6; Emma dan Dongengnya

2111 Kata
"Apa yang biasa kamu makan sebelum masuk rumah sakit?" Emma bertanya. Romeo duduk di kursi yang ada di meja makan. Memperhatikan Emma yang sedang memasak di dapur. Sebuah celemek menutupi bagian depan tubuh Emma yang hanya dilapisi tanktop berwarna putih dengan jeans pendek jauh di atas lutut. "Nasi," jawab Romeo. Di bagian dapur, Emma tertawa. "Tentu saja. Aku pun sama. Maksudku apa kamu memiliki makanan yang paling kamu sukai? Atau sesuatu yang sama sekali tidak bisa kamu makan? Agar aku tidak salah dalam membuat makanan," tuturnya menggeleng. "Aku tidak bisa makan makanan pedas, perutku sensitif. Aku juga tidak bisa makan daging, karena aku tidak menyukainya. Apa pun yang terbuat dari daging, aku tidak akan memakannya. Pengecualian untuk ayam. Selebihnya aku bisa makan apa pun." "Sepertinya selera kita hampir sama. Bedanya aku cukup menyukai makanan pedas." Emma terkekeh pelan. Selama ini Emma selalu diejek oleh kekasihnya karena tidak menyukai daging sama sekali. Setiap kali makan di restoran, Emma hanya akan memesan makanan yang terbuat dari ayam atau sayur-sayuran. Kekasihnya sering bilang bahwa daging sangat baik untuk tubuh. Tahu bahwa Emma tidak menyukai daging, dia kerap mengejek Emma norak. Tapi sekarang Emma senang karena bertemu dengan seseorang yang memiliki selera yang sama dengannya. Kebanyakan orang mengira bahwa daging adalah salah satu makanan yang mewah, tapi untuknya yang tidak menyukai daging, sebagus atau semahal apa pun jenis daging tersebut, tetap bukan menjadi sesuatu yang yang menggiurkan untuknya. "Kupikir di dunia ini yang tidak menyukai daging hanya aku seorang, ternyata ada yang lainnya. Tapi kenapa kamu tidak suka daging?" "Tidak tahu, aku hanya tidak menyukainya saja." Jawaban yang tidak masuk akal, tapi benar adanya. Emma hanya mengangguk mengerti. Sama seperti dirinya. Ia juga tidak menyukai daging, tapi tidak tahu alasannya apa. Mungkin baunya saat mentah sangat menjijikkan untuk indra penciumannya. Itu salah satu alasannya. "Kalau begitu bagaimana dengan sup ayam?" tanya Emma. "Aku hanya menumpang di sini, dan seharusnya kamu tidak perlu bertanya apa yang aku inginkan. Aku akan memakan apa pun yang kamu berikan, karena aku cukup tau diri dan merasa tidak pantas untuk menawar apa pun." "Kamu ini," kata Emma kehabisan kata-kata. "Bagaimana denganku? Apa ada yang bisa aku bantu?" Romeo bertanya karena merasa tidak enak hanya duduk diam sambil memperhatikan. "Memangnya kamu bisa masak?" Romeo menggeleng cepat. Karena posisi Emma yang sedang membelakanginya, Emma jadi tidak bisa melihat reaksi Romeo. Karena itulah Romeo menambahkan, "Tidak." Agar Emma tahu. "Kalau begitu aku tidak memerlukan bantuan kamu. Kamu bisa duduk tenang di sana, sementara aku memasak." Tidak ada lagi yang berbicara di antara keduanya. Emma fokus meneruskan kegiatan memasaknya, dan Romeo hanya bisa memperhatikan dari meja makan. Cukup lama, dan Romeo cukup bosan menunggu. Tapi saat masakan Emma tersaji di depan matanya, Romeo merasa bahwa penantiannya tidak sia-sia. Nasi hangat dan piring yang tertata segera menjadi pemandangan yang dilihat Romeo. Harum bawang goreng yang ditaburkan di atas sup ayam yang baru matang menguar kuat. Mengundang aroma yang begitu menggugah selera. Udang goreng tepung dan telur dadar segera menyusul untuk memenuhi meja makan. Bersama dua gelas air putih yang dibawa paling terakhir. Emma duduk di samping Romeo. Karena Romeo terlihat enggan menyentuh makanan di depannya, Emma dengan cekatan langsung mengisi piring Romeo dengan nasi tanpa bertanya terlebih dahulu. Emma juga mengambilkan Romeo sendok beserta garpu. Mengatakan bahwa Romeo tidak perlu malu-malu. "Apa kamu mau menggunakan mangkuk terpisah untuk memakan supnya?" "Tidak perlu." Romeo menggeleng. Dan Emma langsung menimpa nasi di atas piring Romeo dengan sup ayam. Asapnya masih menguar, sehingga Romeo yakin bahwa akan sangat lezat jika disantap sekarang. "Bagaimana dengan udang dan telur dadar? Apa kamu suka?" tanya Emma. Melihat anggukan kepala dari Romeo, Emma mengambilkan potongan telur dadar paling besar untuk Romeo, juga tiga buah udang goreng tepung. Setelah itu, barulah Emma mengisi piringnya sendiri. Bahkan saat dirinya hendak memasukkan suapan pertama ke mulutnya, Romeo belum juga menyentuh makanannya. "Kenapa tidak dimakan? Apa ada sesuatu yang tidak kamu suka? Wortelnya mungkin? Daun bawang? Atau apa?" "Tidak! Bukan begitu." "Lalu?" "Aku hanya tidak bisa makan lebih dulu saat tuan rumah justru belum menyentuh makanannya sama sekali. Aku ... merasa tidak enak." Ya Tuhan. Emma bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya tumbuh di lingkungan mana Romeo ini? Tingkat kesopanannya benar-benar membuatnya gemas. Tidak mau membuat Romeo menunggu lebih lama lagi, Emma segera memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Barulah Romeo menggerakan tangan untuk menyentuh sendok dan garpu. Memulai makan malamnya. Baru suapan pertama dan bola mata Romeo membesar. Satu bulan hanya memakan makanan rumah sakit yang terasa hambar, Romeo seperti baru saja pulang ke rumahnya dan disuguhi makanan yang dibuat langsung oleh ibunya. Masakan buatan Emma benar-benar cocok di lidah Romeo. Mengingatkan Romeo pada masakan ibunya yang selalu membuat rindu rumah. Namun, di balik kenikmatan rasa yang tengah menggoyang lidahnya, bersamaan dengan itu Romeo merasakan sesak. Masakan Emma seolah sedang menamparnya, menyadarkannya bahwa pada kenyataannya ibunya sudah meninggal. Ia bahkan belum mendatangi makam ibunya, dan masakan Emma dengan kontan mengingatkan Romeo pada sosok hangat nan penyayang itu. "Kenapa malah diam? Apa masakannya tidak enak?" Pertanyaan Emma menyentak Romeo dari lamunannya. Ia buru-buru menggeleng dan melanjutkan makannya yang sempat terhenti. Merasakan betapa menyenangkan menemukan sosok Emma secara tidak sengaja. Sehingga ia bisa merasakan hasil masakan yang dibuat hampir sama seperti masakan ibunya. Memang agak menyedihkan, tapi Romeo menyukai setiap kunyahan yang sekarang tengah dirasakannya. "Bukankah tadi kamu sempat mengatakan bahwa kamu menyukai makanan pedas? Kenapa sama sekali tidak ada yang pedas dalam masakan kamu sekarang?" Romeo bertanya. Emma menoleh ke arahnya sambil mengunyah. Berusaha menelan makanannya dengan cepat agar bisa menjawab pertanyaan Romeo. "Karena kamu mengatakan bahwa kamu tidak suka pedas, aku pikir aku harus membuat makanan sesuai seleramu. Aku baik-baik saja jika tidak memakan makanan pedas, tapi aku mengira kamu mungkin akan terganggu kalau melihat ada makanan pedas di depan mata kamu." Oh, sial. Apa Romeo baru raja merasa bahwa Emma begitu perhatian kepadanya? "Sebenarnya tidak masalah. Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu seperti itu." "Tidak apa-apa. Lagi pula kekasihku pernah mengatakan bahwa tidak baik terlalu sering memakan makanan pedas. Itu akan merusak lambungku. Jadi anggap saja hari ini aku mendengarkan nasihat dia." Sekarang Romeo merasa tertohok. Ya, tentu saja. Emma tidak mungkin begitu mempedulikan orang asing. Pasti ada alasannya. Kalau bukan karena belas kasihan, mungkin sama seperti apa yang baru saja Emma lakukan. Sampai keduanya selesai dengan makanan mereka masing-masing, percakapan terhenti sejenak. Emma menawarkan pada Romeo bahwa Romeo bisa menambah porsi jika memang ingin, tapi Romeo menolak dan mengatakan bahwa dirinya sudah kenyang. Lalu, Emma bertanya, "Ngomong-ngomong, sebenarnya berapa usia kamu?" Menurut Romeo, jenis pertanyaan itu sebenarnya dianggap kurang sopan untuknya. Orang asing yang menanyakan usia terlampau terlalu ingin tahu dan itu kerap membuat lawan bicara tidak nyaman. Padahal informasi usia adalah sesuatu yang sangat pribadi. Jadi bisa dibilang orang asing seharusnya tidak perlu mengetahui hal itu. Tapi karena apa yang sudah dilakukan Emma untuknya, Romeo memilih untuk menjawab pertanyaan itu. "Dua tiga." Selanjutnya yang Romeo dapati adalah reaksi terkejut dari Emma. "Waw, padahal wajahmu kelihatan sangat muda. Kukira setidaknya masih berusia delapan belas atau sembilan belas. Kamu terlihat seperti anak SMA. Berarti usia kita hanya terpaut tiga tahun saja." "Berarti kamu yang baru berusia dua puluh tahun." "Aku? Siapa bilang?" Emma terkekeh. Nampaknya Romeo salah paham. "Kamu. Bukannya kamu yang barusan mengatakan bahwa usia kita hanya terpaut tiga tahun?" Emma mengangguk sambil menahan tawa. "Ya, itu benar. Kamu dua tiga, sedangkan aku dua enam," jawabnya kemudian. Romeo melongo, dan reaksinya itu membuat Emma meledakkan tawa yang sejak tadi ditahannya. "Kenapa bisa-bisanya kamu mengira bahwa usiaku baru menginjak dua puluh?" "Karena wajahmu. Wajahmu tidak memperlihatkan bahwa kamu memang setua itu." Lagi, Emma tergelak. Tidak tahan dengan cara bicara Romeo yang ceplas-ceplos. Karena baru kali ini ada seorang yang mengatakan bahwa dirinya sudah tua. "Kamu persis seperti ibuku," ungkap Romeo. Emma bertanya penasaran, "Kenapa?" "Ya, karena wajah kalian bertolak belakang dengan usia kalian." Dulu, sering sekali Romeo bepergian bersama ibunya. Karena menjadi anak satu-satunya, Romeo kerap diajak ke mana pun ibunya ingin pergi. Berbelanja, mengantar untuk pergi arisan bersama teman-temannya, bahkan bertemu kolega bisnis. Setiap kali sedang berbelanja, bukan sekali dua kali Romeo mendengar pendapat orang lain tentangnya dan ibunya. Mereka sering menduga bahwa dirinya pergi bersama kekasih, padahal bukan. Tidak cukup sampai di situ. Saat pengambilan raport di masa SMA pun, Romeo kerap dikira membawa saudara perempuannya. Itulah yang membuat Romeo begitu memuja sosok ibunya. Cantik, bisa merawat diri dengan baik, dan sangat penyayang. Tapi kalaupun ibunya memiliki wajah yang lebih tua, Romeo akan tetap memujanya dari bagaimana wanita itu merawatnya. "Lalu, bagaimana ibumu sekarang?" Pertanyaan tiba-tiba membuat Romeo langsung menatap Emma. Emma yang baru tersadar atas apa yang ditanyakannya, langsung menutup mulutnya sendiri. Ia lupa bahwa Romeo sudah mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki siapa-siapa. Yang artinya Romeo sudah tidak memiliki orang tua ataupun saudara. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Emma berucap menyesal. Tidak ingin suasana terasa lebih canggung lagi, Emma memutuskan untuk berdiri. "Aku akan mencuci piring dulu." Piring yang Emma dan Romeo gunakan untuk makan ditumpuk oleh Emma. Ia segera membawanya ke dapur berikut dua gelas yang masih menyisakan sedikit air. Saat Emma kira bisa lari dari Romeo, Romeo justru mengikuti Emma ke dapur dengan tangan membawa mangkuk sup yang masih tersisa setengah. Romeo balik lagi ke meja makan untuk mengambil piring kosong yang digunakan untuk telur dan udang goreng tepung. Dua piring tersebut diberikan kepada Emma yang sedang berdiri di depan wastafel. "Biar aku bantu," kata Romeo. Emma mengangguk. Membagi tugasnya dengan Romeo. Piring yang sudah ia cuci bersih diberikan kepada Romeo agar bisa dilap dan diletakkan ke rak piring. "Jangan merasa sedih, kamu tidak sendirian." Perkataan Emma membuat tangga langsung menoleh ke arahnya. "Apa maksudnya?" tanyanya kemudian. Emma menyerahkan satu piring dan Romeo kembali mengalah piring tersebut sampai kering. "Soal orang tuamu. Aku bilang kamu tidak sendirian. Sebelumnya aku minta maaf karena tadi sempat berbicara mengenai orang tuamu, dan itu membuat kamu teringat akan mereka. Tapi percayalah aku tahu bagaimana rasanya ditinggal kedua orang tua." Emma tersenyum tipis. Senyum itu bukan untuk Romeo, melainkan untuk dirinya sendiri. Dilakukan untuk menguatkan hatinya. "Ibuku sudah meninggal sejak aku berusia enam tahun, sementara ayahku menyusul beberapa bulan setelah kelulusan SMA-ku. Sepeninggal ayahku, aku sebatangkara. Setelahnya aku bekerja banting tulang untuk menghidupi diriku sendiri. Yang penting bisa makan dan tidak menyusahkan orang lain." Romeo bersimpati pada kisah kelam Emma. Rupanya, saat dirinya berpikir bahwa hidupnya cukup berat karena kehilangan ibunya, ada orang di luar sana yang jauh lebih menderita darinya. Ia hanya tidak mau mengakui hal itu, dan sekarang malah dipertemukan langsung oleh orang tersebut. "Awalnya memang terasa berat. Aku tidak punya siapa pun untuk dijadikan tempat berkeluh kesah. Tapi seberat apa pun kehidupan, tetap harus dijalani. Kita tidak akan pernah terbiasa, tapi setidaknya bisa belajar setiap hari agar bisa hidup lebih baik lagi. Hidup susah itu tidak enak, dan jangan mau terbiasa, tapi usahakan agar kesusahan itu tidak terlalu menjadi beban dan kita bisa mengatasinya. Itu saja." Cerita Emma diakhiri dengan piring terakhir yang dicucinya. Emma memberikan piring tersebut pada Romeo, dan Romeo langsung mengambil piring itu kemudian meletakkannya di rak. Sekarang semua gelas, sendok, garpu, dan piring sudah dicuci, tapi entah kenapa Romeo masih ingin mendengar Emma bercerita. Dan, ya. Emma mengabulkannya. "Aku tahu kamu pasti merasa berat menjalani kehidupan. Kehilangan orang tersayang memang terkadang membuat kita merasa kehilangan semangat untuk hidup. Kamu akan berpikir bahwa seharusnya kamu mati, daripada harus menjalani penderitaan yang lebih kejam lagi. Tapi aku percaya kamu adalah laki-laki yang kuat. Meskipun sekarang kamu merasa rapuh, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Mungkin kehidupan akan menjadi jauh lebih baik, dan kamu tentu tidak bisa merasakan hal itu jika tidak menjalaninya." Bijak sekali. Romeo tidak sadar bahwa dirinya terkesima bahkan sampai membuka setengah mulutnya. Melihat hal itu Emma hanya terkekeh geli. Baru menyadari bahwa belum sampai satu hari dirinya mengenal Romeo, laki-laki itu sudah banyak memberikan reaksi yang membuatnya tertawa. "Aku tidak akan berbicara lagi, atau nanti dagumu akan terancam jatuh ke lantai." Romeo tanpa sadar langsung menggerakan tangan dan menyentuh dagunya. Merapatkan bibirnya yang sempat terbuka. "Sebaiknya kamu beristirahat. Aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami sebelum bertemu denganku, tapi dari wajahmu saja sudah menjelaskan bahwa kamu sangat lelah." Emma menunjuk wajah Romeo, "selain itu wajahmu juga masih pucat," sambungnya kemudian. Mendengarkan Emma berbicara terasa menyenangkan. Romeo tidak tahu kenapa ia bisa baik-baik saja berlama-lama di dekat orang asing, tapi yang Romeo tahu, mendengarkan Emma bercerita serupa dengan dibacakan dongeng sebelum tidur oleh ibunya. Dan itu menyenangkan. "Baiklah. Aku akan berisitirahat." Tapi tentu Romeo tidak bisa mengatakan hal itu secara langsung kepada Emma. Ia hanya bisa menikmati, dan tidak masalah jika Emma tidak mengetahui hal itu. "Selamat malam," kata Emma. Romeo mengangguk. "Selamat malam," sahutnya kemudian membalikkan tubuh dan berjalan keluar dapur lebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN