"Stay! (Tinggallah)!" Vian mengernyit sedetik. Di detik berikutnya sebelah alisnya terangkat menatap pria yang berdiri di depannya dengan wajah memerah samar. Apakah Andre malu, bahkan sekedar memintanya untuk tinggal? Vian berdecak. "For what? (Untuk apa)?" "For ...." Andre mengangkat bahu, kepalanya menggeleng kacau. "I didn't know for what, but ... Tara said you should stay (Aku tidak tahu untuk apa, tapi ... kata Tara kau harus tinggal)." "Really?" Andre mengangguk. Namun, dari caranya mengangguk siapa pun pasti tahu kalau ia ragu. "But, I already tell to her that I'm going home now. I'm tired and need to rest (Tapi aku sudah mengatakan pada Tara kalau aku akan pulang sekarang. Aku lelah dan perlu istirahat)." Vian memberi alasan. Andre mengerang, Vian terlalu keras kepala bag

