Badut

1522 Kata
Bian tak berhenti menggerutu selama perjalanan, rupanya Raga mengambil jalan yang salah. Padahal jalan utama menuju tempat pesta lebih dekat dan melewati jalan besar. "Lain kali perhatikan jalannya!" "Kalau kau tahu jalan, kenapa harus pakai google maps?!" potong Raga yang kesal karena terus disalahkan. Lagipula bukan salahnya juga kan, harusnya Bian menyalahkan petunjuk yang diberikan. "Kan aku rada lupa-lupa ingat!" elak Bian yang juga tak mau disalahkan. Padahal mereka bisa sampai sepuluh menit lebih cepat, tapi mengikuti petunjuk justru membuatnya nyasar. Sepertinya benar kata orang, tidak selamanya maps itu benar. Akhirnya setelah Bian berputar arah, mereka sampai di tujuan sekitar 15 menit dari tempat mereka tersesat. "Cepat turun!" perintah Bian saat memarkirkan motornya. Raga mendengus kesal, tahu begini ia tak akan sudi memberi petunjuk arah. Biar sekalian mereka tersesat. "Oi, Bi, Raga!" Bian dan Raga menoleh setelah melepas helm dan meletakkannya di spion motor. "Kalian baru sampai?" sapa Yoga bersama Gio dan Zio yang berjalan di belakangnya. Ketiganya berjalan menghampiri Bian dan Raga yang masih merapikan penampilan di samping motor mereka. "Salahkan Raga yang membuat kami nyaris tersesat," celetuk Bian dengan menunjuk Raga menggunakan ibu jarinya yang terbalik. "Cih." Raga mendengus dan melirik Bian sinis. "Eh? Yang benar saja?" tanya Gio dan Zio bersamaan. "Sudahlah, sebaiknya kita segera masuk. Sebentar lagi acara dimulai," ajak Yoga seraya berbalik dan melangkah menuju tempat acara. Gio dan Zio pun mengekor di belakangnya diikuti Bian dan Raga. "Bi! Ga!" Mereka menoleh saat sebuah suara terdengar menginterupsi pendengaran. Dan dari kejauhan tampak seorang gadis cantik berlari kecil ke arah mereka. "Hah … padahal ada kita, yang dipanggil cuma Raga dan Bian," desah Gio seolah air mata mengalir banjir dari kedua matanya. "Sepertinya aku baru melihatnya, kalian mengenalnya?" tanya Yoga yang tak melepas pandangan dari gadis tersebut. "Biasalah, Yo. Orang tampan mah, gadis manapun mau kenal mau tak kenal pasti mendekat," sahut Bian dengan memejamkan sebelah mata dan sebelah matanya melirik Raga yang berdiri di sampingnya dimana kedua tangannya menyatu di belakang tengkuk. "Hai, kalian sudah lama?" sapa gadis tersebut dengan arah pandangnya tertuju pada Raga. "Tidak, kami baru sampai," jawab Raga. "Aku sudah menunggu. Aku juga sudah mengirim pesan tapi sepertinya kau belum membukanya," kata Cindy dimana ia tampak tersenyum tersipu malu. "Seseorang menyita ponselku," jawab Raga dengan melirik Bian lewat ekor mata. "Eh? Siapa?" tanya Cindy dimana raut wajahnya terlihat terkejut. Yang ada di pikirannya adalah, mungkin pacar Raga yang menyita ponselnya. "Tsk. Siapa suruh membuat kita tersesat. Mana dingin, ke tempat sepi pula," sahut Bian seraya memberikan ponsel Raga. "Pft … kau harus sabar, Nona. Dua pasangan ini memang seperti itu," celetuk Yoga. Sementara si kembar telah berada di depan pintu rumah yang menjadi tempat acara malam ini. Cindy tampak mengukir senyum kecil mendengar ucapan Yoga. "Tidak apa-apa. Justru mereka membuat suasana berwarna," jawabnya. "Oh ya, sepertinya aku baru melihatmu. Kau dari jurusan apa?" tanya Yoga hendak berbasa-basi. Cindy lumayan cantik, meski mungkin yang diincar adalah Raga, siapa tahu mereka masih bis berteman. Hitung-hitung menambah jumlah teman wanitanya. Raga dan Bian saling menatap satu sama lain kemudian mengangguk sebagai isyarat dan mulai melangkah meninggalkan Yoga dan Cindy. Cindy yang melihatnya pun seketika mengejar Raga mengabaikan pertanyaan Yoga sebelum ia menjawab. "Raga! Tunggu!" panggilnya yang sontak membuat Yoga merasa tersisihkan dan terabaikan. "Haish … Raga lagi Raga lagi. Harusnya ayah dan ibuku memberiku nama Raga dulu," desah Yoga dengan mengacak rambut belakangnya. Tak ada pilihan lain, ia pun mengikuti Bian dan Raga juga Cindy yang terlihat mulai memasuki tempat acara. "Ga, kenapa meninggalkanku?" tanya Cindy yang berjalan menyamakan langkahnya dengan Raga. "Bian bilang dia sangat haus dan memintaku segera masuk," jawaba Raga dengan menoleh pada Bian yang berjalan di sampingnya. Sontak Bian pun menatap Raga dengan sebelah alis meninggi. "Dasar!" batinnya. Sesampainya di dalam, suasana sudah sangat ramai dengan banyaknya tamu undangan yang terdiri dari para juunior. Beberapa senior pun ikut hadir dan sepertinya sebagai panitia acara. "Cind, kau tak menyusul teman-temanmu? Kami ingin menyusul teman kami para lelaki," ujar Bian. Meski Cindy sudah meminta izin sebelumnya tadi siang, tapi Bian merasa sedikit terbebani. Dalam artian, ia tak ingin ada yang salah paham melihat Cindy bersamanya dan Raga. Lagipula para laki-laki punya zonanya sendiri saat berada dalam sebuah pesta bukan? "Ah, begitukah? Tidak apa-apa, kok. Sebenarnya aku tidak begitu punya banyak teman. Entah kenapa mereka seperti menghindariku," sahut Cindy yang mana tampak menyunggingkan senyum terpaksa. Bian melirik Raga sekilas begitu juga sebaliknya. "Nanti kalau kau ikut dengan kami, yang ada atensi mereka tertuju padamu. Kalau kau tak keberatan, sih, tidak apa-apa," kata Bian memberi peringatan sebelumnya. "Ah, tidak apa-apa. Lagipula aku memang lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Mereka terlihat lebih menerimaku daripada teman wanita," jawab Cindy. Senyumnya perlahan mulai merekah dimana ia sesekali melirik Raga yang berdiri di sebelahnya. "Cindy!" Ketiganya menoleh saat sebuah suara terdengar di tengah suara musik yang memenuhi ruangan. Terlihat beberapa gadis yang baru masuk berjalan menghampiri Cindy. "Hei, kau ini, sengaja datang sendiri agar kami tak mengganggu?" ujar gadis berambut ikal yang sebelumnya memanggil Cindy dimana ia melirik Bian dan Raga dan menunjuk mereka menggunakan dagu. Cindy terdengar mendesis, padahal ia sudah menyusun rencana agar bisa memiliki waktu bersama Raga. Tapi dengan kehadiran teman-temannya, ia yakin rencananya akan berantakan. "Hai, kenalkan, namaku Alexa, teman sekelasnya Cindy," ujar garis tersebut seraya me gulirkan tangannya pada Raga. Bukan cuma dia, dua gadis di belakangnya pun mengikuti jejaknya dengan memperkenalkan diri mereka masing-masing. "Hei! Kalian!" geram Cindy yang kesal karena teman-temannya benar-benar mengganggu. Tapi di sisi lain, ia juga merasa malu dan mati kutu karena ketahuan berbohong. "Maaf teman-teman, kami harus menyusul teman kami. Panggil saja aku Bian dan dia ini Raga," ujar Bian pada ketiga gadis tersebut. "Cind! Temanmu sudah datang, kami tinggal, ya!" ucapnya kemudian pada Cindy lalu segera pergi meninggalkan para gadis itu. Sedangkan Raga mengikuti di belakangnya setelah sebelumnya memberikan tatapan anehnya pada Cindy. "Ga! Tunggu!" teriak Cindy yang hendak mengejar Raga namun tangannya segera mendapat halangan dari ketiga teman-temannya. "Hissh, apa yang kalian lakukan?! Kalian benar-benar merusak rencanaku!" geramnya pada ketiga temannya yang justru hanya cekikikan menertawakannya. "Habisnya kau, sih, sengaja merahasiakan ini dari kami," jawab Anjani, temannya yang berambut pendek lurus. "Iya benar. Padahal kalau kau mau, kan kita bisa membantumu," sambung Viola. "Tidak ada yang bisa kalian lakukan! Dan sekarang, Raga pasti akan berpikir aneh tentangku!" maki Cindy memarahi ketiga temannya. "Jadi kau memarahi kami? Kalau begitu terserah kau saja. Kami ogah berteman dengan wanita tak setia kawan sepertimu!" sungut Alea yang kemudian memberi isyarat pada kedua temannya untuk mengikutinya dan meninggalkan Cindy. "Sssh!" Cindy mendesis kesal. Ia bingung harus mengejar ketiga temannya atau mengejar Raga dan Bian memberi penjelasan pada mereka. Namun saat melihat Raga dan Bian tengah berbincang dengan segerombolan teman laki-laki mereka, Cindy mengurungkan niat. Akhirnya dengan amat sangat terpaksa, ia menyusul ketiga temannya dengan sengaja menghentakkan kaki kesal. Sepertinya bukan waktu yang tepat kembali berusaha mendekati Raga di saat seperti ini. Bisa saja justru teman-teman Raga mengganggu dan meminta berkenalan dengannya, batinnya. Yang dia incar adalah Raga, bukan yang lain dan ia tak mau yang lain. Bian dan Raga yang mengarah pandangan ke arah Cindy, hanya bisa tertawa. "Hahaha, dasar," ucap Bian. "Dan kecurigaanku benar," timpal Raga yang juga berusaha menahan tawanya. "Hei, apa yang kalian tertawakan?" tanya teman-teman keduanya yang keheranan melihat mereka seperti menertawakan sesuatu. "Bukan apa-apa. Kami hanya baru saja melihat seorang badut," jawab Bian yang masih memegangi perut dengan kelakar tawanya yang perlahan mulai menghilang. "Badut? Memangnya di sini ada badut?" gumam teman-temannya yang saling menatap satu sama lain dan meng arah pandangan ke penjuru ruangan mencari badut yang Bian maksud. "Sialan, dia pasti akan menjadi medusa mendengar kau menyebutnya badut," celetuk Raga dengan meninju kecil bahu Bian. "Memangnya dia berani? Apalagi kalau di depanmu, dia pasti jadi putri anggun dari negeri dongeng," balas Bian yang membalas tinjuan kecil Raga di bahunya. "Hai, sepertinya kalian terlihat sangat senang. Padahal acara bahkan belum dimulai." Sebuah suara membuat Raga dan teman- temannya menoleh. "Entahlah, Senior. Sepertinya Raga dan Bian berhalusinasi melihat badut," timpal Farrel menyambungi sang senior yang datang bergabung. "Badut?" Senior dengan julukan Giring itu membeo, karena seingatnya, ia tak mendatangkan badut sebagai pemeriah acara. "Hehehe, bukan apa-apa, kok, Senior. Kami hanya melihat hal lucu saja," sahut Bian menjelaskan dengan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ah, sebelumnya kami mengucapkan terima kasih banyak, Senior. Senior sudah membuat acara untuk kami," ucapnya kemudian. "Tidak apa-apa, anggap saja acara ini sebagai jalan hubungan baik antara senior-junioor dan membawa kampus kita menjadi lebih baik," jawab Giring dengan ramah. Tujuannya kali ini juga untuk menghilangkan image buruk mengenai perlakuan senior pada junioor-junioornya. Image yang seolah telah mendarah daging bahwa senior adalah sosok yang harus ditakuti. "Baiklah, sebentar lagi acara dimulai. Nikmatilah acara ini," lanjutnya kemudian meninggalkan Raga dan teman-temannya. "Wow, rasanya aku menyukai senior," celetuk Zee yang sontak membuat teman-temannya bergidik ngeri menatap ke arahnya. "Apa," tanyanya yang menyadari tatapan aneh teman-temannya. "Tsk. Jangan berpikiran bodoh. Memangnya kalian tidak? Padahal kalian dulu takut, kan, kalau para senior akan menghajar kita habis-habisan," ucapnya kemudian. "Yah, kau benar sih, tapi tak sampai suka, kali," sahut teman-temannya. "A--" "Kyaaah!" Tepat saat itu saat Zee hendak kembali mengelak, sebuah jeritan membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN