Extra Part - 1

1960 Kata

Tidak ada bunyi apa-apa, tidak ada isak keras tangis yang terdengar. Yang ada hanya lelehan air mata tanpa suara. Perempuan berambut pirang itu berjongkok dengan wajah dingin di sisi makam dengan batu nisan bertuliskan Firza Andrean Rush. Sesekali tangannya terangkat, membenarkan letak kacamata hitam yang menutupi matanya yang sembap. Dia tidak bersuara, mulutnya terkatup rapat. Sejak kemarin, Vian memilih tak berbicara dengan siapa pun. Dia juga tak menghiraukan keadaan di sekelilingnya, juga Dini yang pingsan setelah mengetahui Andre tak dapat di selamatkan. Awalnya Dini mengira semuanya baik-baik saja. Tubuhnya terlempar ke sisi jalan, sedikit menghantam trotoar. Namun, tidak mengalami luka serius. Hanya ada luka lecet di siku dan lutut, juga sedikit luka robek di pelipis. Sisanya dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN