the Existence

1571 Kata
(CHLOE) “Ibu! Kumohon! Berhenti!” seruku mencegahnya. “Pierre! Pierre! Kau di sana, kan? Keluarkan dia benda sialan!” ucapnya murka pada Android itu. Aku menarik Ibu menjauh dari Android itu. Meski butuh usaha berkali-kali karena ia masih kembali mendekati Android itu ketika aku baru saja menjauhkannya. Android itu pun hanya terdiam. Maksudku diam seperti patung. Normalnya Android akan mengatakan sesuatu kalau ia merasa terancam. Atau membunyikan suara peringatan yang begitu nyaring sebagai pertanda ada yang membahayakannya. Anehnya ia tidak berkutik. “Tolong. Pergilah,” kataku mengusir Android itu. “Aku tidak tahu siapa pemilikmu tapi jangan pernah kembali ke sini. Ini bukan daerah untuk Android,” tambahku dan membawa pergi ibuku dari sana. Akan jadi masalah jika Ibu sampai merusak Android itu. Pemiliknya akan tahu dan akan menuntut kami jika itu terjadi. Jika kami tak bisa menggantinya dengan uang, masalah lain akan menunggu kami. “Jangan pernah berjalan jauh lagi dari rumah, oke?” kataku padanya. “Kalau Ibu mendekati Android lagi, kita akan kehilangan rumah kita yang sekarang. Kumohon mengertilah. Keadaan kita sudah tidak seperti dulu.” “Pierre ada di dalam sana… di dalam sana…,” gumamnya. “Tidak ada apa-apa di dalam sana,” balasku menghela napas. Saat melihat Android, ia seringkali menggumamkan kata-kata seperti itu. Awalnya aku tidak terlalu peduli karena keadaannya sendiri yang memang tidak baik-baik saja. Tapi semakin lama aku memikirkannya, mungkin ada kaitannya dengan setahun lalu yang tak kuketahui. “Lain kali jangan lakukan itu lagi,” kataku saat kita menaiki undakan rumah. “Masuklah. Aku akan membuatkan makan malam.” Aku membuka pintu dan menyuruh Ibu masuk. Sesampainya di dalam aku segera menuju dapur dan meletakkan kantong berisi bahan makanan yang kubeli tadi ke meja dapur. Aku menengok ke belakang dan kulihat ia duduk di sofa dan sedang menonton TV. Sebenarnya ada banyak sekali tayangan yang memperlihatkan Android di sana. Aku pun tak bisa mengawasi tayangan yang ditontonnya selama dua puluh empat jam. Tapi anehnya ia tidak bertindak seperti tadi meski melihat Android di dalam TV. Ia mulai menggila saat ia melihat Android secara langsung. Beruntungnya di Heaven Hills tidak ada orang yang memiliki Android. Distrik ini hanya ditinggali oleh manusia-manusia yang merasa terbuang oleh masyarakat kota. Aku mulai memasak makan malam yang sederhana untuk kami berdua. Jika memikirkan bahwa ibuku dulu yang memasak untuk aku dan Ayah, rasanya seperti mimpi saja. Ibuku yang sekarang tidak bisa melakukan apa pun selain hanya duduk diam dengan tatapan yang seringkali kosong. Ibuku yang sekarang tidak pandai menjaga penampilannya atau bahkan tidak lagi peduli. Ibuku yang sekarang tidak memedulikan apa pun selain hanya keberadaan ayahku. Setelah selesai membuat makan malam, aku membawa dua piring itu menuju meja makan. “Bu, ayo makan malam,” ajakku. Aku berjalan menghampirinya. Aku membantunya bangkit dari duduknya dan menuntunnya menuju meja makan dan duduk di sana. Aku duduk di seberangnya. Tidak ada percakapan di antara kami selain hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring. Ibuku makan dengan lambat. Sesekali ia hanya menatap makanannya dengan cukup lama, dan sesekali ia kesulitan bahkan untuk menyendoknya. Aku berdecak, dan membantunya menyendok makanannya. “Ibu harus banyak makan agar kita berdua bisa mencari Ayah,” kataku. Ia tidak menanggapi. “Siapa pria yang selalu Ibu sebutkan itu?” Sekali lagi ia tidak menanggapi. Semakin lama aku semakin kesal karena aku seperti berbicara pada tembok. “Kalau Ibu memberitahuku, aku mungkin bisa menemukan Ayah lebih cepat,” ucapku dengan penekanan, berusaha menahan kesal. Ia lalu menggeleng. “Aku… tidak ingat… namanya,” ucapnya. Aku menyentuh keningku dan menghela napas dengan berat. Memang percuma saja, batinku. Setelah selesai makan malam aku bersiap untuk pergi kerja. Aku merapikan kamar ibuku sejenak sebelum keluar dari kamar dan turun ke bawah. “Aku berangkat,” pamitku. Ia tidak membalas apa pun dan aku keluar dan menutup pintunya. Aku membuka payungku dan berjalan menuruni undakan. Aku ingin memberikan Tn. Elijah makan malam sebagai ucapan terima kasihku hari ini. Tapi saat aku menuju tempat tinggalnya, ia tidak ada di sana. Aku masuk ke sebuah rumah dengan atap kain usang dan kardus sebagai alasnya, mencari sosok Tn. Elijah. Namun di dalam juga kosong. Karena tak ada waktu untuk mencarinya, aku meletakkan makanan itu di dekat tempat tidurnya, lalu keluar dari sana. Aku berjalan menuju halte bus. Sesampainya di sana kulihat dua wanita sedang duduk di bangku tunggu. Mereka sedang menatap ponselnya masing-masing. Aku menutup payungku dan duduk di samping mereka. “Apa kita beli mesin pembersih keluaran produk lain saja?” tanya wanita di sampingku pada temannya itu. “Ck! Entah. Selama ini aku selalu menggunakan produk keluaran CyberTech. Kenapa sih mereka tidak memasarkan semua barang itu saja?” Aku lupa. Hari ini hari pengumuman dari benda-benda di pameran waktu itu yang akan dipasarkan. Aku segera mengambil ponselku dan melihat di internet. Beritanya sudah muncul di mana-mana. Yang terpilih Android itu. Sesuai yang dikatakan lelaki waktu itu. Rasanya, CyberTech berniat memasukkan semua keahlian pada Android, jadi mereka hanya akan memproduksi satu produk saja kedepannya. Setelah beberapa menit, bus yang kami tunggu akhirnya datang. Aku melirik ke bangku paling belakang, ke tempat khusus Android. Masih kosong. Belum ada mereka. Aku duduk. Memasang earphone ke kedua telingaku untuk mendengarkan musik sambil menunggu untuk sampai ke tempat tujuanku. *** “Chloe, tolong bantu aku menata obat yang baru datang ini,” kata Marianne setelah aku baru saja datang. Aku meletakkan tas dan melepas jaketku dan membantunya menata obat-obat itu ke rak. “Aku mendapat sedikit masalah tadi,” ungkapku. “Apa?” “Ibuku bertemu dengan Android di luar.” “Apa?” ucapnya terkejut dan menoleh padaku. “Lalu?” “Ada yang aneh dengan Android itu. Ia hanya diam saat ibuku jelas-jelas mengancamnya.” “Tidak, Tidak, Chloe. Aku bukan bertanya tentang Android itu. Tapi ibumu.” “Oh!” ucapku tersadar. “Ia sudah bisa tenang dan aku mengusir Android itu,” kataku. Aku sudah menceritakan semuanya pada Marianne soal kondisi ibuku yang menjadi sedikit gila setelah ayahku menghilang. Tak jarang ia juga memberiku obat untuk ibuku meski aku merasa cukup keberatan untuk menerimanya. “Bukannya kau pernah bilang di tempatmu sama sekali tidak ada Android? Dari mana Android itu?” tanyanya. “Aku juga ingin tahu itu,” kataku. “Yang lebih aneh lagi ia hanya diam saja dan tidak membunyikan suara peringatan.” Bel pintu apotek berbunyi. Aku serta Marianne sama-sama menoleh. Datang seorang kakek yang duduk di kursi roda dengan sebuah Android