Sekitar jam setengah satu dini hari, Emma baru pulang. Di tangannya terdapat sebuah plastik berwarna hitam. Seorang perempuan dipersilakan masuk olehnya setelah ia membuka pintu. Keduanya jalan beriringan. Betapa terkejutnya Emma saat mendapati Romeo sedang terlelap di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Ia langsung bergegas ke sana. Dengan temannya yang masih mengintili. Romeo meringkuk di sofa. Tubuhnya yang besar tidak bisa ditampung sepenuhnya oleh panjang sofa. Kakinya terlipat dengan kedua tangan yang diselipkan di antara kedua paha.
Entah kenapa Emma beranggapan bahwa Romeo mungkin kedinginan. Tadi habis hujan, dan itu lebat sekali. Terlebih, air conditioner tidak dimatikan oleh Romeo. Ia tidak tahu kenapa Romeo bisa tidur di sofa. Mungkin tidak sengaja ketiduran saat menonton televisi, mungkin juga memang sengaja menunggu dirinya. Ahh, untuk opsi kedua itu abaikan saja. Emma hanya menduganya.
Berjongkok di depan Romeo, Emma menepuk-nepuk pelan lengan Romeo. Bola mata itu langsung merespons tepukannya. Terbuka pelan-pelan sampai bisa menatap Emma.
"Kenapa kamu tidur di sini? Tadi habis hujan, kamu tahu? Pasti dingin sekali. Kenapa tidak pindah ke kamarmu?" tanya Emma menggeleng pelan.
Romeo beringsut bangun. Hal itu membuat Emma yang awalnya berjongkok di lantai, kini duduk di sebelah Romeo dengan jarak cukup sempit. Romeo tidak ingin mengakui bahwa dirinya khawatir dan memilih untuk menunggu sampai Emma pulang, dan ia bisa melihat wajah gadis itu agar bisa merasa tenang.
"Aku tidak sengaja ketiduran—" Perkataan Romeo terhenti saat dirinya menoleh ke belakang. Terkejut mendapati seorang perempuan langsung tersenyum padanya setelah ia menoleh.
"Hai," sapa perempuan dengan rambut kuncir kuda itu.
Romeo langsung menatap Emma. Meminta jawaban lewat tatapan bingungnya. Pertama, Emma meminta temannya duduk di sofa lain. Ia lantas menjelaskan.
"Dia temanku. Namanya Manda. Sengaja kuajak menginap karena takut hujan lagi saat dia dalam perjalanan pulang."
Perempuan itu tersenyum lagi kepada Romeo. Kali ini ditambah lambaian tangan kanannya. Membuat Romeo mau tak mau ikut menarik sudut bibirnya.
"Emma." Manda memanggil. Emma menatapnya, "kupikir kamu memang sangat populer. Kekasihmu yang sebelumnya sangat tampan, tapi siapa sangka kini kamu tertarik dengan anak SMA."
"Apa maksudnya?" Emma terbahak.
Manda mengendikkan dagunya ke arah Romeo. "Bukankah ini kekasih barumu? Dia terlihat terlalu muda bukan buatmu?" tanyanya memperjelas maksudnya.
Untuk beberapa saat, Romeo dan Emma saling pandang karena pertanyaan itu. "Oh, ayolah! Jangan sekonyol itu. Kamu tahu siapa kekasihku, dan bagaimana baiknya hubungan kami. Kami tidak akan mudah putus," jelas Emma cukup jengah dengan dugaan temannya.
"Benar juga. Lalu, apa kamu berselingkuh?"
Bola mata Romeo dan Emma membesar secara bersamaan. Emma mengambil bantal sofa dan dengan cepat melemparkannya pada Manda. Tidak sempat menghindar, bantal berukuran kecil itu mengenai wajah Manda.
"Berhenti berbicara omong kosong. Aku tidak berselingkuh!"
Manda mengembuskan napas. "Lantas siapa dia?" Tidak peduli dengan bantal yang baru mendarat di wajahnya, ia menunjuk Romeo. "Kamu tidak akan memakai alasan aneh dengan mengatakan bahwa dia adikmu, bukan? Aku tahu kamu anak tunggal."
Sekarang Emma kebingungan. Tidak mungkin mengatakan bahwa ia memungut Romeo karena merasa kasihan, bisa jadi Manda malah akan mengira bahwa Romeo adalah orang jahat yang berpura-pura meminta belas kasihan. Dan seperti perkataan Manda, tidak mungkin juga mengakui bahwa Romeo adalah saudaranya. Satu-satunya pilihan adalah apa yang kini ada di pikiran Emma.
"Dia ini adalah sepupu jauhku. Sedang mencari pekerjaan di kota ini. Karena datang dari luar kota, makanya aku menampungnya sampai dia mendapatkan pekerjaan."
Sungguh alasan yang sangat konyol. Emma tertawa dalam hati. Selama ini ia selalu hidup susah sendirian. Tidak ada saudara yang mengakuinya. Mereka semua berpura-pura tidak kenal saat dirinya berada dalam kesusahan. Bersikap seolah mereka pun sedang dalam kesulitan sehingga tidak bisa menerima bantuan.
Ahh, bisa dibilang pada dasarnya ia tidak memiliki saudara jauh ataupun saudara dekat karena kelakuan mereka itu. Tapi sekarang ia justru mengakui Romeo sebagai sepupunya. Benar-benar aneh. Tapi untungnya, Manda terlihat percaya dengan hal itu.
"Kenapa tidak kuliah dulu?" Manda bertanya. Dari tatapannya, itu jelas ditujukan untuk Romeo. "Kalau tidak kuliah, kamu hanya akan menjadi pegawai minimarket seperti kami. Kalaupun lebih baik, tetap saja pegawai yang tidak memiliki jabatan."
Emma hampir menyemburkan tawa mendengar hal itu. Sama seperti dirinya yang menduga bahwa Romeo masih berusia delapan belas atau sembilan belas karena wajahnya yang terlihat muda sekali, Manda pun berpikir demikian.
"Tidak." Romeo yang sejak tadi diam angkat suara, "aku sudah lulus kuliah. Dan maaf sudah mematahkan dugaanmu, tapi aku bukan anak SMA."
Seperti reaksi Emma dulu, Manda pun tak kalah terkejut. Karena terlalu kaget, Manda bahkan sampai menutup mulutnya.
"Yang benar saja?" Manda tertawa aneh, "jangan mempermainkanku. Tidak lucu. Wajahmu itu terlihat seperti anak SMA."
"Tapi aku sudah memiliki gelar S1!" bantah Romeo telak.
Manda diam. Merasa kalah hanya dengan mengetahui fakta itu saja. Ia yang lulusan SMK saja serasa ingin menghilang dari hadapan Romeo. Sudah tampangnya terlihat muda sekali, tampan pula, dan sudah memiliki gelar sarjana. Lalu dirinya? Jangan ditanyakan lagi. Wajah boros, hanya lulusan SMK, sedikit lemot, dan tidak secantik Emma.
"Sudahlah, tidak perlu berdebat." Emma mengangkat plastik hitam yang sejak tadi dibawa olehnya. Mengeluarkan tiga bungkusan yang segera diletakkan di atas meja.
Ia menatap Romeo. "Apa kamu sudah makan?" tanyanya.
Romeo mengangguk. Mengatakan bahwa dirinya sudah makan roti tawar beberapa jam lalu. Hal itu membuat Emma merasa bersalah. Sore tadi ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan makanan untuk Romeo. Selama di rumah, sudah pasti Romeo merasa kelaparan. Mungkin itu salah satu sebabnya kenapa Romeo bisa ketiduran di sofa.
Lalu, Emma pergi ke dapur. Membawa tiga piring dan tiga sendok. Ia kembali lagi untuk mengambil air minum. Kemudian memilih duduk di sebelah Romeo.
"Besok-besok, sebelum berangkat kerja, aku akan membuatkan makanan untukmu terlebih dahulu. Kamu bisa memanaskannya saat lapar."
Emma membukakan bungkusan yang tadi dibawanya. Bungkusan pertama ia berikan kepada Romeo. Bungkusan kedua untuknya sendiri, sedangkan Manda mengatur miliknya sendiri.
Itu adalah nasi goreng yang Emma beli di perjalanan. Sebenarnya untuk jaga-jaga kalau Romeo belum makan. Dan kalaupun Romeo sudah makan, Romeo bisa tetap menikmatinya. Tapi siapa sangka ia justru membiarkan Romeo kelaparan di rumah. Untung saja ia membeli tiga bungkus. Bersiap tetap membangunkan Romeo meskipun sudah tidur.
"Aku bisa menunggu," kata Romeo tiba-tiba.
Emma bertanya apa yang dimaksud oleh Romeo. Menunggu apa?
"Kamu. Aku bisa menunggumu. Tidak perlu memasak untukku sebelum berangkat kerja. Itu malah membuatku tidak enak. Di luar sana kamu bekerja, sementara aku bisa santai sambil menunggumu. Jadi aku tidak mau. Aku akan menunggu sampai kamu pulang, lalu kita bisa makan bersama."
Romeo tidak sadar bahwa dirinya baru saja mengakui, tidak peduli seberapa lapar dirinya, atau seberapa lama Emma bekerja, ia akan tetap menunggu.
"Kalau begitu aku akan menyediakan camilan untukmu. Kamu bisa memakannya untuk mengganjal perut sambil menunggu aku pulang."
Di kursinya, Manda terbatuk. Saat Romeo dan Emma menoleh, gadis itu tengah mengambil gelas dan meneguknya serakah.
Tidak! Manda tidak tersedak karena makanan, ia hanya terkejut mendapati sikap Emma begitu manis pada Romeo. Dan yang lebih parahnya lagi, Romeo pun melakukan hal yang sama dengan wajah polosnya.
"Kamu kenapa?" tanya Emma pada Manda.
Manda mendengkus. "Emma, aku tahu sifatmu memang seperti itu. Lembut dan baik, tapi kalau yang barusan sepertinya agak keterlaluan?" Ia kemudian mendelik ke arah Romeo, "dan kamu. Itu astaga, jangan terlalu manis seperti itu. Awas saja, ya, kalau kamu begitu ke setiap perempuan. Bahaya tahu, anak gadis orang mungkin bisa kejang-kejang."
Manda mungkin berujar berlebihan, tapi hal itu malah membuat Emma terbahak. Pasalnya, ia sendiri bisa melihat dengan jelas. Bukan orang lain yang kejang-kejang, tapi Manda sendiri. Terlihat jelas di wajahnya bahwa Manda terbawa suasana.
Karena tidak mengerti, Romeo bertanya, "Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Dengan wajah polos tentunya.
"Cara bicaramu itu terlalu manis tahu! Apa kamu tidak sadar?" tanya Manda memasukkan nasi goreng ke mulutnya dengan takaran satu sendok penuh.
"Tidak! Aku tidak melakukannya pada orang lain." Romeo baru paham apa yang dimaksud Manda. Rupanya karena cara bicaranya pada Emma. "Karena aku hanya berbicara seperti itu kepada Emma."
Bisa dibilang, saat ini Manda merasa ingin pergi ke bulan. Tidak! Ia tidak bisa disuguhi sosok sesempurna Romeo. Bisa mati muda nanti dirinya. Pertama, ia akan terkena diabetes. Lama kelamaan penyakit itu akan bertambah parah dan menjadi akut. Yang pada akhirnya akan membuatnya kehilangan nyawa.
"Lupakan saja," kata Manda menyerah. Lagi-lagi mengundang gelak tawa Emma. "Sebenarnya siapa namamu. Tadi hanya aku yang diperkenalkan oleh Emma, sedangkan aku tidak tahu siapa namamu."
Satu nama keluar dari mulut Romeo.
"Romeo."
Dan itu membuat Manda bereaksi berlebihan. Ia memegang dadanya sendiri seolah jantungnya akan melompat dari sarang. Tangan kanannya yang sedang memegang piring bergetar hebat.
"Romeo, aku Juliet-mu," aku Manda dramatis.
Sontak saja Emma tertawa keras sekali sampai harus memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Tawanya bertambah parah saat ia melihat Romeo yang nampak risih melihat Manda mengaku sebagai Juliet-nya. Yang artinya merupakan pasangan Romeo di kisah melegenda.
Sekadar informasi, Manda adalah teman Emma yang paling banyak bicara, dan banyak tingkah pula. Tidak jarang kelakuannya kerap mengundang tawa. Emma mengakui, setiap kalau satu shift dengan Manda, ia selalu mudah tertawa dan melupakan rasa lelahnya. Bukan karena rekan kerjanya yang lain tidak menyenangkan, hanya saja Manda selalu berhasil mendominasi situasi.
"Ngomong-ngomong, di mana kamu akan tidur?"
Pertanyaan Romeo berhasil menghentikan tawa Emma dan membuat Manda menatapnya.
"Dia tidur bersamaku." Emma yang buka suara.
"Dia bisa tidur di kamarku jika kamu tidak nyaman tidur berdua. Aku bisa tidur di sofa."
"Tidak perlu." Emma meraih gelas. Meneguknya perlahan, "dia sering menginap di sini, dan selalu tidur bersamaku. Kamu tidak perlu khawatir. Kasurku cukup luas."
Mendengar sahutan Emma, Manda mendesah kecewa. Padahal baru saja ia membayangkan bisa tidur di ranjang yang juga ditiduri Romeo.
"Tapi kalau Romeo agak memaksa, aku bisa tidur di kamarnya." Manda nyengir lebar setelah mengatakannya. Cengirannya luntur begitu saja saat Romeo kembali membuka mulut.
"Tidak. Aku tidak akan memaksa. Jika Emma mengatakan bahwa kamu akan tidur di kamarnya, maka itulah yang akan terjadi."
Luntur sudah harapan Manda detik itu juga.