Dengan santai, Marco meraih cangkir kopi dan meniupnya sebelum diseruput. Adapun matanya terlihat datar, meski tak putus menatap Stella yang kini menunggu jawaban. Tentunya, tenggorokan Marco terasa amat kering saat ini. Terbukti dia meneguk kopi itu hingga tersisa setengah, lalu meletakkan ke meja di mana Stella dengan amat sabar masih menanti serta penuh harap akan jawabannya. "Kenapa kau bisa berpikir kalau kita akan menikah?" kata Marco dengan aura dingin serta wajah tanpa ekspresi membalas tatapan Stella sejak tadi. Alhasil, dia mendadak tercekat karena Marco tak menjawab dan justru bertanya balik, tapi berusaha menormalkan rautnya agar tetap tenang. "Apa menurutmu aku salah sudah berkata seperti itu?" jawab Stella dengan hati bergemuruh karena tak senang akan ucapan Marco yang seol