lelaki yang mendorongnya. “Oh! Tuhan, betapa senangnya aku bisa melihat manusia lagi!” ucap kakek itu senang. Aku dan Marianne terkejut dan saling menatap satu sama lain. “Ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanya Marianne ramah. “Ahh…! Kalian selalu tahu apa yang dialami orang tua sepertiku. Armand,” perintahnya sambil memanggil Android yang bersamanya untuk maju mendekat. “Aku mencari obat untuk nyeri sendi,” kata Armand sang Android. Sementara Marianne mencari obatnya di rak belakang, kakek itu mulai bercerita padaku. “Aku hampir berpikir tak ada manusia lagi yang bekerja. Selama ini aku selalu dilayani Android ke manapun aku pergi. Bahkan aku sendiri dirawat oleh Android,” katanya tertawa dan menunjuk Android yang dipanggil Armand itu dengan anggukan kepala. “Memang sulit sekali mencari pekerjaan untuk manusia sekarang,” balasku mengingat keadaanku sendiri. “Tapi kuakui, aku tidak akan bisa melakukan apa pun tanpa Armand. Putraku satu-satunya meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Semenjak itu kesehatanku memburuk, dan aku membeli Armand untuk merawatku sekaligus menemaniku. Ia sudah kuanggap seperti putraku sendiri,” ceritanya. Aku melirik Android itu. Jika saja Armand adalah manusia, ia pasti akan tersentuh dengan kata-kata kakek itu yang menganggapnya putranya sendiri. Tapi ia sebuah mesin. Tidak memiliki emosi. Marianne kembali dan menyerahkan obat itu dalam sebuah kantong. Armand melakukan pembayaran digital sebelum kembali ke posisinya semula; di belakang kakek itu. “Kuharap masih ada banyak tempat yang mempekerjakan manusia seperti di sini,” ucap kakek itu. “Aku yakin masih banyak di luar sana,” sahut Marianne tersenyum. “Masih ada banyak manusia berhati baik seperti Armand. Mereka hanya butuh kesempatan,” katanya. “Terima kasih, Nona-nona, sudah melayaniku,” pamitnya sambil Armand mendorongnya keluar dari apotek. “Semoga cepat sembuh, Kek!” sahut Marianne. Setelah sosok mereka berdua pergi, Marianne menghembuskan napas dengan keras lewat mulutnya. Sikapnya itu seolah ia sedang gugup. “Kau dengar yang diucapkan kakek itu tadi?” tanyanya. “Yang mana?” tanyaku balik. “Ia selalu dilayani Android. Kau bisa membayangkan berapa banyak Android di antara kita yang populasinya mungkin sudah melebihi manusia?” “Kurasa kita semua sudah tahu bahwa semuanya sudah dikuasai oleh Android sekarang,” balasku. “Yap! Benar,” katanya menganggukkan kepala. “Kita seperti sedang menghadapi perang dunia dengan sebuah mesin. Kalau seperti ini manusia benar-benar akan kehilangan harapan untuk hidup karena semua telah diambil oleh robot.” “Aku tahu. Tapi kau juga tahu protes yang dilayangkan para tunawisma pada CyberTech selama ini tidak dihiraukan sama sekali,” kataku. Marianne kembali menghembuskan napas, kali ini terdengar berat. “Karena CyberTech sudah banyak membantu kita dengan ciptaannya, Chloe. Masih banyak orang menantikan produk-produk mereka. Protesan seperti itu hanya seperti sebuah lemparan kerikil.” “Mengapa jadi seperti ini? Aku ingin tahu alasan mereka memproduksi Android sebanyak sekarang,” kataku. “Tanyakan itu pada Nicolas,” kata Marianne. Ah, ya. Nicolas Antoine Eugene. Ilmuwan muda dibalik suksesnya ciptaannya. Tapi tak pernah ada yang tahu keberadaannya sampai sekarang. Ia juga menghilang, sama seperti ayahku, tak lama setelah Android diciptakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN