12. PENGECUT

2130 Kata
"Annisa, lo kenapa?" pekik Clara dengan suara soprannya ketika melihat Annisa yang datang dengan wajah pucat. Segera saja ia memeluk sahabatnya itu. Diandra ikut mendekati Annisa sambil melayangkan tatapan penuh tanya pada Abiyan. Sementara Varell dan Vano masih berada di toilet karena panggilan alam mereka. "Abiyan, Annisa kenapa?" tanya Diandra dengan tatapan tajamnya. Abiyan masih terdiam sambil membuka botol minuman kemudian menyerahkannya pada Annisa yang masih terlihat bergetar. "Nisa, lo baik-baik aja, 'kan?" Clara mengusap lembut pundak sahabatnya itu. Annisa mengangguk pelan kemudian meminum beberapa teguk air pemberian Abiyan. Baik Clara maupun Diandra sama-sama terdiam dan menunggu Annisa menenangkan dirinya. Melalui isyarat mata, keduanya seolah berbicara jika ada hal buruk yang terjadi atau hampir terjadi pada Annisa. "Tadi waktu gue ke toilet, ada sekumpulan preman yang gedor-gedorin pintu gue," ucap Annisa setelah ia merasa dirinya jauh lebih tenang. Selain karena air minum, juga karena faktor usapan lembut Clara yang terasa begitu menyayanginya. Sementara Diandra meraih botol minum besar itu dari tangannya. "Tapi lo nggak pa-pa, 'kan? Lo nggak sampai diapa-apain? Lo luka? Mana coba lihat?" Sahutan heboh Clara membuat Diandra merotasikan bola matanya jengah. "Ni anak bener-bener dah. Ada orang ketakutan, lo malah heboh sendiri," balas Diandra seraya membuka bungkusan roti sandwich yang baru saja diambilnya dari mobil. "Nih, lo makan gih. Habis ini lo tidur," ucap Diandra seraya menyerahkan sandwich yang berisi krim keju itu kepada Annisa. "Thanks, Di." Annisa menerimanya dan menggigitnya kecil. "Ya kan gue panik. Gue nggak mau terjadi apapun sama kalian. Gue tuh sayang banget sama kalian," balas Clara dengan wajah cemberutnya. Clara ingin sekali menghilangkan atau setidaknya mengontrol kebiasaan hebohnya itu. Tetapi sepertinya itu sudah bawaan sejak lahir. Jangankan terhadap sahabat-sahabatnya, terkadang pada pasiennya pun ia akan sangat talkaktive. Terlebih saat menemui pasien yang bandel. Berminat jadi pasiennya Clara? Hmm! "Udah-udah, gue nggak pa-pa kok. Udah ada tuh cowok bertiga yang nolongin gue." "Terus gimana? Mereka dihajar ama 3 cowok kita? Babak belur dong? Lo lihat nggak?" "Cowok kita?" Sebelah alis Diandra terangkat dengan sengihan yang terdengar sarat akan ejekan. "Ya kan maksudnya ... gitu lah intinya," sahut Clara asal. "Kayaknya lo bener deh, Di," ucap Annisa tanpa mempedulikan pertanyaan heboh Clara. "Bener soal?" Dahi Diandra mengerut sempurna, demikian juga dengan Clara. "Kayaknya emang Clara ada apa-apa sama salah satu dari 3 cowok itu." Diandra manggut-manggut dengan senyuman miringnya, sementara Clara hanya mencebik. "Ya nggak pa-pa, dong. Lagian nih ya, siapa juga yang nggak mau sama mereka? Secara, dokter kompeten, anak baik-baik, keluarganya juga baik-baik, bibit bebet dan bobotnya jelas. Apalagi, si Abiyan. Beuh, idaman banget tuh." Di akhir kalimatnya, Clara sedikit menyolek lengan Annisa. Tanpa sepengetahuan Diandra, tentu saja. Annisa dan Diandra kompak melayangkan tatapan 'apaan sih lo?'. Terutama Annisa yang sedikit melotot karena Clara yang menyindirnya. "Ah." Diandra mengeluh. "Gue sih nggak yakin kalau Abiyan jomlo," ucap Diandra yang seketika membuat raut wajah Annisa berubah. Pun demikian dengan Clara. Bedanya, jika Clara hanya memasang raut wajah terkejut, Annisa ditambah dengan sedikit murung. Tetapi hal itu hanya bertahan selama sepersekian detik. "Tahu dari mana lo Abiyan nggak jomlo?" tanya Clara mewakili perasaan Annisa. "Lah, Abiyan dari dulu itu banyak yang suka. Banyak juga yang berusaha ngedeketin. Emang lo percaya kalau cowok semacam Abiyan bukan buaya?" "Ternyata gini kerjaan lo pada kalau di belakang gue?" Ketiga gadis itu sontak saja menolehkan wajahnya kala mendengar suara yang mengalun ketus dan dingin tersebut. Abiyan sudah berdiri di belakang Annisa dengan tangan bersedekap. Dengan tanpa dosanya, Diandra mengulum senyum. Abiyan masih berada di posisinya sementara Varell dan Vano sudah memilih untuk duduk mengitari meja bundar tersebut. "Abiyan nggak bakal jadi cowok semacam itu. Karena dia punya kakak perempuan. Yah ... setidaknya untuk saat ini." Pembelaan Varell membuat Abiyan menampilkan wajah pongahnya pada Diandra yang memandangnya dengan rotasi mata jengah. "Lo beneran nggak nggak pa-pa, Sa?" tanya Abiyan seraya menyentuh pundak gadis itu. Entah hanya perasaan Abiyan saja atau bagaimana, tetapi ia bisa merasakan jika tubuh Annisa sedikit menegang. Tetapi Abiyan tidak ingin merasa besar kepala, bisa saja Annisa hanya sedang kaget. "Gue nggak pa-pa, Biy. Cuma kaget aja tadi. Thanks, ya," ucapnya seraya tersenyum manis. Abiyan membalasnya serupa. "Thanks juga, Rell, Van." Varell dan Vano kompak mengangguk dan mengacungkan ibu jari kanannya. "Lain kali, nggak ada yang boleh ke toilet sendirian. Entah saat kita dalam keadaan seperti ini ataupun saat kita ngumpul seperti biasanya," peringat Vano yang langsung diangguki oleh semua kepala yang berada di situ. Sedekat itu persahabatan mereka hingga terasa seperti saudara. Tetapi nyatanya, beberapa di antara mereka tidak hanya merasa demikian. Abiyan kemudian duduk dan menyandarkan pundaknya. Karena memang ia merasa sangat lelah. Annisa memberikan isyarat kepada Clara agar memberikan minum pada Abiyan karena memang posisi duduk Clara lebih dekat dengan Abiyan. "Eh tapi tadi kalian nggak berantem kan sama mereka?" tanya Annisa pada ketiga laki-laki itu. Vano dan Varell kompak menggeleng, sementara Abiyan masih menghabiskan air yang berada di dalam mulutnya. "Enggak, lihat kita bertiga aja langsung ngibrit mereka. Orang kecil kurus-kurus juga. Kayaknya mereka itu anak jalanan atau preman sekitar tempat ini aja." "Preman magang kali," seloroh Diandra yang mampu memancing tawa semua orang. "Nggak sekalian aja lo bilang preman koas," timpal Annisa yang kembali membuat semua orang terkekeh. "Ya ... tapi wajar sih emang, kalau mereka ngibrit pas lihat kalian." Clara memberikan pendapatnya seraya memandang satu persatu ketiga lelaki itu. Dengan percaya dirinya, Vano menyibakkan rambut sementara Varell menarik sedikit lengannya bajunya ke atas. Adapun Abiyan hanya menatap datar dua lelaki itu dan kembali menyandarkan pundaknya dengan lengan yang menutup mata. "Abis ini yang nyetir siapa?" "Yang pasti bukan gue," jawab Abiyan tanpa membuka mata, menjawab pertanyaan Diandra. "Lo nggak masuk nominasi," sahut Clara jengkel. "Biar gue aja. Gue nggak yakin ama Vano," jawab Varell mendahului. Vano memberikan dua ibu jari tangannya pada lelaki paling tua di antara mereka tersebut. Alasan Varell tidak yakin pada kemampuan Vano bukannya tanpa alasan. Sahabatnya itu memiliki sedikit gangguan penglihatan pada mata saat malam hari. Meskipun tidak terlalu parah karena Vano juga sudah menjalani pengobatan, tetap saja hal itu harus diantisipasi. Jika sebatas perjalanan di dalam kota, Varell masih bisa mempercayainya. Tetapi kalau untuk jarak jauh, ia benar-benar tidak ingin ambil resiko. "Lo emang figur bapak sejati, Rell," seloroh Vano yang tentu saja membuat taw asmeua orang berderai. Annisa yang tengah meneguk air bahkan hampir saja tersedak. "Bapak lo noh kasih palu hakim," sanggah Varell sewot dengan sedikit menampol kepala Vano. Vano pun berhasil menghindar. "Emang bapak gue hakim," kekeh Vano tanpa sungkan. Saat masih asyik berbincang, tiba-tiba saja Abiyan melakukan pergerakan yang mampu membuat semua orang terkejut. "Lo ngapain sih, Biy. Bikin kaget aja," cetus Diandra pada Abiyan yang hanya meresponnya santai. Laki-laki itu terlihat sedang mengetik pesan di ponselnya. "Biasa, Nyonya. Nanyain udah sampai mana. Sekalian mau cek saldo e-toll," jawab Abiyan tanpa mengalihkan pandangannya. "Kurang? Biar gue aja yang ngisi." Vano memberikan penawaran, tetapi Abiyan menjawab dengan gelengan. "Nggak, masih cukup kok. Paling ngisi ntar kalau udah mau ke Bromo," jawab Abiyan menenangkan. "Eh, ke Bromo udah bisa via toll kan, Sa?" sambungnya seraya memandang Annisa yang tengah sibuk mengunyah buah. Gadis itu mengangguk sekali. "Setahu gue sih udah bisa. Tol PasPro exit Tongas. Gampang lah, ntar tanya adek gue aja. Dia lumayan sering ke sana." "Adek lo biro travel ke Bromo apa gimana sampai bisa sering ke sana," celetuk Varell iseng. Di luar dugaan, justru Annisa mengangguk. "Serius lo?" Bola mata Varell melebar, demikian juga yang lain. "Adek bungsu gue emang punya travel agent. Masih baru, sih. Sekitar 1 tahun lah. Gue bukannya udah pernah cerita kalau keluarga gue itu punya bakat wirausaha? Ya emang gue doang yang nyimpang." "Menyimpang lo bagus, kok," puji Diandra yang lantas menepuk pelan bahu sahabatnya tersebut. "Ngomong-ngomong, tol PasPro apaan, Sa?" sambung Diandra yang membuat semua orang serasa ingin melemparinya dengan bungkus roti. "Googling noh, googling. Handphone aja bagus. Ini ... jangan lupa di upgrade juga," hardik Varell seraya menunjuk pelipisnya sendiri. Sang sumber kekesalan itu hanya tersenyum manis tanpa merasa berdosa. Setelah dirasa waktu istirahat yang mereka tempuh cukup, perjalanan menuju kota terbesar ke dua di Indonesia itu kembali dilanjutkan. Juru kemudi tentu saja Varell dengan ditemani oleh Clara. "Vano, gue nggak memperkenankan lo untuk tidur setelah ini," peringat Varell sebelum beranjak dari kursi masing-masing. Vano tentu saja menyanggupinya. "Asyik, gue bisa tidur lagi." "Lo bilang apa barusan, Di?" tanya Clara dengan tatapannya yang terlihat menyeramkan disertai senyuman manis. Satu tangannya bertengger di bahu Diandra. Mendapatkan tatapan semacam itu tentu saja membuat nyali Diandra itu menciut. Jika ada satu orang di antara mereka yang sangat dan sangat jarang sekali marah, itu adalah Clara. Jadi, tentu saja bisa dibayangkan bagaimana jika orang seperti itu terlanjur kesal? "Gue duduk di belakang aja, deh," ucap Annisa sebelum mereka memasuki mobil. Sementara Abiyan memang sudah duduk di kursi paling belakang dan bersiap untuk tidur. "Lo yakin, Sa? Ini kita mau ke rumah lo, lho. Masa iya elo yang di belakang?" tanya Vano memastikan. Annisa mengangguk yakin. "Nanti exit di pintu tol Kota Satelit aja. Maps'nya udah di pin kok sama Abiyan." Annisa benar-benar mengantuk berat, terlihat dari matanya yang semakin memerah. Melihat hal itu, membuat yang lain segera menyanggupi tanpa ragu. "Okelah. Daripada lo di tengah nanti juga bakal keganggu sama berisiknya mereka." Varell melirik Clara dan Diandra bergantian. Sedangkan kedua gadis itu sama-sama melayangkan tatapan penuh permusuhan kepadanya. Annisa hanya menanggapinya dengan senyuman geli. Segera ia menaiki mobil dan duduk di sebelah kiri Abiyan. Dilihatnya Abiyan sudah mulai tertidur bahkan tanpa mengenakan penutup mata. Annisa sedikit ingin tertawa sekaligus merasa kasihan melihat kondisi Abiyan saat ini. Sudah pasti Abiyan sangat lelah mengingat sebelumnya, ia juga baru saja pulang dari Singapura. Annisa membeber selimutnya yang masih terlipat dengan rapi. Selimut itu tadinya hanya ia gunakan untuk menutupi pangkuannya saat masih duduk di kursi depan. Terlebih dahulu Annisa mengirimkan pesan kepada sang ibu dan mengatakan di mana posisinya saat ini. "Nisa, lampu belakang gue matiin aja ya," tawar Varell saat melihat Annisa masih berkutat dengan ponselnya. "Iya, matiin aja," jawab Annisa tanpa mengalihkan pandangannya. Di antara batas sadarnya, otak Abiyan bekerja guna mencerna suara serta percakapan yang memasuki gendang telinganya. Tetapi entah kenapa, matanya terasa begitu berat dan ia bahkan tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk barang membuka kelopak matanya. "Ntar sampai interchange Waru lo bangunin gue," pinta Annisa pada Diandra yang duduk di depannya. "Beres," sahut Diandra seraya melongokkan kepalanya ke arah belakang. Gadis itu menggeleng pelan melihat betapa lelapnya Abiyan. "Tepar parah tu anak," seloroh Diandra seraya menunjuk Abiyan menggunakan dagunya. Annisa mengikuti arah pandang Diandra dan tersenyum membenarkan. Annisa bersiap untuk tidur. Karena kebiasaannya, gadis itu memiringkan kepalanya ke arah kanan. Seulas senyum terukir di bibirnya kala melihat Abiyan yang tertidur dengan tangan bersedekap. Entah mendapatkan ilham dari mana, diam-diam Annisa membeberan selimutnya hingga menutupi sebagian tubuh laki-laki yang disukainya itu. Makin anget dah. Hhh. *** Perlahan, kelopak mata Abiyan terbuka saat merasakan sinar lampu yang begitu terang. Tanpa menggerakkan tubuhnya, Abiyan menoleh ke kiri dan kanan guna mengecek lokasi saat ini. Dari papan penanda jalan tol, ia tahu kalau saat ini mereka sudah berada di ruas jalan tol Waru - Krian. Tanpa mengeluarkan suara sepatah pun, Abiyan memperhatikan ke empat temannya yang ada di kursi depan dan tengah. Tampaknya mereka sedang mengobrol dengan tenang dan tidak terlalu lantang. Abiyan tersenyum senang karena teman-temannya itu sangat mengerti dengan kondisinya sekarang. Meskipun sebenarnya ia sedikit merasa heran juga karena ternyata Clara bisa menjelma menjadi gadis yang sekalem itu. Pandangan Abiyan terarah pada Diandra, lantas seperti menyadari satu hal, ia mengarahkan pandangannya pada kursi di samping Diandra yang ternyata ada Vano di sana. Tanpa menunggu dua kali, Abiyan segera menoleh ke sebelah kirinya. Entah harus bagaimana ia mengungkapkan perasaannya saat ini. Meskipun bagian belakang itu terlihat remang-remang karena Varell hanya menyalakan 1 lampu di bagian depan, tetapi Abiyan bisa melihat dengan seksama bagaimana wajah damai Annisa yang kini terlelap menghadapnya. Jatungnya berdebar sangat kencang kala ia menyadari jika pesona gadis itu sudah tertanam dengan begitu kuat di dalam benaknya. Hati kecil Abiyan semakin terasa merekah saat ia menyadari jika dirinya tengah berbagi selimut yang sama dengan Annisa. Selimut yang ia tahu, itu adalah milik gadis yang ia suka. Hampir saja Abiyan kehilangan kontrol dengan menyentuh wajah Annisa. Namun niat itu ia urungkan karena takut mengganggu tidur damai Annisa. Abiyan memilih menyejajarkan posisi kepalanya sehingga ia kini berhadapan wajah dengan gadis itu. Tak lupa menarik tinggi selimutnya serta merapikan selimut di bagian tubuh Annisa hingga sebatas pundak. 'Kamu membuatku menjadi seorang pengecut karena rasa nyaman sebagai seorang sahabat ini, Annisa,' gumam Abiyan di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Abiyan memilih untuk kembali memejamkan mata. Tak apa untuk saat ini ia bersembunyi di balik topeng persahabatan mereka. Melihat Annisa sedamai ini, sudah lebih dari cukup untuknya. Abiyan memang sosok yang ambisius, namun itu hanya berlaku untuk urusan pekerjaan. Bukan untuk urusan perasaan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN