(CHLOE)
Satu-satunya Android yang hampir memiliki kemiripan dengan Nik adalah Claire. Tapi aku tak tahu di mana ia tinggal dan siapa pemiliknya. Aku juga tak bisa menunggunya seharian di halte bus. Kesempatan kami bertemu lagi mungkin tidak sampai sepuluh persen. Aku sudah bertemu banyak sekali Android dan berinteraksi dengan mereka. Tapi tak ada yang seperti Nik. Aku pun sudah melihat situs resmi CyberTech untuk melihat apakah ada pembaruan pada Android yang belum kuketahui. Ternyata tidak ada.
Setelah aku selesai dengan kuliahku, aku bergegas pulang karena aku khawatir dengan keadaan di rumah. Aku pun tak bisa berhenti memikirkan bahwa Nik dan ibuku hanya berdua saja di rumah. Membayangkan tinggal berdua dengan sesuatu yang amat dibenci sudah sangat mengerikan. Aku berlari menuju halte bus sebelum terlambat menaiki bus yang tiba di jam ini. Untung saja saat aku sampai, bus itu sudah berada di sana dan belum tancap gas. Segera aku masuk ke dalam bus dan bus pun melaju pergi.
Di bagian belakang sudah penuh sekali oleh penumpang Android. Aku merasa sedikit kurang nyaman. Entahlah. Mungkin karena pikiranku dipenuhi oleh Nik semenjak aku menemukannya. Keberadaannya menjadi tanda tanya besar. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap ke luar kaca bus, sambil berharap dalam hati agar bus bisa segera sampai di tempat tujuanku tanpa terhalang apa pun.
Saat telah sampai di halte tujuanku dan melangkah turun dari bus, rintik-rintik air jatuh dari langit dan mengenaiku. Rintiknya tidak deras, tapi aku berlari agar bisa segera sampai di rumah. Aku tidak melihat Tn. Elijah di sana. Aku menuju rumah dan segera masuk ke dalam.
“Aku pulang,” ucapku terengah.
Sepi. Tidak ada Ibu di bawah. Aku menutup pintu dan berjalan menuju tangga sambil mengusap wajahku untuk membersihkan air dari rintik hujan tadi. Saat sampai di atas kulihat pintu kamar Ibu sedikit terbuka. Aku mengintip ke dalam. Ia sedang tidur. Aku melangkah pergi dan menuju kamarku.
Aku berdiri di depan pintu kamarku dan menghembuskan napas sebelum memegang gagang pintu dan membukanya. “Nik?” panggilku segera setelah aku masuk.
“Oh! Kau sudah pulang,” katanya menoleh. Ia sedang duduk di pinggiran jendela dan langsung berdiri begitu melihatku datang. Sepertinya ia di sana sedari tadi.
“Yeah,” jawabku dengan hembusan napas lega. “Kau duduk di sana sejak aku berangkat tadi?” tanyaku sambil melepas ransel serta jaketku.
“Ya. Entah kenapa melihat orang-orang di luar terasa menyenangkan,” katanya.
Seolah ini kehidupan pertamamu. Aku duduk di tempat tidur dan menepuk-nepuk tempat di dekatku, mengisyaratkan Nik untuk kemari dan duduk di depanku. Ia mengikuti perintahku dan duduk. “Aku ingin bertanya sesuatu?” tanyaku.
“Tanya apa?”
“Apa glitch itu terjadi lagi?”
Ia menggeleng.
“Apa yang kau rasakan saat itu terjadi?”
“Pandanganku terhalangi dan gambaran mulai muncul dalam kepalaku,” jelasnya.
“Sebelumnya, gambaran seperti apa yang muncul saat kau mulai bisa mengingat namamu?” tanyaku.
Ia diam sejenak untuk berpikir. “Rasanya seperti ada seorang pria yang memanggilku dengan nama itu. Tapi gambaran itu hanya sekejap.”
Mungkinkah pemiliknya yang sebelumnya? Bisa jadi. Tapi apa alasan ia membuang Nik di sana? Jika ia membuangnya karena berpikir Nik sangatlah aneh, ia hanya perlu membawanya ke Pusat Perbaikan untuk diperbaiki. Lagipula seperti yang pernah dikatakan Marianne, memperbaiki Android tidak perlu biaya yang terlalu mahal.
“Jika hal seperti itu kembali terjadi, kau harus secepatnya memberitahuku,” perintahku padanya.
Ia mengangguk. “Memangnya apa yang ingin kau ketahui?” tanyanya.
“Semuanya. Semua tentangmu. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya dan siapa pemilikmu yang dulu.” Aku berhenti sejenak. Bagaimanapun juga, jika dia benar-benar masih memiliki pemilik, aku harus mengembalikannya. “Dan aku harus mengembalikanmu pada pemilikmu yang sebenarnya,” tambahku.
“Apa?” ucapnya. “Kenapa?”
“Secara teknis kau bukan benar-benar milikku. Aku harus segera mengembalikanmu jika sudah menemukan pemilikmu yang asli atau aku akan dihukum karena dianggap mencuri,” kataku menjelaskan. “Pastikan kau memberitahuku, ya?”
Ia diam dan menatap ke bawah. Entah kenapa ia terlihat seperti tidak terima. “Baiklah,” jawabnya kemudian.
Aku bangkit berdiri. “Ibuku sedang tidur. Sebentar lagi aku perlu pergi bekerja. Mari bantu aku aku membersihkan lantai bawah sebentar,” kataku padanya.
Ia bangkit berdiri. “Apa itu artinya aku sudah bisa keluar?” tanyanya.
“Sepertinya kau sangat ingin keluar,” ujarku sambil menggulung rambutku ke belakang asal-asalan. “Belum saatnya.”
“Di luar terlihat menyenangkan,” ungkapnya.
Aku melangkah menuju pintu dan membukanya. “Lain kali aku akan mengajakmu keluar. Ayo ikut aku. Berjalanlah pelan-pelan,” kataku.
Setelah aku dan Nik keluar dari kamar, aku menyuruhnya berjalan di belakangku. Aku menuju kamar ibuku untuk mengintipnya sekali lagi apakah dia sudah bangun. Ternyata belum. Aku menutup pintunya dengan rapat dan berjalan menuruni tangga. Saat sudah di lantai bawah, kulihat Nik sibuk memandangi seluruh ruangan. Mungkin karena ini pertama kalinya ia melihat lantai bawah karena sebelumnya aku membawanya saat ia belum aktif. Aku mengambil kemoceng dan mesin penyedot debu dari ruang cuci dan memberikan kemoceng itu pada Nik.
“Kau tahu benda ini untuk apa, kan?” tanyaku.
“Ya. Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” balasku. Aku hanya ingin memastikan karena dia benar-benar tidak tahu apa pun seperti bayi yang baru lahir. “Lakukan tugasmu membersihkan debu-debu di meja dan jendela. Aku perlu membersihkan lantai ini.”
Ia bergerak melakukan tugasnya sesuai perintahku. Rasanya sedikit kurang nyaman melihatnya bergerak dan berjalan ke sana kemari tanpa mengenakan pakaian apa pun. Android selalu mengenakan seragamnya. Mungkin aku perlu memberinya pakaian milik ayahku dulu yang masih kusimpan di gudang.
Setelah selesai membersihkan lantai, aku lanjut memasak untuk makan malam. Nik juga telah selesai dengan tugasnya dan menyuruhnya membawa kemoceng itu ke dalam ruang cuci dan meletakkannya di mana saja. Setelah keluar dari ruangan itu, ia mendekatiku dan berdiri di sampingku untuk memperhatikan apa yang kulakukan.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya.
“Memasak,” jawabku. Aku lalu menoleh padanya. “Jangan bilang kau juga ingin makan dan ingin aku memasak untukmu?” tanyaku.
“Apa?”
“Lupakan saja,” kataku dan kembali berkutik dengan memotong sayuran.” Mana ada mesin yang merasakan lapar?
Setelah mungkin karena ia sudah bosan melihatku memasak, ia melangkah pergi dan duduk di sofa. Ia masih tak berhenti memandangi seluruh ruangan seolah ia ingin melekatkan gambaran seluruh isi rumah ini ke dalam ingatannya. Aku juga perlu untuk sesekali memeriksa tangga apakah ibuku sudah bangun. Setelah selesai membuat makan malam, aku mencuci piring-piring yang kotor.
“Uhh… Chloe,” panggil Nik tiba-tiba.
Aku menoleh ke belakang dan melihat Nik yang memegang sisi kepalanya. Ia akan beranjak dari duduknya. Sepertinya sesuatu terjadi padanya. Aku segera menghampirinya.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Pandanganku…,” ungkapnya. “Terjadi lagi.”
Glitch, pikirku. “Tahan, ya? Apa yang kau lihat?” tanyaku. Aku sudah tidak bisa memikirkan lagi kesalahan seperti apa yang terjadi pada sistemnya.
Ia masih belum mengatakan apa-apa. Sepertinya ia masih menebak gambaran yang muncul dalam ingatannya. Sepertinya glitch kali ini terjadi sedikit lebih lama dari sebelumnya.
“Nik,” panggilku. “Apa yang kau lihat?”
“Tidak begitu jelas,” jawabnya akhirnya. “Terlalu gelap. Semuanya kabur. Aku seperti sedang berlari.”