Alarm berbunyi tepat pada jam biasanya, pukul setengah enam pagi. Dini bergegas bangun, dalam hati bersyukur karena dia tidak terlambat bangun pagi. Tadi malam seperti malam-malam sebelumnya dia dan Tara saling berkirim pesan. Mereka berjanji bertemu nanti sepulang bekerja. Di akhir pekan Tara pulang lebih awal, sementara dirinya hanya ada satu operasi setelah itu tidak ada apa-apa lagi yang harus dikerjakannya. Terdengar mudah, tapi sebenarnya sangat sulit karena dia harus menjadi asisten dokter bedah yang tak lain adalah Ricko. Dua jam akan berasa seperti dua tahun bila pria itu berada di dekatnya. Sudah beberapa hari ini Ricko tidak lagi mengganggunya, Dini sangat bersyukur akan hal itu. Dia dapat menyelesaikan semua pekerjaannya dengan lebih fokus tanpa adanya gangguan. Dini menarik

