Laura berdiri di depan pintu masuk rumah sakit dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras. Rambutnya disisir rapi terurai di bahu, blazer krem yang ia kenakan memberikan kesan anggun. Tatapannya tajam, penuh tekad. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan suaminya tidak berada di sekitarnya sebelum melangkah masuk. Di lobi, para petugas resepsionis menyapa dengan sopan, tetapi Laura hanya tersenyum kecil, lalu melangkah menuju meja informasi. "Maaf, bisa bantu saya mencari asisten dokter Julian? Namanya Keira," ucapnya dengan nada lembut. Petugas itu mengangguk. "Oh, Ibu Keira ada di poli umum. Saya bisa panggilkan beliau kalau Ibu mau." "Ah, tidak perlu. Saya bisa langsung ke sana," jawab Laura sambil tersenyum. Ia berjalan menuju lorong dengan langkah cepat. Sesampainya di depa

