Makan siang kali ini lebih banyak dihiasi senyum dan tawa kecil. Gillian tak pernah menyangka kalau dia bisa merasakan seperti ini lagi. Entah kapan terakhir dia merasakan makan siang seceria ini, dia lupa. Yang dia ingat hidupnya suram sejak kepergian Sang Putri. Walaupun ada yang menggantikan, tetap tidak sama dengan dengan yang asli. Sekeras apa pun dia mencoba, hasilnya tetap sama. Tidak ada yang dapat menggantikan Vian. Perempuan muda di depannya memang sangat mirip, bukan hanya mirip tetapi sama persis dengan putrinya yang sudah meninggal. Menatapnya membuat dadanya menghangat, senyum manis Vian mengusir semua hawa dingin yang selama ini menyelimuti hatinya. Tanpa sadar Gillian sudah menambah dua kali. Seandainya tidak ditegur Adriana, mungkin dia akan menambah lagi. "Astaga, Gill,

