“Wow, hari ini kamu bangun lebih pagi,” kata Emma saat melihat Romeo berjalan ke arahnya.
Romeo hanya mengangguk. Ia menarik kursi di meja makan dan duduk di sana. Memang masih cukup pagi. Matahari bahkan belum terang. Mungkin baru sekitar jam enam pagi. Gorden jendela yang sudah dibuka oleh Emma membuat Romeo bisa sedikit menebak-nebak.
Emma yang sedang berada di dapur keluar tak lama kemudian. Membawa dua piring yang diletakkan di atas meja. Gadis itu kembali lagi ke dapur. Bertanya kepada Romeo s**u apa yang diinginkannya, putih atau coklat, dan Romeo menyahut bahwa dirinya ingin meminum s**u coklat. Kemudian datanglah Emma dengan dua gelas s**u coklat.
Satu piring yang tadi sudah dibawa lebih dulu digeser ke arah Romeo, sementara yang satunya diletakkan di seberangnya. Setelah memberikan s**u milik Romeo, Emma segera duduk di kursinya. Ia meminta Romeo untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan. Romeo menurutinya dan segera kembali duduk di kursinya.
“Kenapa hanya diam? Ayo langsung dimakan sarapannya!” Emma kembali berbicara saat melihat Romeo hanya menatap roti bakar di piringnya. “Atau jangan-jangan kamu tidak menyukai roti bakar?” selidiknya.
Buru-buru Romeo menggeleng. “Bukan begitu. Aku memang tidak pernah sarapan dengan roti bakar, tapi bukan berarti aku tidak menyukainya.”
“Lalu kenapa kamu tidak mulai memakannya?”
Kepala Romeo terangkat. Iris kelabu dan coklat gelap itu saling bertubrukan untuk beberapa saat. Romeo yang pertama kali memilih mengalihkan pandangan dan kembali menatap roti bakar miliknya.
“Kamu tuan rumahnya. Setidaknya kamu harus makan lebih dulu sebelum aku. Jangan malah menyuruh aku makan lebih dulu. Itu membuatku tidak enak.”
Emma menahan senyum geli. Romeo pastilah dididik dengan orang tua yang baik. Yang mengajarkannya tentang tata krama saat bertamu di rumah orang. Katakanlah apa yang dilakukan oleh Romeo semata-mata karena Romeo merasa bahwa dirinya sedang menumpang, dan tidak enak kalau makan lebih dulu saat tuan rumahnya justru memperhatikannya. Tapi tetap aja itu lucu di mata Emma.
Menurut Emma, ia dan Romeo tidak jauh berbeda. Sama seperti Romeo yang sekarang tidak memiliki tempat tinggal dan menumpang di apartemennya, ia pun bisa tinggal karena pemiliknya adalah kekasihnya. Mau apartemen tersebut dibeli atas namanya sekalipun, karena ia sama sekali tidak mengeluarkan sepeser uang, tetap saja apartemen yang sekarang ditempatinya adalah milik kekasihnya. Yang artinya ia sama-sama menumpang di tempat kekasihnya.
Meskipun letak permasalahannya berbeda, menurut Emma itu tetaplah satu hal yang sama.
“Tidak perlu khawatir. Bukankah aku sudah berkata anggap saja sedang berada di rumah sendiri? Tidak perlu sungkan. Aku pun di sini hanya menumpang, meskipun ini dihadiahkan untukku, tetap saja apartemen ini bukan milikku. Jadi sama saja. Kita berdua sedang menumpang, tapi karena pemiliknya orang baik, kita bisa menganggap apartemen ini seperti rumah sendiri.”
Sementara Emma membeberkan hal itu dengan mudahnya, Romeo tetap tidak mengerti jalan pikiran Emma.
“Tapi kalau kamu memang tidak ingin makan lebih dulu, biar aku yang memulainya.” Emma mulai menggigit roti bakar dengan selai strawberry yang berada di antara dua tumpukan roti bakar tersebut. Ia mengatakan bahwa Romeo bisa memulai sarapannya, dan Romeo segera memulainya.
Ibunya tidak pernah membuat roti bakar, tapi dulu Romeo ingat saat dirinya duduk di bangku SMA. Ia sering memakan roti bakar semacam ini. Yang namanya roti bakar, rasanya pasti memang begitu-begitu saja. Bedanya roti bakar buatan Emma terasa lebih istimewa karena berhasil mengingatkan Romeo kepada masa-masa SMA-nya.
Di tengah kegiatan memakan roti bakar, Emma berbicara. “Ngomong-ngomong, kebetulan lusa aku libur. Kita bisa pergi keluar untuk membeli beberapa pakaian untukmu,” katanya tenang dengan kunyahan pelan.
Romeo meletakkan roti bakar yang sedang dipegangnya. Ia menegur miliknya sehingga beberapa tegukan. “Kamu tidak perlu membantuku sampai sejauh itu,” tolaknya halus.
“Kenapa?”
Romeo sudah membuka mulut, ingin mengatakan bahwa hal sepele seperti itu bisa ia tangani sendiri. Ia bisa meminta Martin untuk membelikan pakaian untuknya saat pria itu menelepon. Tapi tidak Romeo katakan karena hal itu akan membuat Emma kebingungan. Pasalnya sejak awal yang Emma tahu bahwa Romeo tidak memiliki siapa-siapa.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa semakin menyusahkanmu saja. Aku tahu gajimu bekerja di minimarket tidaklah besar. Kalau kamu membelikan aku pakaian, uangmu akan terpakai dan aku tidak tahu kapan bisa menggantinya.”
“Jadi maksudmu kamu hanya ingin memakai pakaian yang kamu pakai sekarang?” Emma menunjuk pakaian yang dikenakan oleh Romeo. Itu adalah pakaian kekasihnya yang sejak kemarin dikenakan oleh Romeo.
Melihat Romeo yang seolah tidak bisa menjawab apa-apa, Emma melanjutkan sarapannya. Hanya beberapa gigitan sampai roti miliknya habis. Dilanjutkan dengan s**u yang diteguk sampai sisa setengah.
“Kalau kamu hanya mengandalkan pakaian yang aku berikan atau pakaian yang kemarin kamu pakai saat kita bertemu, itu artinya aku harus mencucinya setiap hari. Lagi pula, bukankah pakaian rumah sakit itu sudah kamu buang ke tong sampah? Aku melihatnya." Emma melirik tempat sampah yang berada di dekat dapur. "Aku sebenarnya tidak keberatan, tapi tetap saja kalau hanya punya satu atau dua pakaian, itu tidak akan cukup. Pokoknya besok kita akan membeli beberapa kaos dan celana untukmu.”
“Tidak perlu!” kekeuh Romeo.
“Tentu saja perlu. Kalau memang kamu masih merasa tidak enak, kamu bisa menganggap itu sebagai utang. Bisa dibayar nanti kalau kamu sudah punya uang.”
Romeo kembali dibungkam. Emma segera berdiri dan membawa piring dan gelas miliknya ke dapur. Saat ingin mencucinya Romeo mengatakan bahwa dirinya yang akan menangani hal itu. Diiyakan oleh Emma dengan anggukan kepala.
Setelahnya Emma pergi ke kamarnya. Kembali dengan tas selempang di tangan kirinya. Emma kemudian berjalan ke arah rak sepatu, mengambil sepatu miliknya disana kemudian memakainya sofa.
“Kemarin aku sudah memberikan kartu akses untukmu? Apa masih kamu simpan?”
“Ya, aku masih menyimpannya.” Romeo menyahut dari meja makan.
“Jangan sampai hilang. Kamu bisa menggunakannya untuk keluar masuk apartemen ini.”
“Ya, aku tahu itu.”
Emma sudah selesai dengan sepatu miliknya. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu apartemen. Sebelum membuka pintu, ia menyempatkan untuk kembali menoleh ke arah meja makan. Tidak terlalu jelas karena terhalang tembok, tapi ia bisa melihat punggung Romeo masih di tempat semula, yang artinya Romeo masih duduk di sana.
“Aku pergi kerja dulu. Sampai ketemu nanti sore,” pamit Emma.
“Ya, sampai ketemu nanti sore.”
Lalu, terdengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup dengan sendirinya. Selesai dengan sarapannya, Romeo segera merapikan piring dan gelas miliknya untuk dibawa ke dapur. Ia mencuci piring dan gelas tersebut sekalian dengan milik Emma. Tidak lama setelah kegiatan itu selesai, atau lebih tepatnya saat dirinya sedang mengelap bagian pinggir wastafel yang basah, terdengar suara ponsel yang berdering.
Itu adalah ponsel miliknya. Romeo menyelesaikan pekerjaannya kemudian berlari ke kamarnya. Melihat ponselnya yang menyala di atas ranjang. Sepertinya setelah ini ia harus membiarkan ponselnya hanya bergetar saja. Emma tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki ponsel. Akan merepotkan jika tiba-tiba gadis itu mendengar suara dan bertanya ponsel milik siapakah itu.
“Apa?” tanya Romeo saat dirinya mengangkat telepon tersebut.
Satu-satunya hal yang disyukuri Romeo adalah waktu saat Martin menelponnya itu selalu tepat saat Emma tidak ada di rumah.
“Tuan Muda, bagaimana keadaan anda hari ini?”
Romeo menggeleng, ingin mengatakan bahwa dirinya tidak baik-baik saja setelah menerima telepon dari Martin, tapi kemudian Romeo menggeleng lagi saat sadar bahwa hal itu tidak berpengaruh sama sekali. Martin tidak akan melihatnya dan tidak akan mengetahui reaksi apa yang diberikan olehnya.
“Tidak bisakah kalau kamu tidak terlalu sering menghubungiku? Baru kemarin kamu menghubungiku dan menanyakan kabarku, tapi sekarang kamu sudah melakukan hal yang sama. Apa kamu tidak bosan?”
“Tidak, Tuan Muda. Saya ingin memastikan bahwa Anda baik-baik saja.”
Entah kenapa Romeo nyaris muntah mendengar Martin mengatakan hal itu dengan tenangnya.
“Aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku sampai sebegininya. Selidiki saja semuanya sampai tuntas agar aku bisa bergerak bebas tanpa perlu takut dengan ayahku sendiri. Kalau sampai kamu salah dan ayahku tidak terbukti bersalah, kamu harus menanggung akibatnya, Martin.”
Romeo mendengkus sebal. Yang menyebalkan dari sosok Martin adalah sifatnya yang terlalu menjaga anak majikannya. Martin tidak akan percaya bahwa dirinya baik-baik saja jika belum melihat dengan mata kepalanya langsung. Tapi karena sadar bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal itu, Martin jadi di mudah khawatir dan menghubunginya padahal baru tahu kabarnya kemarin.
“Saya berjanji akan membuktikan semuanya kepada Anda, dan selama itu Anda harus menjaga diri Anda sendiri. Yang terpenting apakah tempat tinggal Anda sekarang benar-benar aman? Apakah orang yang menolong Anda benar-benar orang baik?”
Kalau tidak dijawab, pastilah Martin akan terus bertanya. Kalaupun teleponnya dimatikan, Martin tidak akan berhenti menghubunginya.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan hal itu. Aku bisa menjamin bahwa semuanya baik-baik saja.”
“Kalau begitu saya akan berusaha sebaik mungkin agar penyelidikannya berjalan lancar dan cepat. Saya tidak bisa terus membiarkan Anda hidup di sana tanpa pengawasan saya secara langsung.”
“Ya, kamu sudah menyebutkannya. Itu artinya kamu harus bekerja lebih keras agar bisa melihat keadaanku secara langsung.”
Terdengar suara lain dari ponselnya. Saat Romeo menatap layar ponselnya ternyata itu adalah pemberitahuan bahwa baterai ponselnya hampir habis.
“Kalau begitu saya akan langsung menutup teleponnya. Akan saya hubungi lagi jika saya sedang luang.”
“Tunggu dulu, Martin. Bisakah kamu mengirimkan charger ke tempat—"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, suara panggilan yang terputus sudah lebih dulu berdengung di telinga Romeo. Membuat Romeo lekas menatap layar ponselnya yang dengan cepat berubah hitam.
Ia menggerutu dalam hati. Seharusnya kalau mau mematikan panggilan ‘kan bisa berbicara terlebih dahulu. Tapi Martin tidak melakukan hal itu. Membuat Romeo kesal karena merasa diabaikan.
Romeo bahkan lupa bahwa dirinya belum mengisi daya sejak hari pelariannya. Dan ia sama sekali tidak sempat meminta pengisi daya pada Martin. Jangankan meminta hal tidak penting seperti itu, ia bahkan tidak sempat meminta uang.
Ponsel yang saat ini dimilikinya adalah barang terpentingnya. Romeo tahu bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lain selain meminjam milik Emma. Itu tidak bisa dibilang meminjam karena ia bahkan tidak meminta izin. Tapi itulah yang akan Romeo lakukan.
Cukup lama Romeo berdiam diri di depan pintu kamar Emma. Ini adalah pertama kalinya Romeo bersikap lancang, tapi lagi-lagi ia tidak punya pilihan lain selain membuka pintu kamar tersebut. Mencari-cari pengisi daya milik Emma yang ternyata tidak sulit ditemukan. Benda berwarna putih itu tergeletak di atas nakas.
Satu lagi keberuntungan yang ditemukan oleh Romeo. Pengisi daya milik Emma ternyata cocok dengan miliknya.