New Feelings

1319 Kata
(NICOLAS) Aku ingat saat pertama kali aku membuka mataku di tubuh ini. Sekujur tubuhku terasa sakit. Bahkan ketika aku mencoba untuk berbicara, tenggorokanku terasa begitu kering hingga membuatku sulit untuk mengeluarkan suara. Terlebih, aku begitu terkejut saat aku melihat kulit manusia yang melapisi tanganku sendiri. Aku bahkan tidak yakin apakah saat itu aku sedang bermimpi, karena mimpiku yang sebelumnya aku tidak pernah merasa sakit di seluruh tubuhku. Aku juga merasakan hembusan yang keluar dari lubang hidungku, dan rasa dingin dari lenganku yang tidak tertutupi selimut. Semua rasa baru itu membuatku merasa aneh dan memunculkan pikiran apakah aku manusia? Sebelumnya aku memang memiliki pemikiran untuk bisa merasakan semua yang dirasakan Chloe sebagai manusia. Dan aku tidak berpikir bahwa aku sungguh seorang manusia. Tentu saja aku begitu senang bahwa aku adalah manusia. Ini artinya tidak ada lagi halangan bagiku untuk bisa bersama Chloe. Kuakui bahwa aku menyimpan perasaan pada Chloe, bahkan sebelum aku kembali ke tubuh manusia ini. Meski kesadaranku berpindah ke tempat lain, apa yang kurasakan membuktikan bahwa manusia tetaplah manusia. Aku merasakan banyak hal karena itu. Aku masih belum bisa mengingat mengapa kesadaranku dipindahkan ke Android ketika menjadi manusia saja sudah sepuas ini. Siapa, dan mengapa orang ini melakukannya? “Nik, aku…,” panggil suara Chloe di belakangku. Aku menoleh dan melihatnya yang sudah berpakaian rapi untuk pergi bekerja. “Ah, maaf. Aku terbiasa,” ucapnya menutup mulut. “Tidak apa-apa. Itu memang nama panggilanku. Nic,” kataku. Aku kembali menatap ke Android yang sedari tadi kuperhatikan. Android yang pernah menjadi diriku. “Itu sebabnya aku mengingat itu saat pertama kali tersadar,” ucapku begitu pelan. “Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” tanya Chloe menghampiriku dan berdiri di sampingku. “Sejujurnya aku bahkan tidak tahu. Melihatnya sampai saat ini membuatku tidak nyaman. Apalagi mengetahui bahwa dulu aku sempat berpikir aku adalah…,” kataku dan berhenti. Aku ragu untuk melanjutkan kata Android. “Sekarang semua keanehan-keanehan itu terjawab sudah kalau ternyata kau adalah manusia,” kata Chloe. Aku menoleh menatapnya. “Terkadang aku berpikir apa yang akan kau lakukan padaku karena tahu aku mencuri Android.” “Memangnya apa yang akan kulakukan?” tanyaku bingung. Ia menoleh padaku dan mengedikkan bahu. “Yah… kau kan pencipta Android. Kau tahu sendiri aku mengambil Android yang masih berfungsi dengan baik, meski itu di tempat pembuangan,” jelasnya. “Dan di dalamnya adalah aku. Jika kau tak membawanya, aku tak akan pernah terbangun. Yang terburuk, tubuhku mati di lab itu,” kataku. Aku kembali menatap ke depan. “Lagipula, aku bukan polisi. Aku hanya menciptakan Android,” tambahku. “Tapi aneh jika aku tidak bisa mengaktifkannya lagi setelah kesadaranmu tidak lagi di sana,” katanya. “Aku tidak tahu,” jawabku. Aku memijit keningku. Aku juga tak tahu mengapa aku bisa kehilangan semua ingatanku. Tidak mungkin memindahkan kesadaran akan langsung membuat semua ingatan, bahkan soal jati diri yang seorang manusia hilang begitu saja tanpa sebab. Aku masih bisa mendapatkan potongan ingatanku walau membutuhkan waktu lama. Apa terjadi kecelakaan selama aku di tubuh Android? “Aku akan pergi kerja,” kata Chloe berbalik dan melangkah menjauh. “Berhati-hatilah. Maksudku di CyberTech,” kataku. “Aku selalu berhati-hati dan khawatir semenjak aku membawamu pergi dari lab itu,” katanya seraya memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas. “Aku sudah menyiapkan sarapan di bawah.” Aku mengerutkan dahi. “Tunggu. Bukankah kau khawatir kalau ibumu tahu keberadaanku?” “Nicolas, kau manusia. Ibuku membenci Android. Bilang saja kau temanku yang menginap,” katanya. “Rasanya aneh mendengar teman laki-laki menginap di rumah teman perempuannya,” ucapku cukup pelan. “Dia tidak akan memikirkan apa pun. Kau tahu sendiri keadaannya,” katanya dan melangkah menuju pintu. “Aku pergi,” ucapnya membuka pintu dan keluar dari kamar. Aku sempat ingin bertanya tidakkah ibunya akan mengenaliku. Tapi Chloe sudah pergi. Yah… kurasa Chloe sudah tahu dan sepertinya ibunya tidak akan menyadari siapa aku. Meski begitu, memikirkan bahwa aku akan menghadapnya langsung agak sedikit aneh karena selama ini aku berusaha menghindarinya. Aku menatap ke luar jendela. Aku tahu bahwa aku manusia sekarang, dan aku bisa melakukan banyak hal. Tapi orang-orang di sini membenci Android. Mereka juga pasti sudah tahu seperti apa wajah yang menciptakan sesuatu yang mereka benci itu. Aku bahkan masih belum sanggup menghadapi orang-orang yang kukenal di luar sana karena perasaan bersalah. Apakah benar aku menciptakan Android untuk membuat keadaan seperti ini? Betapa aku ingin mengetahui jawabannya melalui ingatanku sendiri. Aku berbalik dan melangkah menuju tempat tidur, lalu duduk di sana. Karena sekarang aku adalah Nicolas Eugene yang bekerja sebagai ilmuwan di CyberTech, maka aku bisa bertemu Direktur Utama perusahaan itu yang kulihat dalam mimpi. Tapi proyek yang dibicarakannya itu apakah sama dengan proyek yang pernah disebut Chloe? Lalu, apa hubunganku dengannya? Melihatnya rasanya aku dan dia begitu dekat. Tidak mungkin dia semacam ayah tiriku, kan? Hal gila jika seorang ayah mencoba melakukan eksperimen pada putranya sendiri. Sekarang karena aku merasa lapar, tidak ada pilihan lain bagiku untuk sarapan di bawah dan menghadap ibunya Chloe. Aku bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu. Apa yang kutakutkan? Aku sekarang manusia. Ini juga kesempatan untuk mengenal ibunya Chloe. Aku membuka pintu dan keluar dari kamar. Aku berjalan di lorong dan melihat pintu kamar ibu Chloe terbuka. Aku menengok ke dalam dan penghuninya tidak ada di sana. Kasurnya berantakan. Pakaiannya berserakan di lantai bahkan di ujung tempat tidur. Aku bisa mengerti Chloe tidak memiliki banyak waktu mengingat ia juga harus merawatku. Aku masih belum bisa memikirkan apa yang bisa kulakukan untuknya sebagai tanda terima kasih. Aku berjalan menuruni tangga dan terkejut saat melihat ibu Chloe berdiri di dapur. Aku tahu aku tak bisa menghindarinya sekarang, dan untuk apa? Aku manusia sekarang. Aku menginjakkan kakiku di lantai bawah dan berjalan pelan menuju ibunya Chloe. Makanan untukku tidak ada di meja makan, jadi Chloe pasti meletakkannya di meja dapur. Menyadari keberadaanku, ibu Chloe menoleh dan akhirnya kami saling bertatapan. “Umm… halo, Ny. Auguste,” sapaku canggung. “Aku… temannya Chloe yang sedang menginap.” Ia tidak mengatakan apa pun dan menolehkan kepalanya menatap sebuah piring di bawahnya yang kuyakin itu adalah sarapanku. “Kalau begitu ini milikmu?” tanyanya menunjuk sepiring sarapan itu. “Umm… ya,” jawabku. Ia mengambil piring itu dan melangkah menghampiriku, lalu memberikannya padaku. “Makanlah,” ucapnya. “Oh! Umm… terima kasih,” balasku seraya menerimanya. Ia melangkah pergi menuju sofa. Jadi benar. Sepertinya ia tidak curiga atau memikirkan apa pun saat melihatku. Aku berbalik dan berjalan menuju meja makan, lalu duduk di sana. suasananya tidak terlalu canggung atau nyaman. Aku hanya sedikit takut saat dia tiba-tiba menanyakan sesuatu yang membuatnya menyadari bahwa aku adalah pencipta dari sesuatu yang amat dibencinya, bahkan oleh orang-orang di sini. Menjadi Nik atau tidak rasanya sama saja. Aku harus selalu bersembunyi. “Berita hari ini. Keanehan Android kembali terjadi. Kali ini datang dari—,” kata sang pembawa berita di TV. Aku langsung menghentikan aktivitas makanku dan memperhatikan berita di TV itu. “Ya, ya, ya! Benda itu menjadi sangat aneh! Aku mengembalikannya dan menuntut pengembalian uang!” kata sang pemilik Android kesal saat diwawancarai. “Awalnya dia tidak seperti itu. dia mulai sering bicara balik padaku dan mengatakan kalau ia kesal aku sering memarahinya.” Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan lebih dekat. Aku berdiri di belakang sofa. “Ini bukan pertama kalinya Android yang bersikap aneh terjadi. Masih hangat di ingatan kita kejadian perampokan oleh Android di sebuah apotek bulan lalu. Aku rasa kita berhak untuk mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada semua Android ini?” kata sang pembawa berita. “Dan sampai sekarang Nicolas Eugene juga tak pernah terlihat. Kita mulai berpikir apakah dia sengaja bersembunyi untuk menghindar? Dan protes dari para tunawisma itu juga tak bisa dihindari lagi.” “Sudah kuduga,” ucap ibu Chloe tiba-tiba. “Mereka jadi aneh.” Aku diam sejenak menatapnya. “Anda tahu penyebabnya?” tanyaku. “Proyek X6. Semua karena proyek X6,” jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN