182

1104 Kata

Pukul empat sore, semua proses pemulasaraan jenazah berakhir. Rafa sudah tertidur tenang di makamnya, keluarga sudah kembali dan sebagian pulang ke rumah masing masing. Hanya tinggal aku, mas Hamdan, Maura dan anak anak juga tetangga dekat yang masih berada di rumah kami. "Mbak, bisa bicara sebentar?" tanya seorang tetangga menjeda lamunanku tentang kenangan dan senyum Rafa kecil. "Iya," jawabku berangsur bangkit. Kuikuti tetanggaku yang bernama Mbak Risma itu untuk bicara di meja makan. "Untuk tahlil malam nanti, mau bikin apa Mbak?" "Apa aja, Mbak, saya ikut aja selama tidak memberatkan kita semua." "Kita bikin kue basah dan teh hangat saja Mbak." "Iya, ditambah pastel dan satu macam lagi, letakkan di kotak kue lalu bagikan ke semua yang datang, anggap sedekah juga." "Tapi kam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN