk dengan teman-teman arisan. Semua yang diinginkan setiap orang telah dimiliki oleh Hana, namun ia merasakan kehangatan keluarga yang kurang di bandingkan keluarga lainnya. Terkadang ia merindukan sosok keluarga yang mengayomi, penuh kehangatan seperti teman-temannya yang lain.             Usai makan bersama, Hana kembali ke kamar. Mama masih membereskan sisa makan malam bersama asisten rumah tangga. Mama Hana tipikal ibu rumah tangga yang tidak manja sehingga ia mengusahakan agar Hana pun menjadi anak mandiri dan jauh dari kata manja, namun prinsip suaminya yang selalu memanjakan Hnaa membuatnya tak bisa berkutik, mau melawan pun jelas tak mungkin karena papa Hana kalau sudah berkata A memang A yang harus dikerjakan, tak boleh yang lainnya. Mama Hana memiliki persepsi berbeda tentang cara mengasuh anak, tapi lagi-lagi sebagai istri yang harus patuh kepada suami, maka ia harus pandai-pandai menyingkirkan ego pribadinya.                         
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN