1986. Aini masih sangat ingat, tiga dasawarsa yang lalu ia mempunyai pendapat yang kaku bahwa cita-cita merupakan sesuatu yang wajib ia wujudkan, bagaimanapun caranya. Kini sudah dapat ditebak; ada saja anaknya yang juga beranggapan begitu. Walau sudah tak disetujui Yusuf, niat anak itu teguh untuk langsung bekerja sebagai supir angkutan umum—tanpa memedulikan kelanjutan studinya lagi. Berbeda dengan ketiga kakaknya; Fifi dan Ifa yang sudah lulus kuliah dan bekerja, lalu Umam yang melanjutkan perkuliahan teknik-nya dengan jalur beasiswa, Asep justru lebih memilih langsung bekerja dengan alasan ingin mengumpulkan uang untuk membuka wirausaha, seperti abinya pada percetakan stensilan itu. Yah, niat yang bagus, memang. Namun seharusnya Asep tahu, jika mau menyisihkan sedikit saja uang sak

