Semester Tiga: Perbincangan Bersama Psikopat

1108 Kata
Alwi sedang berbicara tapi Febi malah terus memperhatikan sosok yang akhirnya hilang di balik pintu yang telah tertutup itu sambil berpikir apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Ian? Apa motivasi pria itu tidak menegurnya sama sekali? Kenapa Ian hanya melewati Febi? “Feb…” ucap Alwi sambil menatap Febi seakan menunggu responnya. “E?” jawab Febi seakan baru tersadar dari lamunannya. “Aku ke atas dulu…” ucap Alwi seakan mengulang kalimat yang sudah pernah diucapkannya. “Oh…Iya…iya kak” Febi seakan tidak fokus memperhatikan Alwi yang disukainya itu tapi malah memikirkan sikap Ian barusan. Apa motivasi Ian sebenarnya? Kenapa pria yang punya tatapan dingin, orang yang mampu berbuat jahat dengan strategi, orang yang tega menjatuhkan orang lain, tapi orang yang sama itu justru menolongnya? Apakah peristiwa tadi malam itu hanya kebetulan? Masih banyak pertanyaan dalam diri Febi yang belum terjawab. Gadis itu melewatkan waktu di perpus sambil menunggu jam makan siang. Tak terasa gadis itu sudah melewatkan satu jam di perpus. Tiba-tiba handphonenya bergetar. [Jennifer] _Gw di tempat fotocopy_ Sebuah pesan dari Jennifer. [Febi] _ok. Bentar lg gw kesana_ Febi membalas pesan Jennifer sambil bergegas ke ruang fotocopy. [Febi] _Dah sls blm? Gw laper banget_ Sekali lagi Febi mengirimkan pesan sambil berharap jika sahabatnya itu sudah selesai dengan aktifitas fotokopinya maka mereka bisa bertemu di tengah jalan dan segera pergi bersama ke kantin. Tapi pesan balasan dari Jennifer tak kunjung datang. Akhirnya Febi terus berjalan hingga sampai di ruang fotokopi. Tapi tak disangkanya, ketika Febi sudah mencapai pintu ruang yang ditujunya itu, dari arah berlawanan, Ian datang mendekat ke arah pintu itu juga. Febi terdiam di sana, di depan pintu itu. Mereka berdua saling berhadapan tanpa ada satu kalimat pun keluar dari bibir mereka. Hening…itulah suasana diantara mereka berdua. Entahkah mata mereka yang saling berbicara. Tidak satupun dari mereka memulai percakapan. Seakan ada tembok tebal yang menahan Febi untuk menanyakan segala pertanyaan dalam hatinya yang bahkan sejenak telah membuatnya kehilangan fokus dari Alwi. Lalu Ian menggerakkan tangannya memegang knop pintu dan merobohkan tembok diantara mereka. Pria itu membuka percakapan dengan berkata, “Aku janjian dengan Rendy…” sambil jarinya menunjuk ke arah pintu itu, memberitahu Febi bahwa Rendy ada di dalam ruang fotokopi. Dengan perlahan Ian membuka pintu itu karena ia masih belum sepenuhnya melepaskan tatapannya dari Febi. “…sebenernya suka gua nggak?” Terdengar suara Rendy dari dalam, dengan nada tinggi. Mendengar suara itu Ian menahan niatnya untuk masuk dan sekali lagi ia berpandang-pandangan dengan Febi. Tapi kali ini mereka sama-sama penasaran apa yang terjadi di dalam ruang fotokopi. “Aku serius Jen …” sambung Rendy. Nadanya terdengar melemah. “Jadi gimana?” “Aku…” terdengar suara Jennifer dengan nada bergetar. “Nggak tahu…” Tak berlama-lama mendengarkan percakapan mereka, kemudian Ian menutup pintu itu perlahan. Digelengkannya wajahnya ke samping, memberi isyarat pada Febi untuk menjauh dari pintu itu dan memberi ruang bagi Rendy dan Jennifer untuk menyelesaikan masalah diantara mereka. Mereka berdiri sekitar lima meter dari ruang fotokopi. Pria bertubuh tinggi atletis dan cewek bertubuh mungil itu berdiri berdampingan sambil bersandar pada dinding tanpa bercakap-cakap. Lima menit telah berlalu dan sahabat-sahabat mereka masih belum ada tanda-tanda keluar. Lalu Ian berkata, “Kita tunggu mereka di M Café,” sambil melangkah pergi tanpa menunggu Febi. Melihat Ian yang sudah bergerak dua langkah menjauhinya, Febi pun mengikuti pria itu tanpa penolakan. Sesampainya di café, Ian segera ke counter pemesanan dan bertanya pada Febi, “kamu mau minum apa?” Febi terdiam, “Ee...,” bukan karena berpikir minuman apa yang dia mau, tapi berpikir kalau bisa ia tidak mau beli minuman di café itu karena harganya lebih mahal daripada di kantin. Dan saat ini yang ia butuhkan bukanlah kopi melainkan makan siang. Krrrr… Suara dari perut Febi mulai terdengar. Karena gadis di depannya itu tak kunjung meresponi pertanyaannya, Ian segera membalikkan wajahnya ke counter pemesanan dan segera mengucapkan pesanannya kepada pelayan café di sana. “Satu americano” ucapnya sambil matanya terus bergerak mencari menu yang lain. “Ada lagi kak?” tanya sang pelayan. “Paket lunch spaghetti, satu” sambungnya. “Tambah french fries dan sup onionnya.” “Minumnya bisa pilih,” “americano atau ice tea?” sang pelayan itu bertanya ramah. “Ice tea” jawab Ian singkat. Lalu Ian mengeluarkan sejumlah uang dan membayar pesanannya. Kemudian ia menoleh ke belakang, ke arah Febi, “kamu duduk aja, aku tungguin pesenan,” ucapnya pada Febi. Gadis itu tidak bisa membantah apa-apa selain mengikuti semua arahan pria itu. “Kenapa aku harus di sini?” pikir Febi dalam hatinya. “Ini kayak terjebak, bisa gak ya aku pamit keluar aja? Laper pula...” Dengan ragu Febi mengambil tempat di dekat jendela. Wajahnya kusut dan tangannya terus memegangi perutnya yang kelaparan. Tak lama kemudian, Ian datang dengan tangan kanannya memegang nampan yang berisi satu set makan siang plus plus dan tangan kirinya memegang segelas americano hangat. Diletakkannya nampan yang berisi satu set makan siang itu di depan Febi membuat gadis yang sedang sibuk memikirkan cara melarikan diri itu terperanjat. “Itu punya kamu,” ucap Ian seraya menghempaskan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Febi. “Hh?” sahut Febi kebingungan. Pria itu tidak menjawab apa-apa lagi selain sambil memegang americano hangatnya ia menyandarkan punggungnya pada kursinya dan matanya menatap jauh keluar jendela. Karena pria yang sekarang sedang duduk di depannya itu tidak berkata apa-apa lagi, Febi melirik makanan yang sudah tersedia di depannya. Gadis itu tidak bisa menolak lagi dan hanya bisa berkata, “Thank you.” Mendengar ucapan terima kasih dari Febi, Ian sejenak melebarkan matanya dan melihat ke arah Febi. Sejenak hatinya bergetar dengan ucapan itu tapi kemudian ia menunduk agar tatapan mereka tidak terlalu lama bertemu. Gunung es dalam hatinya sedikit bergerak mendengar ungkapan terima kasih yang hampir tak pernah ia terima. “Belum ada balasan dari Rendy,” ucapnya sambil melihat handphonenya. “Mungkin mereka masih bicara,” sambungnya. “Oo,” sahut Febi singkat. Gadis itu mulai melahap paket makan siang super mahal yang ada di hadapannya. Lagi-lagi keheningan menghampiri mereka. Febi terus sibuk melahap spageti yang ada di hadapannya itu. Tiba-tiba, “Sori kak Ian,” ucap gadis itu setelah menelan makanan yang ada dimulutnya. Ian hanya menatapnya tanpa membalas apapun. “Aku nuduh kak Ian stalker,” lanjutnya dengan suara pelan. Ian masih bungkam tak membalas apapun. Lalu Febi mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya lagi dengan perlahan karena merasa bersalah. Suasana canggung diantara mereka semakin merebak. Kedua insan itu sama-sama irit dalam berkata-kata. “Sebenarnya, … aku memang nguntit kamu,” ucapnya datar membuat Febi terperangah dan kesulitan menelan makanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN