Semester Dua: Sang Psikopat Si Penguntit?

1137 Kata
Ketika Febi sedang menunggu lembaran-lembaran tugas yang sedang dikeluarkan oleh mesin print, dia merasa Sandra yang sedang memakai komputer di meja samping kiri-depannya beberapa kali menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan dahinya. Karena terus-terusan dilihatin, Febi jadi merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk melihat balik ke arah Sandra. Begitu Febi melihat kearahnya, Sandra langsung membuka mulutnya, “Ini kamu ya?” Febi jadi penasaran apa yang dilihat Sandra di layar monitornya. Febi segera berdiri menghampiri Sandra dan melihat layar monitor Sandra. Begitu melihat layar monitor itu, Febi langsung membulatkan matanya lebar-lebar. Kemudian dengan perangkat mouse, ia men-scroll terus layar monitor itu ke bawah. Cukup lama ia memutar tombol putaran di atas mouse tersebut, “Apa ini!” Febi mengucapkannya dengan nada cukup kencang membuat orang-orang di dekatnya kaget dan mulai berdatangan. “Siapa yang ambil foto-foto ini?” tanya Febi pada Sandra yang prihatin melihat keadaan Febi. Orang-orang yang berdatangan dan melihat foto-foto yang terpampang di layar itu juga kaget. Itu semua foto-foto Febi dalam berbagai sudut, tapi semuanya diambil dari jauh. Tidak hanya foto wajah Febi, tapi bahkan ada foto-foto yang hanya terlihat kaki Febi yang sedang berjalan juga foto-foto yang hanya mengambil bagian pinggang Febi. Wajah Febi memucat. Ini stalking! Febi teringat ia selalu merasa diikuti dalam perjalanan pulang ke kost. Siapa? Siapa yang melakukan ini? Apa tujuan orang ini terus mengambil foto sebanyak ini? Sebagian orang-orang yang melihat foto-foto itu juga mulai bergidik. Suasana jadi semakin ribut mempertanyakan perbuatan siapa ini. Lalu Febi dengan cepat berusaha menghapus semua file foto-foto itu dari komputer tersebut. Dengan wajah memucat febi segera keluar dari ruangan itu dan menuju ke kelas ujian. Ia berusaha untuk tetap fokus pada ujiannya tapi begitu sulit. Tidak bisakah fokus pada kuliah? Kenapa harus ada kejadian-kejadian yang selalu berusaha merenggut konsentrasinya dari impiannya.  Sementara kasus ini telah tersebar dan menjadi pembicaraan di seluruh FH, Febi hanya bisa menangis meratapi kejadian yang menimpanya. Ia mengunci diri di dalam kamar kostnya dan tidak mengangkat setiap telpon yang berdatangan kepadanya. Jennifer terus berusaha menelponnya tapi Febi hanya terpaku berdiam dalam kamarnya yang gelap. Saat ini ia hanya bisa terbaring lemas menatap langit-langit kamarnya.  “Kok nggak diangkat sih?” keluh Jennifer yang sudah puluhan kali berusaha menelpon Febi. Di depan Jennifer, duduk Rendy yang ikut kuatir akan keadaan Febi. Makanan di depan mereka masih belum banyak disentuh sementara Jennifer tidak putus asa terus menghubungi sahabatnya. Tapi karena usahanya itu tak kunjung memperlihatkan hasil, Jennifer menarik nafas panjang dan menghelanya cepat. “Gimana ini? Kalo ada apa-apa gimana?” ucap Jennifer menunjukkan kekuatirannya. Melihat keadaan gadis cantik di depannya yang tidak fokus pada acara dinner mereka, Rendy memutuskan untuk mengakhiri kekuatiran Jennifer dengan mengajaknya pergi ke tempat kost Febi. Rendy lalu berdiri, “Kita ke tempat Febi aja!” ajaknya sambil berlalu menuju ke pintu keluar restoran. Jennifer terkesima melihat sikap Rendy yang turut bersimpati pada keadaannya dan segera mengikuti langkah Rendy. Mobil sedan hitam yang dikendarai Rendy segera meluncur meninggalkan resto tempat mereka makan. Tak berapa lama kemudian, sedan hitam itu tiba di dekat g**g kecil, jalan menuju ke kost Febi. “Di sini, disini,” ucap Jennifer sambil terus memperhatikan g**g kecil dan gelap yang semakin mereka dekati itu. “Mana?” Rendy kebingungan mencari jalan mana yang dimaksud oleh gadis tomboi yang disukainya itu. “Itu, g**g di depan itu lo!” ucap Jennifer lagi sambil menunjuk ke arah kiri, ke arah g**g yang tidak terlalu kelihatan karena begitu gelap dan sempit. “Ya ampun! Ada g**g toh disini,” keluh Rendy sambil meminggirkan mobilnya ke kiri dan memarkirkannya di depan g**g tersebut. Kemudian mereka berjalan berdua memasuki g**g sempit itu. Suasana begitu hening…hanya terdengar suara langkah kaki mereka. Tiba-tiba Rendy membuka suaranya, “g**g ini gelap banget.” “Mana di depan situ gak ada rumah-rumah lagi, bahaya banget,” lanjutnya sambil memandang sekeliling g**g mencoba mengamati situasi. Jennifer tidak berkata apa-apa karena menyetujui apa yang dikatakan Rendy. Sesampainya di depan pintu kamar kost sahabatnya, Jennifer langsung mengetuk beberapa kali tanpa sungkan. “Febi!” panggilnya. “Febi kamu di dalam gak?” panggilnya lagi. Pintu terbuka perlahan, muncul sosok seorang gadis mungil bercelana pendek dan atasan kaos oblong. Rambutnya yang pendek dan kusut, matanya sembap seperti habis menangis. “Febi…” panggil Jennifer jadi ikut menitikkan air matanya. Jennifer langsung memeluknya dan gadis itu membiarkan dirinya dipeluk erat oleh sahabat terkasihnya itu. Melihat adegan itu Rendy jadi canggung dan terdiam. “Lu sama sekali gak kepikiran siapa yang stalking?” tanya Jennifer dengan penuh antusias setelah masuk ke dalam kamar Febi dan duduk di ranjang sahabatnya itu. “Nope,” jawab Febi singkat sambil menyediakan 2 gelas air putih dan menyuguhkannya kepada 2 orang temannya yang sedang berkunjung itu. Rendy mengangkat kepalanya dan sedikit melirik keatas. Pria itu terlihat berpikir. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya mengetahui pelaku stalking. “Kita bisa liat cctv ruang komputer sih,” celetuknya tiba-tiba membuat Febi dan Jennifer bersamaan menoleh ke arahnya. “Kita liat siapa yang duduk di situ sebelum Sandra,” lanjutnya lagi. Lalu Jennifer tersenyum pada Febi dengan penuh harapan. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka bertiga sudah terlihat sibuk di gedung sekuriti memohon agar diijinkan melihat rekaman cctv kemarin, rekaman hari rabu pagi.  “Lu ada di situ sebelum ujian jam setengah sembilan kan?” tanya Rendy pada Febi. “Iya, agak lebih pagi sih. Mungkin jam setengah delapan-an gitu” jawab Febi. Rendi terus mencermati rekaman yang sedang ditampilkan di monitor. “Nah, itu Sandra,” teriak Jennifer. Lalu Rendy segera memundurkan rekaman beberapa saat sebelum Sandra masuk. Terlihat gambar rekaman bergerak mundur dengan sangat cepat. Akhirnya mereka tiba pada menit-menit sebelum Sandra masuk dan duduk di kursi itu. Mereka begitu terkejut melihat siapa yang duduk di meja komputer yang sama dengan Sandra sebelum gadis itu duduk di sana. “Kak Ian…” ujar Febi lemah. Apa lagi ini? Apa sebenarnya Ian itu? Mungkinkah dia benar-benar psikopat? Karena shock, gadis itu segera pergi meninggalkan 2 orang temannya itu tanpa berkata apa-apa. Rendy hanya diam melihat punggung Febi yang menghilang di balik pintu ruangan sekuriti. Rendy mengernyitkan dahinya mencoba memahami motivasi di balik tindakan teman SMAnya itu. Febi berusaha mengingat kepingan-kepingan peristiwa yang telah ia alami dan mencoba menyatukannya menjadi satu gambaran utuh. Selama ini ia terus merasa diikuti. Sikap Ian yang begitu memusuhinya dan tatapannya yang begitu dingin. Tindakan-tindakan Ian yang tidak bisa ditebak dan keterlaluan terhadapnya. Ian yang sengaja membuat Febi terlambat kumpul tugas sehingga dapat nilai C. Kemarin lusa, kenapa Ian bisa pas ada di g**g itu tolongin Febi? Kalau bukan orang yang tinggal di dalam g**g itu tidak mungkin lewat situ karena itu adalah g**g buntu. Dan apakah 2 orang yang menggodanya itu benar-benar tidak ada relasi sebelumnya dengan Ian? Yang memakai komputer itu sebelum Sandra adalah Ian. Semua kepingan-kepingan itu merujuk kepada satu orang…IAN.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN