His Name is Nik

1031 Kata
(CHLOE) “A-apa?” tanyaku. Ia bangkit berdiri dan aku mundur secara reflek. “Aku tidak bisa mengingat apa pun,” katanya. “Apa—," ucapku dan tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku bergegas mengambil ponselku. Aku benar-benar lupa kalau aku harus menghubungi Hugo sebelum mengaktifkan Android ini. Aku meneleponnya, tapi yang menjawab justru suara wanita yang mengatakan bahwa ponselnya sedang tidak aktif. Aku berdecak kesal dan mematikan sambungannnya. Kulihat Android itu melihat seluruh kamarku—dari langit-langit atap, meja, hingga lantai kayunya. Aku mendekatinya. “Kau… tidak ingat apa pun? Sama sekali?” tanyaku. Ia menggeleng. “Di mana ini? Apa yang terjadi padaku?” tanyanya. Pertanyaan aneh yang tidak pernah ditanyakan oleh sebuah Android yang baru diaktifkan. “Itu…,” ucapku bingung. “Aku menemukanmu di dekat tempat pembuangan rongsokan dan membawamu pulang. Ini rumahku,” jelasku. “Tidakkah kau ingat apa pun? Apa kau mengalami kerusakan memori?” “Kerusakan memori?” tanyanya balik. “Memorimu ada di dalam sini,” kataku menunjuk kepalaku sendiri. Ia lalu menyentuh kepalanya. “Semua kejadian sebelumnya, apa kau tidak mengingatnya?” “Tidak,” jawabnya menggeleng. Aku tidak menduga ini. Kupikir setelah mengaktifkannya aku akan tahu apa yang terjadi padanya dan siapa dia. Kupikir setelah mengaktifkannya semua akan selesai. Tapi kenyataannya justru semakin memberi banyak pertanyaan. “A-aku Chloe,” kataku mengulurkan tangan padanya karena tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia menatap tanganku sejenak sebelum membalasnya dengan ragu. “Aku—” “Tidak apa, tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat. Aku bisa memberimu nama sendiri,” potongku. Aku melepas jabatan tangan kami. Ia menunduk menatap tubuhnya sendiri sambil menyentuhnya. Bagaimanapun aku melihatnya, ia seperti seseorang yang sedang kebingungan tentang jati dirinya. Meski belum pernah melihatnya sebelumnya, sepertinya tidak ada Android dengan memori rusak yang bersikap seperti dia. “Aku ini apa?” tanyanya. “Apa?” tanyaku balik. “Aku apa? Kenapa seluruh tubuhku berwarna putih dan berkilau?” tanyanya. Ia melihatku sejenak dan kemudian menyentuh kepalanya sendiri. “Kau memiliki rambut. Kenapa aku tidak? Dan apa ini yang bercahaya di tengah dadaku?” Terlalu banyak pertanyaan yan ditanyakan yang justru semakin membuat daftar pertanyaan dalam kepalaku menumpuk. Aku mendesah dan menunduk sambil menekan dahiku. Sebenarnya apa yang sudah kubawa pulang ini? “Bisakah kau menjawab?” tanyanya. “Kau Android,” jawabku akhirnya. “Itu sebutan untuk robot yang memiliki fisik seperti manusia dan bertindak seperti manusia.” Ia terlihat terkejut. “Aku robot?” tanyanya dan melihat seluruh tubuhnya. “Tombol kecil di tengah dadamu itu adalah tombol untuk mengaktifkan dan menonaktifkanmu secara paksa. Cahaya yang menyala itu adalah penunjuk kondisimu dengan berbagai warna. Warna biru yang menyala sekarang adalah petunjuk bahwa bateraimu masih penuh,” jelasku. “Ada lagi?” “Di mana rambutku?” “Secara teknis semua Android didesain tidak memiliki rambut. Jadi… begitulah,” kataku. “Aku sudah banyak menjawab pertanyaanmu. Kau sama sekali belum menjawab pertanyaanku.” “Aku tidak ingat apa pun,” katanya. “Aku tahu,” kataku menghela napas. “Hanya saja—” Aku berhenti