Bab 7

981 Kata
Ternyata sikap lunak Rion hanya bertahan sampai mamanya menghilang dari balik pintu keesokan harinya. Setelah mengantarkan mamanya hanya sebatas sampai pintu apartemen, Rion langsung bergegas menuju ke arah Araya yang tengah mencuci piring. Darah Rion benar-benar mendidih melihat Araya yang tampak biasa-biasa saja padahal Rion sudah menunjukkan sikap jijik secara terang-terangan pada wanita itu. Bahkan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari berumah tangga, mereka berdua akhirnya tidur di kamar yang sama. Iya, hanya tidur di kamar yang sama. Jangan harap Rion tidur di ranjang yang sama dengan Araya, faktanya dengan kejam Rion menyuruh Araya untuk tidur di lantai yang dingin. Rion hanya membekali Araya malam itu dengan selembar selimut dan juga sebuah bantal. Dia sama sekali tak peduli apakah wanita itu tidur nyenyak, kedinginan atau semacamnya. Rion sengaja menaikkan suhu AC menjadi enam belas derajat, padahal di luar sedang turun hujan. Rion b******k? Memang dia mengakui jika dirinya b******k menggunakan trik kuno untuk mengusir Araya dalam hidupnya. Baginya ia sangat pantang menggugat cerai duluan biarkan saja Araya yang mengatakan kalimat itu. Dia tak ingin menambah daftar kejelekan di mata mamanya sendiri. Rion langsung menyentak lengan kanan Araya dan membuat sebuah piring meluncur ke bak westafel. Sebuah smirk tersemat di wajah Rion. "Kau memerankan peran yang apik." Araya hanya tersenyum. Rion sangat sebal dengan senyum itu, yang diharapakan Rion adalah Araya yang membentak dirinya, mengeluarkan kata-kata sumpah serapah pada dirinya. "Tentu. Tanpa bermain peran sekalipun, aku akan berprilaku dengan sangat baik," jawab Araya sambil menatap mata Rion dan ia tak takut sedikitpun. "Apakah kamu berharap aku mengucapkan tolong ceraikan aku?" Araya mengatakannya dengan sangat santai. Rion melepaskan cekalan tangannya pada Araya. Wanita ini benar-benar menyebalkan. "Tuan Rion yang terhormat, tak tahukah anda jika ibu anda sedang menginginkan seorang cucu?" Sindir Araya telak. Topik sensitif itu sering terdengar saat ibu mertuanya menyinggung tentang bulan madu. "Cucu dari pernikahan yang sah bukan hasil uji coba dari kekasih mu." Rion lupa jika selain punya senyum yang menyebalkan, kata-kata yang diucapkan Araya juga tak kalah menyebalkan. Araya memang berkata dengan sangat lembut tapi cukup mematikan. Rion lagi-lagi mencekik leher Araya, berharap wanita itu cepat menyerah. "Kau mulai main-main rupanya." Rion benar-benar mencekik leher Araya dengan sekuat tenaga sekitar tiga detik dan mampu membuat pasokan oksigen Araya berkurang drastis. Lalu ia melepaskan tangannya. Rion pergi, Araya hanya bisa menatap punggung Rion dengan tatapan tak bisa terbaca oleh siapapun. *** Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Araya pun siap-siap untuk pergi mengecek toko bunga miliknya. Selain memasak, hal yang bisa membuat Araya menghilangkan stres nya adalah melihat bunga-bunga yang tersusun di toko bunga miliknya. Hari ini, Araya mengenakan tunik berwarna peach dan celana berwarna hitam, untuk kerudungnya ia memakai warna senada dengan bajunya. Bagaimanapun, Araya harus memperhatikan penampilan dirinya. Rion sudah keluar dari apartemen sekitar satu jam yang lalu. Pria itu selalu tampak tampan hanya dengan pakaian kasual. Akhir pekan seperti ini jelas menjadi agenda sibuk bagi Rion. Beberapa hari tinggal dengan Rion membuat Araya sedikit paham dengan jadwal dan ritme kerja Rion. Akhir pekan seperti ini akan Rion gunakan dengan hangout bersama Evelyn. "Apa yang sedang kamu pikirkan, Ray," desis Araya sambil memukul keningnya pelan. Araya lagi-lagi tertawa. Dia mungkin bisa menampik jika dirinya tak menyukai Rion, tapi sudut hatinya terkadang suka berdebat jika melihat Rion yang tengah fokus bekerja. Satu hal yang sangat Araya inginkan adalah memiliki keturunan. Tapi ia tak akan memilih jalan yang salah, ia hanya menginginkan anak dari Rion. Anak yang akan menjadi penghubungnya di masa depan. Entah itu masa depan yang baik atau sebaliknya. Sekarang Araya tengah fokus menyetir menuju toko bunga miliknya. Lalu lintas yang tergolong ramai lancar di hari pekan seperti ini membuat Araya berucap syukur. Ia tak terjebak di kemacetan yang terkadang membuatnya miris. Aray Florist Araya tersenyum melihat nama toko bunga miliknya. Menjelang tengah hari, Araya dapat melihat jika Anna dan juga Rena tengah sibuk membuat beberapa buket bunga segar dari balik kaca mobilnya. Araya sengaja mendekor tokonya menggunakan kaca putih agar pengunjung atau pejalan kaki yang melintas di depan toko miliknya dapat melihat keindahan bunga-bunga yang berada di dalam sana. Tadi pagi, toko mendapat pesan jika salah satu pengusaha tengah memesan beberapa rangkaian buket bunga segar, mulai dari buket bunga mawar, anyelir, calla lily dan beberapa bunga lainnya. Tapi ada satu yang menjadi permintaan khusus si pelanggan, buket bunga mawar merah harus si pemilik yang merangkaikan. "Maaf aku datang terlambat," ucap Araya sesaat setelah memasuki tokonya. Rena dan Anna yang sibuk memilih bunga langsung tersenyum cerah. "Mbak Ray kok datang lagi, Anna udah sampaikan kalau kita bisa handle mbak," ucap Rena pada Araya yang ikut memilih beberapa tangkai bunga mawar merah yang masih segar. "Ini permintaannya khusus, ingat?" Araya sedikit tertawa. Dia tahu siapa pelanggan yang dimaksud. Untuk hal istimewa seperti ini, orang itu tak akan mempercayainya pada orang lain. "Kalian tahu sendiri bagaimana cerewetnya dia." Anna dan Rena sama-sama mengangguk paham. Mereka berdua sama-sama tahu jika pelanggan mereka yang satu itu sangat royal, selalu memesan bunga mereka dalam jumlah yang tak sedikit. Bahkan beberapa kali Rena dan Anna dapat uang tip karena mampu meladeni sifat cerewet dan perfeksionis nya itu. "Kalau kalian udah selesai merangkai, jangan lupa kasih tau aku ya." Rena dan Anna kompak mengangguk, karena sebentar lagi pelanggan mereka datang dan masih ada lima buket bunga yang belum mereka selesaikan. Araya harus berdamai. Ketika dia datang, Araya harus memasang wajah ceria agar mereka tak curiga. Araya akan berusaha yang ia bisa. Jika berakting menjadi menantu baik bisa ia lakukan, mengelabui Gevan jika ia baik-baik saja pasti juga akan mudah. Iya, pelanggan yang memesan bunga-bunga sebanyak itu adalah Gevan. Gevan masih bersama dengannya walau dengan kondisi yang berbeda. Nyatanya, saat ini Araya benar-benar ingin menghilang dari dunia secepatnya, dia tak akan mungkin bisa melihat Gevan dalam kondisi seperti ini. "Kamu kuat Ray, ingat dulu kamu pernah pergi jauh dari Gevan dan kamu baik-baik saja," bisik hati Araya menguatkan hati Araya yang entah kenapa mendadak melankolis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN