"Zia, lihat saya!" Tentu saja aku menggeleng. Aku tidak berani mengangkat wajah karena tompel waterproof yang pasti terlihat oleh Mas Gusti nantinya. "Ayo!" Mas Gusti menarikku jauh dari makam Mbak Hanin. Kaki ini terserat-seret, hingga tersandung. "Aduh!" Aku memekik karena batu besar beradu dengan mata kakiku. Mas Gusti berhenti menarik tanganku, lalu menatapku dengan sorot tajam. Aku meringis sambil menutupi tompel dengan buku yasin. "Pelan-pelan, Mas, kaki saya sakit," kataku. Mas Gusti semakin terbelalak. "Suara kamu mirip pembantu Desta." Sekarang gantian aku yang melotot. Baru satu minggu bersuara sebagai Rani, aku sampai lupa suara Zia seperti apa. Benar-benar bodoh! Belum lagi baju yang aku pakai adalah baju yang pastinya dikenali oleh Mas Gusti. Pasti hal ini yang memb