begitu melihatnya yang menyentuh kepalanya. Pandangannya juga tak tentu arah, seperti ia melihat sesuatu yang tidak ada di sini. “Hei, apa yang terjadi padamu?” tanyaku. Ia tidak menjawabnya dan justru berjalan tak tentu arah. “H-hei!” panggilku dan mencegahnya dengan menarik tangannya. Ia kemudian berhenti. Seperti patung. Sampai kemudian ia menoleh ke belakang menatapku. Aku menautkan alis. “Ada apa denganmu?” tanyaku heran. “Ada yang mengganggu pandanganku,” katanya. “Aku tidak bisa melihat dengan jelas dan…” “Dan…?” tanyaku penasaran. “Ada yang kuingat di dalam sini,” katanya menunjuk kepalanya. “Entah kenapa saat pandanganku terganggu, aku mengingat sesuatu.” “Apa yang kau ingat?” tanyaku. “Ada yang memanggilku dengan sebutan Nik…,” ucapnya kebingungan. “Entahlah. Nik.” Pandangannya terganggu? Apa semacam glitch? Apa Android milik Hugo pernah mengalami ini? Tapi aku tidak bisa bertanya padanya sekarang. “Ada yang kau ingat lagi?” tanyaku. Ia menggeleng. Ini aneh. Aku belum pernah mendengar ingatan yang kembali karena glitch meski sudah berulang kali aku membaca situs web CyberTech soal Android. “Baiklah. Nik. Kalau begitu akan kupanggil kau Nik saja,” kataku memutuskan, meski aku di tengah kebingungan bagaimana bisa ia tiba-tiba mendapatkan ingatan. Karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku memutuskan untuk memberitahunya apa saja yang perlu dilakukannya selama tinggal di sini. Karena sepertinya, dan kuharap begitu, pelacaknya tidak aktif. “Oke, Nik,” kataku menghembuskan napas. “Aku perlu memberitahumu sesuatu selama kau tinggal di sini. Dengarkan aku baik-baik, ya?” Ia tidak mengatakan apa-apa tetapi langsung menatapku. Itu sudah menunjukkan bahwa ia sedang serius mendengarkan. “Di rumah ini aku tinggal bersama ibuku. Ibuku tidak menyukai Android, dan kau Android,” kataku menunjuknya. “Itu artinya jangan pernah untuk bertemu dengan ibuku, atau jangan sampai ia melihatmu. Jika itu terjadi, kau akan dirusak olehnya dan aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongmu. Sampai di sini kau bisa memahaminya?” “Ya,” jawabnya mengangguk. “Boleh aku bertanya alasan ia membenci Android?” “Aku tidak tahu secara pasti, dan aku tidak bisa memberitahumu soal itu,” balasku. “Kalau begitu kenapa kau membawaku jika ibumu membenciku?” “Kau banyak bertanya, ya?” Ia memberiku tatapan seolah ia tak bersalah. Aku menghela napas. “Entahlah. Aku menginginkannya saja meski aku tahu risiko yang harus kuhadapi. Asal kau tahu, mendapatkan Android sangat mustahil bagi orang-orang di sini termasuk aku. Jadi menemukanmu di dekat tempat pembuangan adalah sebuah keberuntungan besar,” kataku. “Ada lagi yang perlu kuketahui selama tinggal di sini?” tanyanya. “Untuk sementara jangan pernah keluar dari kamar ini atau membuat keributan. Kamar ibuku ada di ujung tangga, jadi dia akan mendengarnya. Kau… bisa mematuhinya, kan?” tanyaku ragu. Meski seharusnya Android diprogram untuk mengikuti perintah pemiliknya, aku ragu bahwa dia seperti Android kebanyakan. “Ya,” jawabnya mengangguk. “Bagus,” balasku. Aku lalu mengulurkan tangan lagi. “Mari berkenalan sekali lagi karena sekarang kau sudah memiliki nama.” Ia membalas jabatan tanganku. “Hai, Nik. Aku Chloe,” kataku. “Hai, Chloe. Aku Nik,” balasnya. “Namaku Nik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN