Sudah dua hari berlalu, sampai sekarang Araya masih belum mendapatkan kabar dari Rion. Araya sempat mengecek ponselnya beberapa kali dan segala notifikasi yang masuk di ponselnya selalu berhubungan dengan pekerjaan. Hamil muda harus dilalui sendiri terasa begitu berat bagi Araya, terlebih lagi perasaannya terkadang bisa menjadi labil dan sentimental. Semenjak rapat usai, Shania memutuskan membawa Araya kembali ke rumah. Araya hanya mengangguk, karena ia tak mungkin tinggal di apartemennya Rion. Araya memandang hujan yang mengguyur sore itu dari jendela kamarnya. Mengurus dua perusahaan membuat energinya terkuras, belum lagi Aray Florist yang menambah stok bunga baru. Syukur saja Rena dan Anna sudah cekatan mengurus bunga-bunga itu, sehingga Araya tak begitu cemas jika meninggalkan mereka

