Bab 1

1248 Kata
"Curang," seru gadis remaja itu sembari mencoba menarik kerah kemeja si lawan bicara. Bibir gadis itu menberengut dan tampak kesal. "Hei, Ray. Jadi cewek kok enggak ada manis-manisnya." Bukannya menenangkan, sang cowok malah makin membuat keruh keadaan. Meledek temannya itu merupakan salah satu hobinya. Araya dengan cepat mendaratkan cubitan di pinggang Gevan. Tapi Gevan berhasil menghindar dari ancaman tangan berbisa Araya yang sangat tak kenal ampun itu. Bahkan cowok tampan yang memiliki lesung pipi itu tertawa mengejek. Puas sekali mengerjai Araya. Lihatlah sekarang wajah Araya tampak memerah seperti tomat. Araya terdiam ketika mendengar ucapan Gevan. Bisa dikatakan jika penampilan Araya sama sekali tak terlihat anggun, jangankan terlihat anggun, cara berjalan Araya saja sudah layaknya preman. Bergaul dengan para cowok membuat sisi feminin Araya mulai terkikis perlahan. "Sumpah gue cemas sama masa depan lo," ucap Gevan dengan nada di buat sok serius. Araya memiringkan kepalanya dan menatap Gevan dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. "Masa depan gue akan cemerlang, lo kagak usah cemas." Araya berusaha menyemangati dirinya sendiri sedangkan dia tak tahu masa depan seperti apa yang akan ia jalani nantinya. Gevan menatap Araya sejenak lalu ia tertawa kencang. Sumpah ya, sepertinya Araya kesambet jin alay sehingga bisa mengatakan kalimat ajaib itu. Gevan tertawa terbahak-bahak, membahas hal berat tak cocok bagi mereka. "Gue gak yakin," seru Gevan sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya. Araya mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Gevan yang masih saja tertawa tanpa henti. Teman laknat. "Gue cantik dan gue yakin masa depan gue cemerlang," sahut Araya dengan penuh keyakinan. Gevan memegangi perutnya yang terasa kram sebab kebanyakan tertawa. "Cantik itu kayak Manda," ujar Gevan. "Penampilan Lo sama Manda aja beda jauh, gue yakin cowok normal manapun pasti akan memilih Manda sebagai pacar ketimbang lo yang kayak cowok—eits jangan lempar gue lagi," seru Gevan ketika melihat Araya yang tengah mengambil ancang-ancang untuk melemparkan bantal sofa untuk kedua kalinya. Araya tersenyum kecil. Mengapa orang-orang hanya melihat penampilan untuk standar kecantikan. Manda memang sangat cantik, apa yang diinginkan setiap cewek ada pada Manda. Kulit putih, hidung mancung, bibir mungil, tubuh bak model dan juga rambut lurus seperti iklan shampo. Araya tak habis pikir standar para cowok terlalu tinggi. "Kalau gue jadi cantik, siap-siap aja lo jadi b***k gue selama seminggu," ancam Araya. Merasa tertantang, Gevan dengan semangat menganggukkan kepalanya. "Seminggu waktu yang gue kasih ke lo, kalau masih kayak preman penampilan lo, siap-siap jadi b***k gue selama seminggu." Araya mengulurkan tangan kanannya dan Gevan menyambutnya. "Deal," ucap mereka berdua bersamaan. *** Araya baru saja selesai mandi setelah melewati serangkaian acara akad dan resepsi yang membuat dia kelelahan. Padahal kerjanya hanya duduk lalu berdiri jika ada tamu yang akan bersalaman. Araya mengeringkan rambutnya yang sepunggung itu dengan menggunakan hair dryer. Beberapa kali kedua netra matanya melihat ke arah daun pintu. Rion jelas tak akan datang ke kamar pengantin itu. Aku mengharapkan apa sih, batin Araya sambil meneruskan mengeringkan rambutnya. Dari awal, pernikahan ini hanya sebuah sandiwara sepihak yang telah disiapkan untuk mereka, Rion dan Araya mau tak mau harus terjebak di dalamnya. Menurut penatua keluarga mereka, hanya Araya lah yang pantas menjadi menantu di keluarga Brata. Araya terlahir dari keluarga yang terbilang harmonis jika di lihat dari luar tapi jika di telisik lagi, keluarga idaman menurut orang-orang di luaran sana hanyalah sebuah permainan rumah-rumahan di mana ada yang berperan sebagai ayah, ibu dan juga anak. Iya, Araya terlahir menjadi anak tunggal. Sejak Araya lahir dia diasuh oleh orang lain hingga dia beranjak dewasa. Jika beranggapan Araya diasuh oleh pengasuh seperti kebanyakan orang kaya lainnya, pikiran itu salah. Orang tuanya memang secara penuh memberikan hak untuk mengasuh Araya kepada orang yang dipercaya pada sebuah keluarga. Orang tuanya hanya sesekali melihat Araya, itupun setelah Araya kecil merengek. Ketika Araya beranjak remaja, barulah Araya menyadari jika selama ini dia terjebak dalam permainan rumah-rumahan itu. Ketika dia beranjak kelas dua SMP, Araya membuat keputusan untuk tinggal sendiri di rumah megah itu. Tanpa orang tuanya yang memang sangat sibuk. Sedikit tertawa kecil, kini Araya malah terjebak di dalam permainan rumah-rumahan lagi. Sampai kapan ia akan seperti ini, berada di lingkaran yang sama. Pintu kamar hotel terbuka, Rion masuk ke dalam dengan wajah yang berkerut. Araya menaikkan sebelah alisnya menatap Rion yang tampak kacau. Dia pikir pria itu tak akan datang terlebih lagi ini adalah malam pertama mereka menjadi suami istri. Lebih baik abaikan saja keberadaannya, Ray, lagi-lagi Araya berbisik pada dirinya sendiri. Rion menatap Araya, wajahnya tampak kesal. "Jangan harap aku mau menyentuhmu," ucap Rion tanpa basa-basi pada Araya seolah Araya adalah bibit penyakit menular. "Alhamdulillah," sahut Araya singkat. Rion tak ambil pusing, wanita bernama Araya itu memang pandai memancing emosinya. Apa bagusnya dengan wanita yang bersikap tenang seolah tak terjadi apapun, Rion sangat membencinya. "Tenang, silakan kamu tidur dengan kekasih mu itu." Seolah dapat membaca apa yang ada di dalam pikiran Rion, Araya segera beranjak dari meja rias dan memilih untuk duduk di pinggir ranjang. Araya tak mau merusak kelopak bunga mawar yang berada di tengah yang sudah di buat bentuk hati. Dia tersenyum tipis dan yah kelopak mawar itu akan berakhir di tempat sampah nantinya. "Aku tak akan memberitahukan hal ini pada siapapun sesuai dengan janji kita." Araya menatap kedua mata Rion, dia sama sekali tak merasa takut. "Jangan sok mengatur ku," sergah Rion kesal. "Kau hanya orang luar, ingat itu." Araya hanya tersenyum. Pria yang sudah menjadi suaminya ini memang keras kepala. Atau memang beginilah watak seorang Rion Erlangga Brata sebenarnya. "Baiklah tuan Rion yang terhormat," sahut Araya santai. "Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat Rion, orang luar itu kini sudah menjadi bagian dari keluarga Brata." Bahkan Araya melemparkan senyum mengejeknya pada Rion. Rion tak mau melanjutkan sesi percakapan yang membuat darahnya mendidih. Dia lebih memilih untuk keluar dari kamar pengantin itu dan meninggalkan Araya yang tengah menatap punggung Rion dengan tatapan sedih. Menyedihkan, beginilah hidup yang akan ia jalani kedepannya. *** Sepi. Itulah yang Araya rasakan kini. Kamar pengantin ini sangat luas untuk dirinya sendiri. Dia sedikit naif karena berpikir Rion akan kembali, tapi nyatanya hingga pukul dua dini hari, pria itu sama sekali tak kembali juga. Ah, mungkin saja suaminya itu tengah bermesraan dengan wanita yang diyakini Araya sebagai pacarnya. Araya merebahkan tubuhnya sehingga kelopak mawar yang berada di atas kasur berhamburan dan sebagian jatuh ke lantai. Araya tak jadi membuang kelopak mawar itu, aromanya membuat Araya sedikit tenang. Dia memejamkan kedua matanya sebentar lalu membukanya kembali. Araya sadar jika pernikahannya tak lebih dari sekadar sandiwara belaka. Sandiwara yang akan menunjang karir dan bisnis seorang Rion. Pernikahan ini jelas sangat menguntungkan bagi Rion dan dia adalah pihak yang sangat dirugikan. Araya tak merasakan dampak apapun kecuali melihat senyum kedua orang tuanya yang mengembang sempurna. Entahlah, Araya tak yakin menganggap ayah yang menikahkannya tadi adalah ayah kandungnya, mengingat betapa minimnya kasih sayang yang diberi ke padanya dulu. Araya sadar jika ia tak memiliki siapapun yang bisa dijadikan sandaran hidup atau sekadar tempat untuk kembali pulang. "Jangan menangis, Ray," bisik hati kecil Araya. Tapi pada kenyataan, sebuah cairan bening itu jatuh membasahi pipi Araya yang putih. Dia mencoba menahan laju air mata yang malah turun semakin deras. Entah apa yang akan terjadi dengan pernikahannya kelak. Entah menuju ke arah yang baik atau malah sebaliknya. Bisakah ia bersikap egois? Dia ingin memiliki keluarga utuh walaupun hanya sesaat saja. Jika ia dapat memutar waktu kembali, Araya ingin pergi jauh. Toh ketika usianya tujuh belas tahun, usaha kecil yang ia kembangkan sudah mampu menghidupi dirinya. Sayang, usia remajanya saat itu membuatnya terlalu terlena pada seorang lelaki bernama Gevan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN