Bab 6. Meminta Karma

1142 Kata
Keira tiba lebih awal dari biasanya di rumah sakit. Sepagi itu, ruang poli masih kosong. Tangannya terus bekerja, mengelap meja dan peralatan medis. Ia menghela napas panjang, mencoba menghalau perasaan gamang yang terus menghantui. “Keira?” Suara ramah kepala perawat mengejutkannya. Wanita paruh baya itu masuk dengan clipboard di tangan, wajahnya seperti biasa penuh senyum. “Pagi, Bu Dian,” sapa Keira sambil buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. “Rajin sekali kamu datang pagi-pagi begini. Sudah betah kerja di sini?” tanya Bu Dian, matanya menyelidik penuh rasa ingin tahu. Keira tersenyum tipis. “Betah, Bu. Cuma masih perlu penyesuaian sedikit.” “Wajar itu. Tapi kamu hebat, ya. Kerja di bawah Dokter Julian, sang perfeksionis,” ujar Bu Dian dengan nada bercanda. Keira terdiam, berpura-pura sibuk membereskan alat medis. Namun, rasa penasaran merayap dalam benaknya. Ia hanya mengangguk kecil tanpa berkomentar. “Ah, ngomong-ngomong soal Dokter Julian ...,” lanjut Bu Dian sambil menuliskan sesuatu di clipboard, “kamu tahu nggak, dia itu sebenarnya menantu pemilik rumah sakit ini.” Kalimat itu membuat Keira menghentikan gerakannya. “Menantu pemilik rumah sakit?” ulangnya pelan, nyaris seperti gumaman. “Iya. Dia menikah enam tahun lalu. Istrinya namanya Bu Laura, cantik, orangnya nggak sombong meski kaya dari lahir. Mereka menikah di luar negeri. Katanya pesta pernikahannya megah banget, kayak di film-film Hollywood.” Bu Dian terkekeh kecil, seolah membayangkan pesta itu di benaknya. Kata-kata itu menghantam Keira seperti petir di siang bolong. Enam tahun lalu? pikirnya dengan napas tercekat. Bukankah itu saat Julian meninggalkannya tanpa alasan? Ia kira Julian hanya meneruskan pendidikannya di luar negeri, tetapi lebih dari itu, Julian juga melangsungkan pernikahan saat dirinya hancur sendirian. Bagaimana mungkin pria itu bisa tetap melanjutkan hidup, sementara masa depannya telah dirusak? Bagaimana mungkin Julian bahagia, sementara hatinya remuk redam? Keira mencoba menyembunyikan keterkejutannya. “Oh … begitu, ya,” ujarnya pelan, meski suara hatinya berteriak penuh amarah. Bu Dian, yang tidak menyadari apa pun, melanjutkan dengan nada santai, “Tapi sayang, pernikahan mereka belum diberkahi anak. Sudah coba program ini-itu, tapi sampai sekarang masih belum berhasil.” Keira menelan ludah, hatinya semakin terasa sesak. Satu sisi juga takut kalau Julian menginginkan anak, dan menyadari Revan adalah darah dagingnya, maka Revan akan direbut. Tidak! Keira tidak akan membiarkan itu terjadi. “Ya sudah, saya lanjut ke ruang sebelah dulu, ya. Kamu kerja yang baik, Keira. Jangan sampai kena semprot Dokter Julian, ya.” Bu Dian tertawa kecil sebelum keluar ruangan, meninggalkan Keira yang kini berdiri mematung. Tak lama setelah itu, pintu ruang poli terbuka dengan suara tegas. Julian masuk dengan jas putih kebanggaannya, wajahnya angkuh seperti biasa. “Siapkan alat pemeriksaan dasar. Pasien pertama akan datang dalam lima menit!” titahnya tanpa menoleh kepada Keira. Keira menahan napas, mencoba menekan emosinya. “Baik, Dokter,” jawabnya datar, lalu bergegas menyiapkan tensimeter, stetoskop, termometer, dan alat lain di meja pemeriksaan. Julian duduk di kursi kerjanya, membuka laptop dan memeriksa jadwal pasien. Ia mengetik sesuatu dengan gerakan cepat, lalu menutup laptopnya dengan suara keras. “Pastikan semua pasien sudah registrasi dan tidak ada yang terlambat. Saya tidak mau waktu saya terbuang percuma.” “Baik, Dokter,” ulang Keira lagi, meski dalam hati ia terus memaki pria itu. "Dasar pria tak tahu diri! Kau menghancurkan masa depanku, merenggut semuanya, lalu kembali dengan wajah angkuh seolah tak ada yang terjadi. Pakai amnesia, pula! Dasar b******n ...!" batinnya berteriak penuh sumpah serapah. Julian berdiri, mengencangkan jas putihnya. “Jadwal hari ini padat. Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Jika ada yang terlambat, atau alat tidak siap, tanggung sendiri akibatnya,” katanya dengan nada dingin. Keira hanya bisa mengangguk, menunduk dalam-dalam agar Julian tidak melihat sorot matanya yang penuh kebencian. “Mulai panggil pasien pertama,” perintah Julian, tangannya menunjuk ke arah pintu. Keira mengatur napasnya, mencoba menenangkan diri sebelum membuka pintu ruang poli dan memanggil pasien pertama Seorang pria paruh baya masuk, membawa hasil lab yang dilipat rapi. Julian duduk di kursinya, menerima hasil lab tersebut dengan gestur kaku. “Apa keluhan Anda, Pak?” Sementara Keira sibuk membantu Julian melakukan pemeriksaan. Tangannya cekatan mencatat hasil tensi, menyerahkan stetoskop, hingga mengatur posisi pasien di meja pemeriksaan. “Saya sering merasa lemas, Dokter. Tangan dan kaki suka kesemutan juga,” jawab pria itu dengan suara pelan. Julian membaca hasil labnya dengan cermat. “Hemoglobin Anda rendah. Kemungkinan besar anemia. Saya akan meresepkan suplemen zat besi dan menyarankan pola makan tinggi zat besi seperti daging merah, bayam, dan hati ayam. Kalau dalam dua minggu kondisi tidak membaik, kita lanjutkan dengan pemeriksaan lebih mendalam.” “Terima kasih, Dokter,” jawab pasien. Keira menyerahkan kertas resep yang sudah Julian tandatangani. “Obat bisa ditebus di apotek lantai satu, Pak,” katanya lembut sebelum mengantar pria itu keluar. Namun, wajahnya yang semula ramah berubah tegang saat baru saja membuka pintu dan di hadapannya berdiri seorang wanita cantik yang membuat jantungnya berdegup kencang. “Maaf mengganggu, kamu asistennya Dokter Julian, kan?” tanya Laura dengan senyum manis. Ia memegang kotak makan berwarna pastel di tangannya. “Suamiku belum sarapan. Bisa kamu serahkan ini ke dia? Aku harus segera pergi, ada urusan mendadak.” Keira terdiam sejenak, menatap Laura yang terlihat sempurna. Wanita itu mengenakan blouse putih dengan rok selutut berwarna krem, rambutnya tertata rapi dengan sedikit gelombang di ujungnya. Wajahnya bersih tanpa cela, dengan make-up tipis yang menonjolkan kecantikannya. “Oh, tentu, Bu,” jawab Keira akhirnya, mengambil kotak makan itu dengan tangan gemetar. Laura tersenyum lagi. “Terima kasih, ya. Oh, dan tolong sampaikan kalau aku tidak bisa makan bersamanya hari ini. Aku juga tidak bisa menemuinya karena harus langsung pergi.” Keira hanya mengangguk. Dalam hati, ia merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Laura terlalu sempurna. Cantik, anggun, dan jelas wanita kelas atas. Apa mungkin dia pernah tahu bagaimana perasaan dikhianati? pikir Keira. “Baik, Bu Laura,” ujar Keira pelan. “Baiklah, aku pergi dulu. Jangan lupa sampaikan, ya.” Laura melenggang pergi setelahnya, tanpa menunggu jawaban Keira. Keira menatap kotak makan di tangannya dengan perasaan campur aduk. “Keira!” bentakan Julian membuyarkan lamunannya. “Apa yang kamu tunggu di situ? Bengong saja, melamun.” Keira menoleh dengan cepat, mendapati tatapan tajam Julian. Ia melangkah mendekat, menyerahkan kotak makan itu. “Ini, Dokter. Bu Laura menitipkan sarapan untuk Anda.” Julian menerima kotak itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. “Dia bilang apa?” tanyanya dingin. “Katanya, dia tidak bisa makan bersama Anda hari ini karena ada urusan mendadak,” jawab Keira, berusaha menjaga nada suaranya tetap datar meski emosinya berkecamuk. Julian mengangguk kecil, lalu meletakkan kotak makan itu di meja tanpa membuka isinya. “Lanjutkan panggil pasien berikutnya!” perintahnya, tegas. “Baik, Dokter,” jawabnya singkat, lalu berjalan ke area tunggu pasien. Namun, dalam hatinya, ia terus memaki pria itu. Jika luka yang Julian berikan begitu menghancurkannya, apakah pantas ia meminta karma maha dahsyat untuk membalas pria itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN