Hari ini menjadi hari yang cukup berat untuk Annisa. Selama lebih dari 7 jam ia berada di ruang operasi dengan seorang pasien yang harus menjalani prosedur tranplantasi jantung. Operasi yang biasanya memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam itu berlangsung lebih lama karena jantung yang di donorkan terhadap pasien mengalami kelambatan fungsi.
Beruntung, semua halangan itu mampu diatasi sehingga ketakutan yang menyelimuti ruang operasi 1 itu tidak terjadi. Begitu operasi selesai dan pasien dipindahkan ke ruang perawatan, para dokter segera kembali ke ruangannya untuk berganti pakaian dan bersiap pulang. Karena memang waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja.
Annisa bersama Anastasya sedang berada di ruang ganti baju. Kedua dokter residen itu mendapat tugas secara bersamaan hari ini. Annisa terlihat lelah, namun Anastasya lebih terlihat lelah dari gadis itu.
“Lo semalem nggak tidur apa gimana, Sya? Kok mata lo bengkak gitu?” tanya Annisa seraya memperhatikan Anastasya yang tengah memakai krim mata.
Anastasya mengangguk, “Gue lembur semalem. Jam 3 baru tidur. Mana kepala gue pusing banget lagi. Untung aja nggak pingsan tadi.”
“Lembur?” Kening Annisa mengernyit. “Dalam rangka?” Setahu Annisa, Anastasya adalah orang yang sangat terorganisir dan selama mengenal gadis asal Bogor itu, belum pernah sekali pun Annisa melihatnya lembur.
“Gue kelupaan. Harusnya kemarin kirim naskah bimbingan gue. Dosen gue kan lagi di Den Haag, beliau mintanya gue kirim setelah jam 9 malem, waktu sana.” Anastasya menekankan kata ‘waktu sana’ yang membuat Annisa manggut-manggut mengerti.
Setelah memastikan penampilannya rapi, keduanya segera keluar untuk mengemasi barang-barang mereka dan bersiap untuk pulang.
“Lo pulang sendirian, Nis?” tanya Anastasya ketika keduanya sudah berada di dalam lift. Annisa menggeleng.
“Gue dijemput sama temen. Anak Medika.”
“Cowok yang kapan hari nganterin lo itu?” tebak Anastasya yang merasa penasaran.
“Enggak lah. Anak Medika ini cewek kok.”
“Kirain. Emang cakep ya, Nis? Sampai jadi perbincangan para suster lho temen lo itu.” Ucapan Anastasya membuat Annisa mengernyit.
“Emang iya? Kok gue nggak pernah tahu?”
Anastasya mengendikkan bahunya acuh, “Lo’nya yang kurang peka kali. Atau mungkin mereka emang ngomongnya diem-diem di belakang lo.”
Annisa tersenyum geli, “Padahal stok dokter yang cakep di sini juga banyak. Tetep aja kalau ada cowok bening dikit langsung dijadiin bahan gosip.”
“Cakep kalau pada ketus semua buat apa, Nis,” ujar Anastasya berbisik. Pada kenyataannya, persaingan secara individual di rumah sakit tempat Annisa bekerja memang terasa sangat sengit dan ketat. Bahkan meskipun di luar ada dua orang yang terlihat akrab, hal itu akan sangat berbanding terbalik jika mereka sudah berpisah tempat. Dan itu semua berlaku untuk semua orang.
“Lo habis Master, masih mau bertahan di sini, Nis?” tanya Anastasya, masih dengan berbisik. Di antara semua pegawai, mungkin hanya para dokter koas dan dokter residen saja yang tidak mengallami drama semacam itu. Tetapi beda cerita jika mereka sudah menjadi dokter tetap Dan jujur saja, Anastasya sedikit tidak nyaman dengan situasi semacam itu.
“Gue belum tahu, Sya.” Annisa menggeleng pelan. “Kita lanjutin obrolan di luar aja,” sambungnya ketika denting lift berbunyi. Keduanya melangkah keluar dan seketika menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di lobby rumah sakit.
Tentu saja Annisa dan Anastasya menjadi pusat perhatian karena kecantikan mereka. Terutama di kalangan para pegawai, kedua dokter residen itu dikenal sangat disiplin, berkapabilitas dan kompeten. Annisa dengan wajah ayunya yang sangat khas Indonesia sementara Anastasya memiliki sedikit darah campuran antara Sunda dan Ukraina.
“Sepertinya gue setuju sama ide lo kapan hari itu, Sya,” ujar Annisa seraya melangkah cepat menuju tempat absensi.
“Ide yang mana?” Anastasya mengikuti langkah Annisa tak kalah cepat.
“Pakai cadar.” Anastasya tertawa geli.
“Nggak yakin gue sama lo, Nis.”
“Ini hanya perasaan kita, kitanya aja yang ke ge-er’an.” Setelah melakukan prosedur absensi, keduanya melangkah keluar menuju pelataran rumah sakit. Annisa dan Anastasya duduk di bangku kayu yang tak jauh dari tempat parkir mobil Anastasya.
“Lo inget nggak waktu gue dipanggil Dokter Adam tempo hari?” Annisa membuka percakapan dengan suara pelan.
“Kenapa? Dia ngelamar lo?” sahut Anastasya yang terdengar sinis, membuat Annisa tergelak.
“Kok lo sensi? Lo cemburu?” Giliran Anastasya yang tergelak mendengar tuduhan Annisa.
“Ya bukan gitu, Nis. Gue nggak suka aja sama cowok yang terlalu agresif,” aku Anastasya jujur. Annisa mengangguk mengerti.
“Ya itu, intinya dia nawarin kalau Master gue udah selesai nanti, dia bisa bikin gue kerja di sini lagi. Tanpa melalui proses dari awal.”
“Terus, lo mau?” Annisa menggeleng.
“Ya enggak lah, gue bilang aja kalau gue pengen sekalian kerja di Jerman,” jawab Annisa dengan terkekeh. Anastasya ikut tertawa melihatnya.
“Tuh kan? Apa jadinya entar kalau itu emang bener terjadi. Fyuh, berapa banyak mulut yang bakal gosipin elo nantinya.”
“Yang gue heran, kok mereka pada betah ya? Padahal lingkungannya bisa dibilang nggak terlalu sehat. Iya sih kalau secara gaji emang terbilang tinggi.” Annisa mengutarakan pendapatnya.
“Yah, gimana lagi, Nis. Kadang, faktor penghasilan memang jadi alasan utama. Jadi, ya ... dibetah-betahin,” sahut Anastasya seraya menyandarkan pundaknya.
Cukup lama keduanya berbincang. Kebanyakan yang mereka bicarakan tentu saja mengenai urusan Thesis. Lebih tepatnya, mereka sedang bertukar pendapat. Karena memang tidak mungkin Annisa membahas mengenai Thesis-nya bersama Helena. Hingga beberapa menit kemudian, sebuah mobil yang sangat dikenali oleh Annisa membunyikan klaksonnya dari tepi jalan raya.
“Gue duluan, Sya. Lo ati-ati kalau nyetir.”
“Beres,” balas Anastasya dengan mengacungkan ibu jari kanannya. Keduanya berpisah. Annisa menuju ke tempat di mana mobil Clara berada sementara Anastasya berjalan menuju mobilnya yang hari ini terparkir di basement.
“Fyuh, ini jalanan kenapa juga macet banget. Orang-orang pada janjian apa keluar sekarang,” keluh Clara ketika Annisa sudah memasuki mobilnya.
“Ya mau gimana lagi. Jalanannya tetep segini, kendaraannya nambah ribuan tiap tahun. Kalau nggak gitu, yang jualan kendaraan mau makan apa?” sahutnya santai seraya mengenakan sabuk pengamannya.
“Emang enak jadi elo, yah. Rumah sama tempat kerja deket sama pemberhentian kendaraan umum. Nah rumah gue? Setelah gue pikir-pikir, naik MRT malah lebih efisien dan tepat waktu.”
“Emang iya. Jual aja nih mobil, lo naik kendaraan umum aja.” Clara menggeleng cepat, menyanggah ucapan Annisa.
“Gue masih trauma.” Dulu saat masih sekolah, Clara memang terbiasa menggunakan angkutan umum. Namun sebuah kejadian tidak menyenangkan membuat gadis itu mengalami rasa takut untuk kembali menaiki moda transportasi umum. Clara pernah kecopetan dan nyaris menjadi korban keburukan seorang pria. Hal itu membuatnya kapok dan Clara sangat anti-pati terhadap kendaraan umum.
Annisa mengangguk mengerti, “Iya sih emang. Kalau sekalinya ngalamin kejadian buruk, pasti bikin kapok.” Annisa bersyukur sampai saat ini ia tidak pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di dalam kendaraan umum.
“Ini kita langsung ke rumah lo?” tanya Clara yang mulai melajukan mobilnya. Annisa mengangguk.
“Mobil lo di parkir di rumah gue aja nggak pa-pa, ‘kan?”
“Nggak pa-pa, sih. Gue juga udah bilang sama Bokap,” jawab Clara seraya menunjuk barang-barangnya yang sudah siap di kursi belakang.
“By the way, Nyokap lo udah tahu kita mau ke sana, Sa? Boleh?” tanya Clara penasaran.
“Boleh lah. Santai aja sama Nyokap gue. Beliau malah seneng kalau gue ada temennya pulang.”
“Eh tapi Sa, Abiyan kan katanya lagi di Singapura. Dia bisa ikut nggak ya kira-kira?” Pertanyaan Clara membuat Annisa yang awalnya hendak memejamkan mata spontan memandang gadis itu. Sepertinya Annisa melupakan sesuatu.
“Oh, iya. Gue lupa. Gimana, dong? Kan nggak enak kalau dia sampai nggak ikut?” Clara mengulum senyum geli mendengar keluhan Annisa. Tadinya, Abiyan memang tidak bermaksud untuk memberitahukan kepergiannya ke Singapura. Tetapi ternyata semalam Varell mengajak untuk bertemu dan tentu saja Abiyan tidak bisa menyanggupinya. Dan karena Varell membicarakannya di ruang obrolan grup, akhirnya semua anggota mengetahui hal itu.
“Nggak enak nih kalau gebetannya nggak ikutan.” Annisa memandang Clara dengan melotot.
“Jangan mulai, deh. Eh, gue mau klarifikasi satu hal, waktu kita habis ngumpul itu lo sengaja kan ninggalin gue biar pulang sama Abiyan? Ngaku lo?” Annisa menodong Clara dengan tongkat Halloween berbentuk jari.
Clara menggeleng cepat, “Enggak, Sa. Sumpah gue nggak bo’ong. Lo lihat sendiri kan ban mobil gue kempes waktu itu? Yang harusnya lo omelin itu si Varell,” sungutnya tidak terima.
“Eh, maksud lo?” Kedua alis Annisa bertaut.
“Varell yang bikin ban mobil gue kempes. Sialan emang tu anak.”
“Kenapa Varell sampai ngelakuin hal itu?” tanya Annisa dengan ekspresi yang masih sama. Clara mengendikkan bahunya acuh.
“Mana gue tahu. Ngajakin gue PDKT kali,” sahutnya asal yang membuat Annisa mencibir. Clara memang tidak tahu menahu apa alasan Varell melakukan hal itu. Awalnya ia ingin mengatakan mungkin saja itu usaha Varell untuk mendekatkan Annisa dengan Abiyan. Tetapi karena Clara sendiri tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya perasaan Abiyan, maka ia tidak mau berucap sembarangan. Atau hal itu akan membuat Annisa kecewa nantinya.
“Mampir ke restoran fastfood dulu, Ra. Kita drive thru aja, gue laper dari siang belum makan,” pinta Annisa sata melihat plang sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari hadapan mereka saat ini.
“Tumben?” tanya Clara namun tak urung tetap membelokkan mobilnya ke tempat itu.
“Dari jam 8 gue di ruang operasi.”
***
“Saya ada jadwal lagi, Albert?” tanya Abiyan sesaat setelah memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. Albert berdiri di hadapannya dengan membawa tablet.
Masalah yang terjadi antara perusahaan dengan salah satu investor dari Negeri Jiran itu telah selesai kemarin.
Seperti dugaan Albert dan Ines, hal itu memang hanya akal-akalan mereka saja agar bisa bertemu dengan Abiyan. Tentu saja karena mereka penasaran dengan bagaimana sosok Abiyan. Alasan yang sebenarnya cukup membuat Abiyan merasa pening sekaligus lucu. Namun karena alasan yang dikemukakan tidak terlalu kuat, maka mereka tidak bisa berkelit ketika Abiyan menolak keinginannya.
“Tidak ada, Mr. Nicho. Jadwal untuk minggu depan juga kosong. Semua pekerjaan bisa Anda pantau melalui surel,” jawab Albert lugas seraya menggeser tampilan layar pada tabletnya.
Abiyan mengangguk sekilas, “Syukurlah. Karena akhir pekan ini hingga hari Senin saya memiliki agenda pribadi.”
“Agenda pribadi? Seperti dengan teman kencan?” tanya Albert menggoda, Abiyan terkekeh.
“Saya masih belum punya teman kencan. Nanti saya pikirkan kalau saya sudah lulus,” jawab Abiyan berkelakar.
“Berminat dengan orang Singapura, Sir?” Albert kembali menggoda. Jika memang tensinya tidak terlalu tinggi, Albert akan sangat berani mencandai atasannya itu.
Abiyan menggeleng cepat, “Mama saya sukanya produk lokal.”
Suara ketukan pintu mengalihkan fokus mereka. Ines memasuki ruangan dengan beberapa dokumen di tangannya.
“Mr. Nicho, ini adalah salinan dari beberapa kontrak terbaru kita kemarin dan minggu lalu. Sudah selesai di cek oleh tim legal dan mereka menambahkan klausul untuk mencegah para kolega yang ingin semaunya sendiri memutuskan kontrak.” Ines menyerahkan dokumen di dalam map biru itu dan Abiyan segera memeriksanya satu persatu.
“Kalian boleh keluar.”
“A cup of coffee maybe?” tawar Ines yang dijawabi gelengan oleh Abiyan.
“Thanks, Ines. But i should go home after this.” Albert dan Ines sama-sama mengangguk kemudian melangkah meninggalkan ruangan luas itu.
2 jam adalah waktu yang dibutuhkan Abiyan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Laki-laki itu segera merapikan barang-barangnya di dalam kamar karena penerbangannya tinggal 1 jam lagi. Abiyan memang tidak pulang ke apartemen dan lebih memilih menginap di kantornya. Di dalam ruangannya, tersedia kamar yang bisa ia gunakan untuk beristirahat sewaktu-waktu.
Abiyan menyeret kopernya keluar ruangan. Ia hanya mendapati keberadaan Ines di meja kerjanya..
“Where is Albert?” Ines yang tengah berkutat pada pekerjaannya jelas saja terkejut karena ia sama sekali tidak mendengar saat Abiyan membuka pintu ruangannya.
“Albert baru saja turun dan mempersiapkan mobil untuk Anda, Mr. Nicho.”
“Kalau begitu saya pergi dulu. Titip kantor, ya,” pamit Abiyan dengan tatapan dan nada bicara yang sarat akan candaan.
“Baik, Sir.” Ines sedikit membungkukkan badannya. “Nggak ada juga yang mau ngangkat kantornya, Mr. Nicho,” sambungnya ketika Abiyan sudah berlalu.
Dengan diantar oleh Albert, Abiyan berangkat menuju Changi International Airport, yang memang berjarak tidak terlalu jauh dari kantornya. 10 menit sebelum proses boarding di tutup Abiyan sudah berada di dalam pesawat. Ia berharap tidak akan ada kendala yang berarti agar bisa tetap ikut serta dengan teman-temannya yang akan berlibur. Abiyan memang tidak memberikan kabar jika akan pulang hari ini, kecuali kepada Varell.
***