7

1063 Kata
Sejak aku mengutarakan semua keberatan itu suamiku tidak pernah lagi membahas tentang Maura dan keinginannya untuk menikah lagi. Kami menjadi dua orang asing yang berdiam di dalam perang dingin. Kami memang tinggal dalam satu atap namun rasa benci yang berkelindan di dalam hati sangat sulit dinetralkan hingga aku dan Mas Hamdan bisa kembali berhubungan normal seperti semula. Aku dan dia tidur di ranjang dan makan di meja yang sama, tapi tanpa bicara, kami lebih sering sibuk dengan pikiran masing-masing. Anakku yang bungsu tidak merasa terganggu tapi aku tahu bahwa kakaknya, Raihan, merasakan permusuhan tersebulung yang terjadi pada kami orang tuanya. Aku tidak hendak menyapanya dan dia pun terlihat sungkan untuk mengajakku bicara. Kami habiskan waktu hanya untuk mengerjakan kegiatan masing-masing, kadang saling memandang tapi itu hanya beberapa detik saja. Kutunggu permintaan maaf dan kata-kata yang biasa merayu membujukku agar aku bisa kembali tersenyum dan tenang, namun itu tidak pernah terlontar dari bibirnya. Jadi kusimpulkan bahwa dia tak hendak mendapatkan maaf dariku. ** Hari itu aku kehabisan Uang belanja, karena kami saling mendiamkan jadi aku tidak tahu cara menyampaikan hal tersebut selain terpaksa bicara padanya. Dia yang saat itu sedang sarapan di teras samping sambil menuliskan sesuatu di kertas nampak terdiam. Seperti melamun sementara tatapan matanya lurus ke depan. "Permisi Mas, aku mau bicara ...." "Hmm," gumamnya tanpa menolehku, kupikir dia sedang sibuk menghitung sesuatu. "Aku ingin tambahan yang belanja sebab akan ada pengajian sore ini di rumah kita," ucapku. "Pengajian? tentang apa?" Kupikir dia memang sedang bergelut dengan segala beban pekerjaannya jadi dia melantur. "Doa bersama," jawabku. "Untuk apa?" "Untuk keselamatan dan kesehatan kita semua." Dia menoleh, tapi matanya kosong, seperti orang linglung tatapan matanya kembali lurus ke depan. Lama kutunggu jawaban hingga tiba tiba pulpen terlepas dari tangannya. "Mas!" Dia terkesiap, kaget dan segera mengusap wajah. "A-apa?" Dia seakan baru tersadar dari tidur panjang. Dia gelagapan dan gugup. "Kamu gak dengar dari tadi? apa yang kamu pikirkan Mas?" Aku mulai kesal padanya. "A-aku sungguh sedang ...." "Memikirkan gadis berkerudung itu lagi?!" cecarku dengan emosi, "... nampaknya memang iya, kau sangat merindukannya," sambungku sambil berlalu dari hadapannya. "Maafkan aku ... aku tidak sengaja tidak mendengarkanmu," ujarnya menghalangiku dengan cepat. "Baiklah, pergilah ke rumah juragan Bono dan temui kekasih hatimu agar kau tak gila!" "Dengar, tidak ... aku tidak akan melakukan itu lagi, aku janji, demi kamu dan anak anak," ucapnya dengan air matanya menetes memperlihatkan rasa sedih tapi sebenarnya aku lebih menangkap itu adalah bentuk kerinduan yang tak tertahankan pada gadis muda itu. "Aku tidak bisa mentolerir kelalaian karena racun cintamu, ingat bahwa umurmu nyaris empat puluh, harusnya kau sadar kau tua, Mas!" Kutepis tangannya dengan tatapan benci, aku geram dan kesal sekali sementara dia hanya menunduk malu. Rasa-rasanya ingin kutemui wanita itu dan menjambak rambutnya, atau menyayat wajahnya dengan silet agar raut yang selalu memasang wajah imut dan memelas itu bisa hilang. Wanita yang terlihat polos itu sangat tahu cara menaklukkan hati orang. Tak tanggung-tanggung targetnya pria beristri yang punya kehidupan bahagia, berkecukupan, punya mobil dan ladang. Iya, dia Mas Hamdan suamiku. * Setelah menyiapkan sarapan kupanggil anak anak untuk segera menyantap makanan yang kubuat, kupastikan mereka makan meski sedikit karena aku tak ingin mereka kelaparan di jam pertama belajar. "Kenapa harus sarapan tiap hari, Bun?" tanya putriku yang selalu ceria dengan senyum mengembang sempurna di bibirnya, gestur wajahnya hampir semua mirip ayahnya. "Karena butuh energi untuk beraktivitas dan menerima kenyataan," jawabku sambil melirik Mas Hamdan yang datang ke arah kami. Dia terlihat sudah rapi, memandangku lekat dan seakan ingin bicara padaku, namun aku menghindarinya. "Ini bekal kalian, masukkan ke dalam tas," perintahku pada kedua anakku, mereka mengangguk. "Mana untuk ayah Bund, biasanya kotak bekalnya ada tiga?" tanya putriku yang selalu banyak bertanya. "Dia tidak membutuhkan itu lagi, karena perasaan cinta telah mengenyangkan perutnya," jawabku sambil tersenyum sinis pada suamiku. Dia yang tadinya ingin duduk lantas mengurungkan niat, lalu beranjak begitu saja. Aku tahu aku berdosa, tapi maaf aku tak tahan untuk tak mengungkapnya. "Bund, bukankah sikap demikian akan melukai Ayah dan membuat dia semakin jauh dari ibu?" tanya Raihan yang menghentikan gerakanku menggosok panci di wastafel. "Kalau begitu, tolong katakan pada ayahmu agar kami bertukar posisi, jadi dia pun merasakan perasaan Bunda," jawabku pelan sambil terus mencuci piring. "Memangnya ada apa? apa yang terjadi, apa ayah dan bunda bertengkar hebat setelah kejadian di depan Mbak Maura kemarin?" "Ibu rasa kamu paham perasaan seorang yang dilukai, Ibu sangat kecewa pada ayahmu. Tapi percakapan ini sampai di sini saja, aku tidak mau kalian terbebani. Ibu dan ayah akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu," jawabku menghiburnya. "Semoga begitu, tapi jangan memaksa baik baik saja, Bun, kami juga paham," balasnya sambil memasukkan kotak makan dan pamit padaku. Aku tahu perasaan Raihan, dia cukup cerdas untuk menangkap ada sesuatu yang akan mencerai-beraikan keluarga kami. Sebenarnya aku juga ingin mengungkapkan kekesalan kepada putraku mengapa ia bisa sampai dekat dengan wanita itu dan tidak menyadari bahwa Mas Hamdan menyukainya, tapi, sudahlah, Aku tidak akan membahas itu lagi. ** Hari berikutnya juga begitu, Mas Hamdan makin sering termenung, menyendiri dan tenggelam dalam kesedihan. Sikapnya seperti wanita yang sedang berkabung atas kepergian suaminya. Aku tak paham mengapa ia sampai terjerembab ke dalam jebakan cinta yang begitu menyiksa, dia sungguh berlebihan. Belakangan ia juga kehilangan nafsu makan dan jarang tidur, selezat apapun hidangan, dia sama sekali tidak tergugah untuk menyentuhnya. Pun malam hari ia habiskan hanya duduk menatap langit dari luar jendela, lalu menyeka matanya yang basah. Sungguhkah gadis itu sudah menawan hati Mas Hamdan hingga tak tersisa secuil pun untuk kami istri dan anak anaknya? Puncak dari semua itu adalah malam ini ketika kutemukan dia sedang menangis di ruang baca, dia sesenggukan sampai gema suaranya terdengar dari tangga lantai dua. Setelah kuintip perlahan dia tengah menangisi wanita itu sambil menatap layar ponselnya yang bergambar Maura dengan kerudung pashmina merah. Dulu gambar Raihan dan adiknya yang ada di layar depan benda itu, tapi sekarang ... Mas Hamdan terang-terangan menunjukkan kerinduannya. Kurebut benda itu dari belakangnya, dia kaget dan refleks berdiri mencegahku, sayang dia terlambat, kulempar ponselnya hingga benda itu pecah layarnya. "Jadi, ini yang menawan hatimu hingga kau seakan menjadi mayat hidup yang tidak punya pikiran?" "Aku hanya ...." "Kulihat hidupmu sempurna, tapi hanya satu hal yang mampu membuatmu bahagia, yaitu cinta dan wanita itu, pergi dan nikahi dia agar puas!" ucapku sambil pergi dan membanting pintu ruang baca dengan emosi. Tak kuasa menahan sakit hati, air mataku tumpah begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN