9. Cari Calon

1726 Kata
Rencana pernikahan salah satu adik kembar Bisma benar-benar dimajukan, yang awalnya akan digelar tahun depan, semua berubah haluan dan digelar selang satu bulan sejak kedua orang tua saling bertemu. Bukan gelaran pernikahan mewah ala-ala konglomerat seperti biasa, namun pernikahan Keyra dan Richard digelar dalam suasana private yang lebih sederhana, menurut versinya tentu saja. Maura dan Vika sebagai sahabat dekat, berangkat dua hari menjelang pernikahan. Sedangkan kedua orang tua Maura akan menyusul ketika acara berlangsung. Karena menjadi pendamping mempelai perempuan dadakan, mau tak mau Maura banyak berinteraksi dengan keluarga sahabatnya. Tak terkecuali ... Bisma. "Sah!!" pekik Maura lantas memeluk erat Keyra usai melihat prosesi ijab kabul melalui TV plasma yang ada di ruang ganti mempelai perempuan. "Jangan nangis, jangan nangis..." Vika mengipas-ngipaskan jemari ke wajah Keyra yang mendadak berkaca-kaca. "Congrats, My half," Kyla yang terharu ikut memeluk saudari kembarnya. "But ... jangan lama-lama mellownya, Mamas udah on the way ke sini." "Mamas?" Maura mengerutkan kening saat membantu Keyra merapikan kebayanya. "Bukannya Ayah Awan yang bakal gandeng Keke?" "Bukan, Mamas yang bakal gandeng Keyra ke depan, dia request sendiri sampe debat sama Ayah. Akhirnya ayah juga yang ngalah." Kyma menjawab tanpa menoleh lantaran ia sibuk merapikan buket bunga yang akan dibawa adik kembarnya. "Aah, oh... oke, oke siap." Maura mengangguk paham. Ia dan Vika mengambil posisi di belakang sang pengantin. Sedangkan Kyla sudah mengandeng lengan kiri Keyra. Hanya dalam hitungan detik, pintu ruangan kembali terbuka. Bisma dan si bungsu Barsena lantas muncul, Bisma yang pertama masuk ruangan dengan ekspresi yang sulit terbaca. Seakan meyimpan perasaan bahagia dan haru yang bercampur jadi satu yang tak bisa ia ungkapkan dalam kata-kata. Sedangkan Barsena yang masih remaja tanggung nampak jauh lebih cuek, lantaran belum terlalu paham dengan sakralnya prosesi pernikahan yang baru saja dilalui kakaknya. "Cantiknya adik kecilku," lirih Bisma saat menghampiri sang adik lantas memeluknya erat. Nampak sekali pria itu sedang menahan emosi lantaran ia harus rela melepas salah satu adik kembarnya menuju kehidupan rumah tangga. "Mamas, jangan kenceng-kenceng peluknya, nanti dandanan aku berantakan." "Nggak mungkin berantakan," jawab Bisma sedikit menggoyangkan tubuh Keyra ke kanan dan kiri. Melihat pemandangan tersebut, hati Maura ikut hangat lantaran ia membayangkan akan seperti apa reaksi ayah ketiga saudara laki-lakinya nanti jika ia melepas maksa lajang. "Ayo buruan, Mas!!" Kyla mengingatkan lagi. “Udah ditungguin yang lain itu di depan.” Bisma mengangguk sekali lalu menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang, menatap Maura lebih tepatnya. Tak disangka, ternyata gadis manis itu tertangkap basah juga sedang menatapnya lekat. "Kenapa lihatnya gitu banget, Ya? mau dipeluk juga?" goda Bisma lantas terkekeh kecil. Maura mengerjap sesaat. Perasaan hangat yang tadi mengharu biru di dadanya, mendadak buyar seketika. Ia memiringkan bibir sesaat untuk mencibir Bisma yang sekarang berdiri tepat di depannya. Benar-benar dibuat heran, kenapa di saat haru seperti barusan, Bisma masih sempat meledeknya. "Diiih, ini yang katanya nggak bakalan mewek kalau adiknya nikah duluan? ternyata mellow juga kaaaan?" cibir Maura berbisik lirih. “Malu sama badan gede.” Bisma mengulum senyum saat melirik Maura. Entah kenapa ia selalu tak sabaran untuk menggoda gadis itu setiap kali bertemu. Termasuk di momen sakral yang hari ini dilalui sang adik. “Sabar ya, nanti giliran kamu.” “Males banget digombalin playboy!” Maura benar-benar dibuat kagum dengan kemampuan