9

962 Kata
Aku bawa anakku ke Puskesmas terdekat dan langsung ditangani oleh tim medis. Tubuhnya yang sudah dingin dan gemetar membuatku panik dan takut, dan bukannya apa ... bisa saja hal-hal yang tidak diinginkan terjadi karena Putri sudah berjam-jam terkena hujan dan cuaca dingin. "Nak, Bunda sudah bawa kamu ke puskesmas, sekarang dokter akan memberi obat dan kita akan ganti pakaianmu," ucapku sambil menggenggam tangannya dengan tanganku yang gemetar cemas. Aku tetap bersaha tegar menyalin pakaian anakku dengan selimut hangat yang diberikan perawat. "Maafkan saya sekali lagi, Bu. Saya sungguh mengira bahwa dia pulang bersama teman-temannya dan sudah dijemput ayahnya," ucap gurunya dengan raut bersalah. "Itu bukan salahnya, Bu guru," jawabku tersenyum tipis. Meski aku coba menenangkan diri tapi perasaanku masih saja galau dan takut. Kucoba meraih ponsel tapi ternyata benda itu mati karena terkena air dan habis batrainya. Hendak menghubungi Mas Hamdan dari ponsel Guru Putri tapi wanita itu juga tidak membawanya. Pakaianku basah dan sialnya, aku tidak membawa dompet, karena sudah begitu putus asa dan sakit hati, akunhanya bisa terduduk lesu dan menangis. Bukan karena aku cengeng tapi karena sudah begitu banyak masalah yang mendera, sementara aku sudah tidak sanggup menanggungnya. "Bu, anaknya kami infus dulu, agar tenaganya kembali, untuk malam ini kami sarankan tinggal dulu ya, Bu," ucap dokter yang mendatangiku. "Iya, Pak, lakukan apa saja yang dirasa terbaik, Dok." "Nanti tolong anaknya disuapi bubur ya Bu ...." "Iya, Pak ...." Sebenarnya aku bingung karena tidak memegang uang sepeserpun. Karena sudah tak punya jalan lain, aku terpaksa mengajak gurunya bicara. "Bu, saya lupa bawa dompet bisa tolong saya tidak Bu?" "Tentu saja, saya akan bantu, apa yang harus kita beli?" Guru berkacamata itu ternyata baik sekali. "Dokter menyuruh kita untuk menyuapi bubur, saya juga ingin beli baju ganti," jawabku. "Baju ganti tidak usah beli Bu, saya masih punya baju bagus yang belum saya pakai jadi Saya akan bawa ke sini beserta jilbabnya, anak saya juga sebaya dengan Putri jadi saya juga akan bawakan baju ganti untuknya. Lalu makanan jangan khawatir, saya akan bawakan sekarang juga," jawab wanita itu sambil bergegas. "Terima kasih ya, Bu. Maaf merepotkan." "Tidak, ini adalah bentuk tanggung jawab saya juga, andai saya menahan putri sampai ayahnya menjemput tentu ini tak akan terjadi," jawabnya. "Makasih ya Bu." "Sama-sama, saya pergi ya, biar cepat," pamitnya sambil beranjak. Tinggallah aku sendiri, menahan rasa dingin yang mulai menjalari dan membuatku gemetar, ada rasa lapar, juga sakit hatiku pada Mas Hamdan yang tidak bertanggung jawab. Dia hanya sibuk memikirkan kerinduannya dan lalai pada tanggung jawabnya menjaga anak kami. "Pria kurang ajar ...," gumamku sambil menyeka air mata. Kuhampiri anakku dan memeluknya, sementara dia yang nampak masih lemas kini terlihat mengantuk dan ingin tidur. "Tidurlah sayang, nanti Bunda bangunkan kalau buburnya sudah datang," bisikku. "Iya, Bund," jawabnya lemah. Tak sampai satu jam berikutnya, anak sulungku dan Karman tetangga kami menyusul, mereka mereka menemuiku dengan raut prihatin juga nampak syok dan kaget melihat keadaan putri. "Ya ampun ... Putri ..." istrinya Karman ternyata ikut menyambangi kami. "Mana Mas Hamdan?" tanyaku dengan suara bergetar. "Dia di kampung, dia menyuruh kami menyusul karena dia merasa bersalah." "Apa?" Saya tidak percaya mendengar bahwa Mas Hamdan merasa bersalah. " ... kalau dia memang merasa bersalah mengapa tidak dia sendiri yang datang dan melihat hasil perbuatannya?!" Tak sanggup menahan aku kembali menangis Sedih di hadapan anak dan tetanggaku. Aku tak mengira bahwa kepedulian suamiku begitu dangkal. Tanpa perasaan dia mengutus orang lain untuk mewakilinya, sementara dia duduk meringkuk seperti pengecut di dalam rumah kami yang hangat. Dan ya, sungguhkah dia hanya berdiam di rumah? Tidakkah akan digunakan kesempatan selagi aku tidak disana untuk menemui kekasih hatinya? Kini kepalaku terbebani dengan begitu banyaknya tekanan dan kecemasan. Aku merutuki kenapa di saat genting begini bisa-bisanya aku masih mengkhawatirkan suamiku dan kekasih hatinya yang bau kencur itu. "Karman, saya minta tolong, ambilkan dompet dan baju ganti dari rumah," pintaku. "Iya, Mbak, dengan senang hati," jawabnya. "Aku tahu bahwa jalanan sudah gelap dan berlumpur tapi sekali Ini saja ... Aku Mohon bantuannya Mas Karman," ucapku pada tetangga yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. "Iya, saya akan pergi sekarang," jawabnya sambil mengajak isterinya bergegas. "Kalo ada apa apa, pake ponsel saya aja dulu Mbak, biar ponsel mbak saya bawa pulang untuk diisi ulang batrainya." "Bawakan saja chargeran, ya Mbak Rini." "Oh, baik, kalo begitu." Tetanggaku pergi, meninggalkan aku dan Raihan yang kini saling menatap dan terdiam. "Kamu ... teganya kamu menghianati Bunda dan tidak pernah memberi tahu bunda bahwa ayah berusaha mendekatkan kalian dengan Maura." Kali ini aku tidak sanggup untuk tidak mengutarakannya. "Aku pikir ayah akan mengadopsi mbak Maura itu sebagai kakak kita, Ayah memperhatikan dia seperti memperhatikan anaknya." Ah, iya juga, anakku masih begitu naif dan polos. "Lain kali janga begitu polos untuk memperhatikan, selama ini ayah sudah berselingkuh, dan karena penolakan Bunda, ayah jadi setengah gila dan linglung, dia benar benar kehilangan akal karena tergila-gila pada Maura." "Kenapa Bunda tidak mengizinkan dia menikah?" tanyanya dengan polos. "Karena Bunda akan tersakiti, kalian juga, udah tidak sanggup berbagi suami, rumah dan kasih sayang, apa kalian sanggup melihat kesedihan di hati Bunda. Bunda menolak itu demi kebahagiaan kita semua, karena jika ayah sudah terbagi perhatiannya ... semuanya tidak akan sama lagi," jawabku dengan tatapan dalam pada putraku. "Jadi ayah pacaran selama ini?" "Iya." Mendengarnya anakku langsung syok dan menganga. "Lain kali, ayah bunda bertengkar tolong jangan kau masukkan ke dalam hati ya karena kali ini bunda akan memberinya pelajaran yang membuat dia menyesali perbuatan lalainya." "Bunda ... jangan bercerai ya ..." Tiba-tiba putraku yang sedang duduk di kelas 1 SMP itu meneteskan air mata sambil menggelengkan kepalanya. "Kami tidak akan nakal dan banyak tingkah Tapi Bunda jangan bercerai ya ...." Tiba-tiba hatiku menjadi gundah dan sedih, rasanya tidak tega melihat Raihan dan Putri menangis meratapi kehancuran hati mereka karena kehilangan keluarga. Aku harus bagaimana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN