Gianna mengerjab-ngerjabkan matanya memandang langit-langit kamar namun ia tak segera beranjak turun dari ranjang. Matanya masih menatap kosong ruangan disekitarnya dan lagi-lagi ia menghela nafasnya dengan dalam. Tangannya mengelus perut buncitnya perlahan-lahan dan merasakan pergerakan aktif anak-anaknya. “Good morning my babies.” Gumam Gianna sambil tersenyum simpul dan menyapa triplet. Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka menampilkan sesosok pria di ambang pintu. Bersamaan dengan pria itu yang berjalan masuk menghampiri Gianna, wanita itu juga menegakkan tubuhnya dan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di bantalan yang ia buat setinggi punggung. “Tidurmu nyenyak?” Tanya pria itu halus sambil memegang bahu Gianna yang sayangnya langsung ditepis oleh wanita itu. “Tidak

