Restoran itu terlihat sangat ramai, sedangkan Mayra tengah menunggu sendirian di salah satu ruangan VVIP, menunggu para dewan direksi, membahas tentang hak dan kewajiban suaminya yang selama ini di nilai tidak memenuhi integritas seorang pemimpin masa depan. Mayra melihat meja bundar yang masih begitu kosong, hanya ada beberapa peralatan makan seperti cangkir, piring dan beberapa sendok, terdengar suara denting di luar sana, restoran ini memang di kenal begitu luar biasa, menyajikan makanan yang benar-benar enak dan bisa menggugah selera. Mayra mengecek jam tangannya, malam sudah menunjukkan pukul 9, namun para direksi belum juga datang. Sesaat kemudian, Tenly membuka pintu ruangan dan membungkuk menghampiri suami atasannya. “Bagaimana, Ten? Apa kamu sudah bisa menghubungi mereka?” tanya