akting yang dimiliki dokter muda tersebut. Baru beberapa saat lalu Bisma nampak sembab karena dilangkahi nikah oleh sang adik, aku dalam hitungan detik berikutnya ia justru terlihat sangat santai melempar candaan pada Maura. Kembali fokus pada tugasnya hari ini sebagai bridesmaid, Maura lanjut mengikuti seluruh prosesi hingga usai. Meski katanya acara ini digelar ‘sangat sederhana’, toh pada kenyataannya tetap saha terlihat sangat mewah. Yang menjadi pembeda mungkin hanya dari segi jumlah undangan saja, karena di ruangan tempat berlangsungnya pernikahan tak seramai undangan pada umumnya. “Ra, itu nyokapnya si Richard sakit apaan?” bisik Vika sambil mengendikkan dagu ke arah perempuan paruh baya yang duduk di atas kursi roda tak jauh dari mempelai. Maura menggeleng pelan. “Nggak paham juga, seinget gue Keyra pernah spill kalau ibunya Richard ada gagal ginjal gitu. Mungkin komplikasi deh, itu dari tadi asistennya repot bawain obat dan suntikan. Terus, habis dari acara ini langsung balik lagi ke rumah sakit katanya.” “Oooo…” Vika yang berbincang sambil mengunyah makanan hanya manggut-manggut kecil. “Sedih juga ya, kalau nikah pas orang tua sakit gitu, Ra.” “Hmm … semoga orang tua kita sehat-sehat semua sampai kita nikah dan menua nanti ya, Vik—” “Nggak dingin apa, Ya, pake baju kurang bahan gitu?” Maura sontak mendongak, menoleh ke asal suara. Gadis itu melongo begitu saja saat mendapati Bisma dengan santainya menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Tak hanya sekedar duduk, tapi pria itu juga melepas jas yang ia kenakan, lalu meletakkannya di pangkuan Maura. Menutupi mulusnya paha Maura yang terbuka karena model baju bridesmaid yang ia kenakan memiliki belahan cukup tinggi di bagian kaki. “Issh, Mas Bisma apaan sih? Ini kesempatanku pake baju seksi dikit, kalau nggak ada moment gini pasti udah diomelin Mami Papi,” dengkus Maura hendak mengembalikan jas milik Bisma namun tangannya ditahan oleh pria itu. “Ya iyalah diomelin, orang paha diumbar kemana-mana gitu, dingin, Yaya!!” “Nggak dingin, Mas, ini namanya fashion ya, fashion!! Lagian ini juga dibuatin sama butik langgangannya si kembar, kita cuma tinggal pake. Iya kan, Vik?” Maura manyun saat meminta pembelaan dari Vika. “Iya, ih… Mas Bisma apaan deh? Maura makin cantik tahu pake baju itu, cocok banget!” ujar gadis berisi itu sambil menggerak-gerakkan jemarinya di depan wajah sang sahabat. “Aura-aura seksinya beneran keluar.” Ya memang seksi, tapi bikin hati Bisma mendadak nggak aman. Tiba-tiba saja ia tak rela jika penampilan memukau sahabat dari adiknya itu menjadi pusat perhatian, terutama dari pria lain. “Nggak ah, nggak cocok sama warnanya!” omel Bisma mendadak cerewet. Padahal Ervan dan Gisa saja tadi langsung memuji sang putri saat Maura keluar dari ruang make up. “Iiiih, mendadak bawel banget deh Mas Bis—” “Udah pake aja, daripada nanti kamu masuk angin, Ya!” sela Bisma lagi saat menyadari Maura akan mengangkat jas miliknya. Maura menarik napas panjang, urung mengangkat jas milik Bisma dari atas pangkuannya. “Ya tapi kan ini…” “Acaranya kan udah selesai, ngapain juga aku pake jas terus.” Bisma menenggak minuman yang ada di tengah meja. Acara inti memang baru saja selesai, hanya tinggal keluarga dan sahabat dekat undangan yang masih tinggal untuk beramah tamah. Maura kembali manyun karena pria ini mendadak mengatur-atur. “Kalau udah selesai sana gih, Mas Bisma kumpul aja sama yang lain,” ujarnya mengibaskan tangan seolah mengusir. Bukannya pergi, Bisma malah terkekeh kecil sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Maura. “Lebih enak di sini, ngumpul sama cewek-cewek cantik daripada basa-basi sama koleganya Ayah Bunda,” seru pria tersebut melirik kedua orangtuanya di dekat pintu keluar. “Pasti ditanyain kapan nikah, kapan nikah ya?” ledek Maura secara spontan. Bisma kembali tergelak karena tebakan Maura tepat serratus persen. Namun pria itu enggan menanggapi terlalu jauh. “Daripada ikutan nyinyir, rapiin nih belepotan banget makannya.” Tanpa aba-aba, Bisma mengusap ujung bibir Maura yang memang sedikit belepotan mayonnaise lantaran gadis itu sedang menyantap salad Quinoa. Maura terdiam padahal maksud hati ingin mengumpat saja, karena pria di sebelahnya ini dengan seenaknya menyentuh wajahnya. Seharusnya memang sentuhan biasa, tapi efeknya membuat jantung Maura nyaris melompat dari tempatnya. Dan Maura membenci hal tersebut, karena ia sedang mode pasang tameng untuk Bisma. “Bisa aku rapihin sendiri,” ujar Maura selang beberapa detik. Gadis itu langsung mengambil tissue, lantas bangkit dan menjauh setelah mengembalikan jas milik Bisma lalu mendadak berpamitan akan menemui orang tuanya di kamar hotel yang sudah disediakan keluarga mempelai. “Eh, Maura kenapa sih? Katanya masih laper, main cabut aja,” gerutu Vika tak paham dengan perubahan sahabatnya. “PMS kali ya…” “Aku cabut dulu ya, Vika, mau nyusulin Yaya.” Tak begitu lama, ganti Bisma yang berpamitan pada Vika yang kini seorang diri. “Eh.. ehh.. yaaah, sendirian dong..” Bisma menoleh dan mengendikkan dagu ke belakang punggung Vika. “Tuh bestie kalian yang lain mau nyamperin.” Maksud pria itu adalah ada Kyla yang sedang mendekat dan sebentar lagi akan bergabung dengan Vika jadi gadis tembam itu tak perlu khawatir sendirian. Melanjutkan langkahnya mengikuti, Bisma berlarian kecil menuju lift di lorong utama. Jemari besarnya berhasil menahan pintu besi lift sehingga batal menutup rapat. Di dalam lift sudah ada Maura dan seorang ibu-ibu muda yang ia ketahui masih kerabat Richard, adik iparnya. Bisma mengangguk hormat sekilas, lalu bergerak mundur hingga bersebalahan lagi dengan Maura. “Mau ke mana? Vika ngambek tuh tiba-tiba kamu tinggal gitu aja.” Maura meringis tipis, lantas menunjukkan kartu akses di tangannya. “Ke kamarnya Mami Papi, ambil tas sama baju, terus nanti balik ke kamar lagi, mau ganti baju.” Didaulat menjadi bridesmaid, Sejak dua hari lalu Maura menempati salah satu kamar mewah hotel di lantai tiga, satu kamar dengan Vika. Sedangkan kamar orang tuanya yang baru tiba semalam, ada di lantai lima. “Vika udah tahu kok,” imbuh Maura singkat sambil melirik Bisma yang menyandarkan punggung di dinding lift. Pria itu nampak lelah lahir batin karena sejak beberapa hari terakhir memang ikut sibuk mempersiapkan hari besar sang adik. “Ikut.” Maura menoleh seketika. “Hah?” “Habis ganti baju ikut ke rooftop yuk?” sambung Bisma tak peduli dengan wajah Maura yang masih melongo menatapnya. “Ngapain?” “Mau ngobrol aja.” Maura makin melongo. Sepertinya, dokter ganteng di sebelahnya ini benar-benar galau tingkat dewa sejak dilangkahi menikah oleh adiknya sendiri. Belum lagi kisah cintanya yang tak berjalan mulus karena diwarnai drama gagal menikah segala. Kasihan sekali… “Mas … kamu beneran seputus as aitu ya, karena dilangkahi Keyra?” tanya Maura asal bunyi saja begitu memastikan ibu-ibu muda di depannya tadi keluar lift di lantai empat. Bisma terkikik beberapa detik lalu menerawang jauh dengan wajah datar. “Kalau iya gimana ya, Ya? apa aku buru-buru nyusul nikah aja gimana?” Maura mengerutkan kening. Benar-benar aneh, mau nikah ya nikah aja, kenapa Bisma malah minta persetujuannya segala? “Ya udah buruan nikah? Cari calonnya dulu tapi.” “Kamu … mau nggak jadi calonnya? Nikah yuk, Ya.” Dan di detik itu juga, Maura tak hanya melongo, tapi menganga lebar karena tak percaya dengan ajakan sialan dari seorang Bisma. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN